Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Yang Bersemi dalam Hati Penyejuk Hati

Yang Bersemi dalam Hati Penyejuk Hati

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)
Mengenalkan Allah I kepada anak harus dilakukan sedini mungkin.  Tujuannya agar anak memiliki aqidah yang shahih yang tertanan kuat dlm hatinya. Banyak teladan dari Rasulullah r yang bisa kita terapkan utk tujuan ini.
Menyaksikan anak-anak tumbuh dlm sepenuh kebahagiaan. Melambung seluruh harapan yang terindah utk mereka. Teriring permohonan kepada Rabb seluruh alam, dlm bisikan, “Duhai Rabbku, jadikan mereka penyejuk hati kami.”
Harapan bukanlah sekedar sepenggal harapan. Melalui kedua tangan ayah & bundalah tertuai harapan dlm kenyataan, dgn mengingat kembali sabda Rasulullah r yang disampaikan oleh Abu Hurairah z:
“Setiap anak terlahir di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sebagaimana hewan, tentu akan melahirkan hewan pula yang sempurna. Adakah engkau melihat hewan itu telah terpotong telinganya?” (HR. Al-Bukhari no. 1385 & Muslim no. 2658)
Sesosok anak yang tumbuh di atas fitrah yang selamat itu akan menerima segala kebaikan & keburukan, sehingga tentu dia teramat membutuhkan uluran tangan kedua orang tuanya utk mengajari, mendidik, & membimbing dgn bimbingan yang benar di atas lempang jalan Islam. (Al-Intishar li Huquqil Mu’minat, hal. 25)
Sebagian orang beranggapan bahwa tanggung jawab utk mendidik anak hanya semata terbeban di pundak ibu, sementara ayah tak lain hanya dituntut utk mencukupi kebutuhan materi istri & anak-anaknya. Demikianlah yang ada, hingga yang terjadi kadangkala seorang ayah lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah dgn segudang kesibukan pekerjaan atau bersama teman-temannya. Tatkala kembali ke tengah keluarga, dia pun segera duduk menyendiri di kamar, sembari memperingatkan istrinya agar tak membolehkan anak-anak membuyarkan lamunan atau bunga tidurnya. Padahal kenyataan sesungguhnya, seorang ayah pun mempunyai peran yang begitu besar dlm pendidikan anak-anaknya. (Al-Intishar li Huquqil Mu’minat, hal. 14)
Oleh karena itu, tak diragukan lagi bahwa ayah & ibu harus bahu-membahu utk mendidik anak-anak mereka. Andai salah satu dari mereka melalaikan tanggung jawab ini, tentu akan terjadi ketimpangan, kecuali apa yang Allah kehendaki. (Nashihati lin Nisa, hal. 64)
Satu kisah indah dapat diambil sebagai teladan, agar orang tua memiliki gambaran tentang langkah awal dlm rentang perjalanan pendidikan buah hati mereka. Kisah Luqman yang ternukil dlm Kitab-Nya yang mulia:
“Dan ketika Luqman berwasiat kepada anaknya, ‘Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah suatu kedzaliman yang besar.” (Luqman: 13)
Nampaklah dari kisah ini, Luqman mengawali wasiat kepada buah hatinya dgn tauhid & memberikan peringatan agar tak menyekutukan Allah, karena hal itu dapat menggugurkan amalan. (Kaifa Nurabbi Auladana, hal. 9)
Inilah kewajiban yang dipikul oleh ayah & ibu sebagai pendidik & pengajar anak-anak mereka. Mereka berdua harus mengajari anak mengucapkan kalimat () & memahamkan makna kalimat tersebut kelak ketika anak beranjak dewasa. Demikian pula menanamkan kecintaan & keimanan kepada Allah di dlm sanubari mereka, bahwa Allah sajalah pencipta, pemberi rizki, & penolong saat berada dlm kesusahan, tak ada sekutu bagi-Nya. Begitu pun mengajarkan mereka utk meminta & memohon pertolongan kepada Allah semata. (Kaifa Nurabbi Auladana, hal. 23)
Al-Imam Ibnul Qayyim juga memberikan bimbingan dlm hal ini, “Ketika tiba saat anak dapat berbicara, mereka dituntun utk mengucap () & jadikan yang pertama kali mengetuk pendengarannya adalah pengenalan kepada Allah I, pengesaan-Nya, & Allah di atas ‘Arsy-Nya, Allah melihat & mendengar segala ucapan mereka, Dia selalu bersama mereka di mana pun berada.” (Tuhfatul Maudud, hal. 195)
Banyak cara dapat ditempuh utk menjelaskan hal ini kepada anak. Adakalanya – bila  anak masih kecil– dgn menuntun anak mengucapkan nama Allah, sembari mengisyaratkan tangan ke arah langit. (Nashihati lin Nisa, hal. 65)
Adakalanya pula dgn menuturkan berbagai kisah. Di antara banyak kisah, ada kisah tentang seorang sahaya wanita yang diceritakan oleh pemilik hamba sahaya itu, Mu’awiyah ibnul Hakam As-Sulami z:
“Aku memiliki seorang sahaya wanita yang biasa menggembala kambing-kambingku di sekitar bukit Uhud & Jawaniyah. Suatu hari, aku menengoknya. Ternyata seekor serigala telah membawa lari salah seekor kambingku, & aku ini adalah seorang anak Adam yang bisa bergejolak kemarahannya sebagaimana orang lain bisa bergejolak kemarahannya. Maka saat itu aku pun memukulnya. Lalu aku datang kepada Rasulullah r & beliau pun menganggap besar perbuatan yang kulakukan. Aku  berkata, ‘Ya Rasulullah, apakah kubebaskan saja dia?’ Beliau berkata, ‘Bawa dia kemari.’ Setelah sahaya wanita itu dibawa kepada beliau, beliau  bertanya, ‘Di mana Allah?’ Sahaya wanita itu menjawab, ‘Di atas langit.’ Beliau bertanya lagi, ‘Siapa aku?’ Dia menjawab, ‘Engkau adalah utusan Allah.’ Mendengar jawaban itu, Rasulullah r bersabda, ‘Bebaskan dia, karena dia adalah seorang wanita yang beriman’.” (HR. Muslim, no. 537) [Kaifa Nurabbi Auladana, hal. 17]
Banyak kisah yang sarat dgn gambaran keimanan ternukil dlm kitab-kitab goresan tinta para ulama.
Tatkala akal mereka mulai bisa mencerna, mereka pun diajarkan tentang rukun Islam, rukun iman & rukun ihsan. Tentang ini semua, terangkum dlm kisah Jibril u ketika datang di hadapan Rasulullah r utk mengajarkan dasar-dasar agama ini kepada para shahabat. ‘Umar ibnul Khaththab z mengisahkan:
Suatu hari, ketika kami duduk bersama Rasulullah r. Tiba-tiba, datang seorang laki-laki yang pakaiannya sangat putih bersih & teramat hitam legam rambutnya. Tak satu pun dari kami yang mengenalinya, namun tak terlihat pula tanda-tanda perjalanan jauh dari dirinya. Kemudian dia duduk di hadapan Nabi r, lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau & meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, & bertanya, ‘Wahai Muhammad, beritahukan padaku tentang Islam!’ Rasulullah r pun menjawab, ‘Islam itu engkau bersaksi bahwa tak ada sesembahan yang berhak utk disembah kecuali Allah & Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan puasa Ramadhan & menunaikan haji ke Baitullah apabila engkau mampu melaksanakannya.’ Dia berkata, ‘Engkau benar.’ Kami merasa heran terhadapnya, dia yang bertanya, dia pula yang membenarkan. Dia bertanya lagi, ‘Beritahukan padaku tentang iman.’ Beliau menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, & hari akhir, serta engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.’ Dia berkata, ‘Engkau benar.’ Dia bertanya, “Beritahukan padaku tentang ihsan.” Beliau menjawab, ‘Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Kalau engkau tak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.’ Dia berkata lagi, ‘Beritahukan padaku tentang hari kiamat.’ Beliau menjawab, ‘Orang yang ditanya tak lebih tahu daripada orang yang bertanya.’ Dia bertanya, ‘Kalau begitu, beritahukan padaku tentang tanda-tandanya.’ Beliau menjawab, ‘Seorang budak melahirkan tuannya & engkau melihat orang-orang yang bertelanjang kaki, tak berbaju, dari kalangan orang-orang fakir yang menggembala kambing saling berlomba meninggikan bangunan.’ Kemudian orang itu pun pergi & aku pun diam selama beberapa saat. Lalu Nabi r bertanya, ‘Wahai ‘Umar, tahukah engkau, siapa yang  datang itu?’ Aku pun menjawab, ‘Allah & Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau menjawab, ‘Dia adalah Jibril. Dia datang utk mengajari kalian tentang agama kalian’.” (HR. Muslim no.
Yang mesti diketahui, tahapan ini tak dapat dipastikan dgn batasan usia, karena kepandaian & kecerdasan anak berbeda-beda. (Nashihati lin Nisa, hal. 65)
Demikian pula Rasulullah r dikenal sebagai sosok yang mencintai anak-anak & mencintai kebaikan bagi umat beliau. Pengajaran beliau kepada anak-anak senantiasa dikenang & diambil sebagai teladan. Inilah penuturan Abdullah ibnu ‘Abbas c ketika Rasulullah r memberikan pengajaran agar keimanan itu tertanam dlm hatinya:
“Suatu hari, aku membonceng di belakang Nabi r, lalu beliau berkata kepadaku, “Wahai anak, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah, & apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini berkumpul utk memberikan manfaat kepadamu, mereka tak akan dapat memberikannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul utk menimpakan mudharat kepadamu, mereka tak akan dapat menimpakannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena, & telah kering lembaran-lembaran.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi & beliau berkata: hadits hasan shahih1). Dalam riwayat selain At-Tirmidzi: “Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Kenali Allah dlm keadaan lapang, niscaya Dia akan mengenalimu dlm keadaan susah. Ketahuilah, sesungguhnya apa yang ditetapkan luput darimu tak akan menimpamu, & apa yang ditetapkan menimpamu tak akan luput darimu. Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesusahan, & bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
Beliau ajarkan kepada anak-anak utk taat kepada Allah & menjauhi maksiat kepada-Nya, yang semua itu akan menggiring kebahagiaan di dunia & akhirat. Beliau tanamkan aqidah tauhid dlm jiwa mereka dgn mengajarkan utk meminta & memohon pertolongan kepada Allah semata. Beliau tancapkan dlm hati mereka aqidah keimanan terhadap takdir yang baik & yang buruk. Beliau didik mereka di atas optimisme, agar kelak mereka akan dapat menghadapi kehidupan dgn penuh keberanian & pengharapan, sehingga mereka menjadi sesosok pribadi yang dapat memberikan manfaat bagi umat ini. (Kaifa Nurabbi Auladana, hal. 13)
Inilah langkah demi langkah menyemai benih keimanan hingga bersemi dlm sanubari sang permata hati. Semogalah nanti akan berbuah kebahagiaan baginya di dunia ini hingga di negeri yang kekal abadi.
Wallahu a’lamu bish-shawab.

1 Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dlm Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/2043, & Al-Misykat no. 5302.

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 008

Under Category Uncategorized