Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Tata cara Makan dan Minum yang Islami

Tata cara Makan dan Minum yang Islami

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)
Makan atau minum dgn tangan kiri, bagi kebanyakan orang, sudah menjadi hal yang biasa. Namun dlm Islam, perbuatan jelek ini bukan permasalahan yang ringan. Setidaknya, makan & minum dgn tangan kiri adalah perbuatan yang menyerupai setan. Sehingga merupakan perkara yang penting utk mengajari anak bagaimana makan & minum sesuai tuntunan Nabi, karena bila terlambat melakukannya, anak akan susah dibetulkan.

Pada edisi yang telah lewat dgn judul Makan Ala Islam, kita mengetahui betapa sempurna agama Allah I & betapa indah ajarannya, yang tentu tak dimiliki oleh agama lain. Keindahan itu akan bisa dirasakan apabila seseorang kembali kepada jalan Rasulullah SAW & jalan para shahabat beliau di dlm memahami, mengamalkan & mendakwahkan Islam.
Orang banyak berceloteh & menyuarakan harus kembali kepada Islam yang kaffah (sempurna), namun kenyataannya mereka tetap mendahulukan akal daripada agama, lebih mendahulukan perasaan, adat istiadat, ajaran nenek moyang, ajaran imam jamaah tertentu, bahkan mendahulukan konsep-konsep dari Barat yang jelas bertentangan dgn norma-norma Islam. Ternyata kaffah yang mereka maukan tak seperti yang dimaukan oleh para Ulama Salaf seperti Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Abul ‘Aliyah, ‘Ikrimah, Rabi’ bin Anas As-Suddi, Muqatil bin Hayyan, Qatadah & Adh- Dhahhak yaitu Islam yang bersifat menyeluruh yang dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dgn perkataan: “Mereka diperintahkan utk melaksanakan seluruh cabang keimanan & seluruh anjuran syariat. Dan (cabang-cabang keimanan) banyak sekali & (mereka masuk ke seluruhnya) sesuai dgn kesanggupan mereka.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/308)
Beliau mengatakan: “Allah memerintahkan kepada segenap hamba-Nya yang beriman & yang membenarkan risalah Rasulullah SAW agar mereka mengambil seluruh sendi Islam, melaksanakan segala perintah-Nya & menjauhi segala apa yang dilarang-Nya sesuai dgn kesanggupan mereka (kesanggupan menurut syariat).” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/307)
Termasuk keindahan & kesempurnaan agama adalah adanya aturan-aturan & adab di dlm makan & minum. Di antara adab-adabnya antara lain:
Makan Secara Berjamaah
Sudah barang tentu bahwa termasuk yang dicintai oleh Allah I adalah makan berjamah karena makan dgn cara ini akan menyebabkan turunnya barakah dari Allah SWT Rasulullah SAW bersabda sebagaimana dlm riwayat Jabir z:
“Makanan yang paling dicintai oleh Allah adalah bila banyak tangan (berjamaah pada makanan tersebut).”1
Rasulullah SAW bersabda:
“Dari Wahsyi bahwa mereka (para shahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan & tak pernah kenyang?” Rasulullah SAW bersabda: “Jangan-jangan kalian makan berpencar?” Mereka menjawab: “Iya.” Beliau bersabda: “Berjamaahlah kalian pada makan kalian & bacalah nama Allah niscaya Allah akan menurunkan barakah.”2
Rasulullah SAW bersabda:
“Dari Samurah bin Jundub, ia berkata: “Di saat kami bersama Rasulullah SAW, kami saling bergantian menyantap hidangan di sebuah tempayan sepuluh orang-sepuluh orang, mulai dari pagi hari sampai malam hari. Kami berkata: “Darimana bertambah & banyak?” Beliau berkata: “Kenapa kamu heran! Tidak ada yang menjadikannya bertambah banyak melainkan dari sini (beliau mengisyaratkan tangannya ke langit).”3
Demikianlah bimbingan Rasulullah SAW dlm masalah makan secara berjamaah. Hadits ini di samping menjelaskan tentang  fadhilah (keutamaan) makan secara berjamah, juga menjelaskan tentang keutamaan bersatu.
a.    Adab Menyantap Hidangan
1.    Makan & minum dgn tangan kanan
Makan & minum dgn tangan kanan adalah wajib, & berdosa bila seseorang makan & minum dgn tangan kiri karena beberapa perkara:
Pertama, menyelisihi perintah Allah I & Rasul-Nya, & menyelisihi perintah Allah I & Rasulullah SAW termasuk dari dosa besar. Allah I berfirman:
“Apa saja yang datang dari Rasulullah maka ambillah & apa saja yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7)
Rasulullah SAW bersabda:
“Apa yang aku larang kalian maka tinggalkanlah, & apa yang aku perintahkan kalian, maka kerjakanlah sesuai dgn kesanggupan kalian.”4
“ Dijadikan rendah & hina orang-orang yang menyelisihi perintahku.”5
Kedua, mengikuti langkah-langkah setan & tasyabbuh (menyerupai) dgn mereka.
Allah I berfirman:
“Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya dia adalah musuh yang nyata bagi  kalian.” (Al-Baqarah: 168)
Rasulullah SAW bersabda, bahwa Allah berfirman:
“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-Ku dlm keadaan seluruhnya lurus & sesungguhnya setan telah mendatangi mereka lalu menyesatkannya dari agama mereka, (dengan cara) mengharamkan apa yang Aku halalkan bagi mereka & memerintahkan mereka utk menyekutukan-Ku dgn apa yang  tak pernah Aku turunkan keterangannya.”6
Ketiga, tasyabbuh dgn akhlak orang-orang kafir. Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka.”7
Demikianlah beberapa ayat & hadits Rasulullah SAW  yang menjelaskan tentang bahayanya seseorang menyelisihi Rasulullah SAW, & bila dia menyelisihi Rasulullah SAW mesti akan menjadi atba’ (pengikut) para setan karena Allah I mengatakan:
“Tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan, bagaimana kalian bisa dipalingkan.” (Yunus: 32)
Di antara dalil yang menjelaskan wajibnya makan dgn tangan kanan & haramnya makan dgn tangan kiri adalah sebagai berikut:
“Apabila salah seorang dari kalian makan, maka hendaklah makan dgn tangan kanan & apabila dia minum, minumlah dgn tangan kanan. Karena setan apabila makan dia makan dgn tangan kiri & apabila minum, dia minum dgn tangan kiri.”8
Rasulullah SAW memerintahkan kepada ‘Umar bin Abi Salamah z:
“Hai nak, sebutlah nama Allah & makanlah dgn tangan kanan…”9
Rasulullah SAW berkata kepada seorang wanita yang sedang makan dgn tangan kirinya:
“Jangan kamu makan dgn tangan kiri, sesungguhnya Allah telah menjadikan bagimu tangan kanan atau beliau berkata: Sungguh Allah telah memberimu tangan kanan.”10
Bagi kedua orang tua & para murabbi (pengajar) hendaklah memperhatikan anak didiknya & hendaklah menjadi suri teladan yang terbaik bagi mereka. Jadilah orang yang pertama kali melaksanakan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah I  & Rasul-Nya Muhammad n. Karena kebanyakan orang tua atau murabbi justru menjadi madrasah awal bagi sang anak utk berani berbuat durhaka kepada Allah I & Rasul-Nya n, kecuali orang-orang yang diberikan taufiq oleh Allah SWT
Diwajibkan bagi mereka setelah memberikan contoh yang baik utk membimbing anak-anak didik tersebut  ke jalan ridha Allah I, utk menegur mereka bila makan & minum dgn tangan kiri, karena yang demikian itu termasuk dari akhlak & adab yang tak baik. Semua itu akan menggiring mereka menuju akhlak yang baik & terpuji sedini mungkin. Karena pendidikan akhlak yang baik & memperhatikan adab yang shalih akan mudah mendapatkan tanggapan positif dari sang anak.
2. Makan dari arah pinggir & di sekitarnya
Makan dari arah pinggir atau tepi & memakan apa yang ada di sekitarnya (yang paling dekat dengannya) merupakan bimbingan Rasulullah SAW, & pada bimbingan beliau terkandung barakah serta merupakan penampilan adab yang baik. Rasulullah SAW bersabda:
“Jika makanan diletakkan, maka mulailah dari pinggirnya & jauhi (memulai) dari tengahnya, karena sesungguhnya barakah itu turun di tengah-tengah makanan.”11
Rasulullah SAW berkata kepada ‘Umar bin Abi Salamah:
“Wahai anak! Sebutlah nama Allah & makanlah dgn tangan kanan & makanlah yang ada di sekitarmu (di dekatmu).”
Hadits ini menjelaskan tentang tak bolehnya menjulurkan tangan & badan sehingga mengganggu yang lain. Hendaknya ia meminta agar diambilkan oleh saudaranya apa yang diinginkannya. Dikecualikan dlm hal ini -artinya boleh dia makan yang bukan di sekitarnya- pada dua keadaan, sebagaimana yang telah disebutkan oleh para ulama:
Pertama, apabila dia mengetahui bahwa yang hadir tak mempedulikan hal itu atau tak marah, maka diperbolehkan. Anas bin Malik z bercerita:
“Seorang penjahit mengundang Rasulullah SAW utk makan, lalu aku pergi bersama Rasulullah SAW & aku melihat beliau mencari-cari labu di pinggir nampan.”12
Kedua, apabila ada lauk pauk yang beraneka ragam & tak akan sampai tangannya melainkan dgn mengulurkannya.13
2.    Duduk saat makan
Islam mengajarkan bagaimana cara duduk yang baik ketika makan yang tentu hal itu telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW. Sifat duduk Rasulullah SAW ketika makan telah diceritakan oleh Abdullah bin Busr z:
“Nabi memiliki sebuah qash’ah (tempat makan/ nampan) & qash’ah itu disebut Al-Gharra` & dibawa oleh empat orang. Di saat mereka berada di waktu pagi, mereka Shalat Dhuha, lalu dibawa  qash’ah tersebut –dan padanya ada tsarid (sejenis roti)–  mereka mengelilinginya. Tatkala semakin bertambah (jumlah mereka), Rasulullah SAW duduk di atas kedua betis beliau. Seorang A’rabi (badui) bertanya: “Duduk apa ini, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku dijadikan oleh Allah sebagai hamba yang dermawan & Allah tak menjadikan aku seseorang yang angkuh & penentang.”14
Kenapa Rasulullah SAW duduk dgn jatsa (di atas kedua lutut & kaki)? Ibnu Baththal mengatakan: “Beliau melakukan hal itu sebagai salah satu bentuk tawadhu’ beliau.” (Fathul Bari, 9/619)
Makan dgn Cara Muttaki`
Rasulullah SAW bersabda:
“Aku tak makan dgn cara muttaki`.”15
Apa yang dimaksud dgn muttaki`?
Terjadi khilaf di kalangan para ulama tentang maknanya. Ada yang mengatakan: “Rakus dlm makan, bagaimanapun sifat duduknya.” Di antara mereka ada yang mengatakan: “Duduk di atas lambung sebelah.” Di antara mereka ada yang mengatakan: “Bertopang dgn tangan kirinya ke tanah.” Ada yang mengatakan: “Tidur terlentang.” (lihat Fathul Bari, 9/619)
Asy-Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali merajihkan (menguatkan) pendapat yang mengatakan bahwa muttaki` adalah tidur di atas lambung sebelah, beliau mengatakan, ini adalah makna yang benar & dikuatkan dgn ucapan seorang shahabat.  Tadinya Rasulullah SAW duduk muttaki` lalu beliau duduk, artinya miring di salah satu lambung & makna yang disebutkan oleh Al-Khaththabi adalah marjuh (tidak kuat).” Lihat Bahjatun Nazhirin no.746, 2/62)
Bagaimana Hukum Makan dgn Cara Ini?
Terjadi khilaf di kalangan ulama salaf tentang permasalahan ini. Ibnu Qash mengatakan bahwa ini merupakan kekhususan bagi Nabi n. Al-Baihaqi mengomentari ucapannya: “Juga dimakruhkan bagi selain Rasulullah SAW karena makan dgn cara demikian merupakan penampilan orang-orang yang menyombongkan diri & perbuatan raja-raja Romawi.”
Al-Imam An-Nawawi  t mengatakan makruh makan dgn cara muttaki`. Disebutkan alasan dimakruhkannya oleh Ibrahim An-Nakha’i dgn mengatakan: “Mereka membenci makan dgn muttaki` karena akan mengakibatkan perut menjadi besar.”
Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Khalid bin Al-Walid, ‘Ubaidah As-Salmani, Muhammad bin Sirin, ‘Atha` bin Yasar & Az-Zuhri tentang kebolehan makan dgn cara demikian.
Al-Hafizh Ibnu Hajar menengahi semua pendapat tersebut dgn mengatakan: “Kalau seandainya hukumnya makruh atau menyelisihi yang lebih utama, maka cara duduk yang disunnahkan ketika makan adalah duduk dgn jatsa. Artinya duduk di atas kedua lutut & kedua punggung kaki, atau mendirikan kaki yang kanan & duduk di atas kaki kiri.” (lihat Fathul Bari, 9/620)
Wallahu a’lam.

1 Diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dlm Musnad-nya & selain beliau & hadits ini dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dlm kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 2/562, no. 895
2 Dikeluarkan oleh Ibnu Majah no. 3286 & Asy-Syaikh Al-Albani menghasankannya di dlm kitab Shahih Sunan Ibnu Majah, 2/228, no. 2657 & di dlm kitab Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, 2/268, no. 664
3 Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi no. 3886 beliau berkata: “Hadits shahih hasan.” Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil di dlm kitab beliau Al-Jami’ush Shahih (4/188) dgn mengatakan haditsnya shahih berdasarkan syarat kedua syaikh (Al-Imam Al-Bukhari & Al-Imam Muslim) & dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dlm kitab Shahih Sunan At-Tirmidzi no 2866, 3/192 & di dlm kitab Al-Misykat no. 5958.
4 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari & Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairahz
5 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari di dlm Shahih beliau secara mu’allaq (bersambung sampai ke shahabat) & Al-Imam Ahmad di dlm Musnad beliau no. 4868 dari shahabat Ibnu ‘Umar c.
6 Dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim no. 5109 dari shahabat ‘Iyadh bin Himar z
7 Dikeluarkan oleh Abu Dawud no. 3513 & Al-Imam Ahmad no. 5409 dari shahabat Ibnu ‘Umar c
8 Dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim no. 5332 dari shahabat Ibnu ‘Umar c
9 Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 5376, Al-Imam Muslim no. 3736, Al-Imam Ahmad no. 15738 & Al-Imam Ibnu Majah no. 3258.
10 Dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad no. 16756  dari seorang imra`ah shahabat Nabi (istri shahabat), & dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dlm kitab Jilbabul Mar`ah Muslimah, hal. 71 cet. Maktabah Al-Islamiyah.
11 Diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Majah no. 3277 dari shahabat Ibnu ‘Abbas & Al-Imam Ahmad no. 3268 dari shahabat Abdullah bin Bisir Al-Mazini, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dlm kitab Shahih Sunan Ibnu Majah no. 2650 & di dlm kitab  Al-Irwa`ul Ghalil no. 1980 & 1981, 7/34-39, Al-Misykat no.4211 & Ash-Shahihah no. 393
12 Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 5379 & Muslim
13 Memang ada hadits yang menjelaskan hal ini dlm riwayat At Tirmidzi namun haditsnya lemah, demikianlah istimbat (pengambilan hukum) ulama & ijtihad mereka.
14 Dikeluarkan oleh Abu Dawud di dlm Sunan beliau no. 3773 & dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dlm kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3207 & di dlm Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3263
15 Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 5398, Al-Imam At-Tirmidzi no. 1753,  Al-Imam Abu Dawud, Al-Imam Ibnu Majah no. 3253, Al-Imam Ahmad no. 18005 & Al-Imam Ad-Darimi no. 1982 dari shahabat Abu Juhaifah

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 017

Under Category Uncategorized