Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Taqwa dan Keutamaannya

Taqwa dan Keutamaannya

KHUTBAH PERTAMA:
الْحَمْدُ لِلهِ حَمْداً كَثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَوَاتُ رَبِّي وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memerintahkan hamba-hamba-Nya utk bertakwa kepada-Nya & menjanjikan berbagai keutamaan bagi siapa saja yang menjalankannya. Saya bersaksi bahwasanya tak ada yang diibadahi dgn benar selain Allah l, & saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad n adalah hamba & utusan-Nya. Shalawat & salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga & para sahabatnya serta seluruh kaum muslimin yang senantiasa mengikuti petunjuknya.
Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dgn sebenar-benar takwa. Takwa adalah sebab yang akan membuat seseorang memperoleh kebaikan di dunia & akhirat. Sebaliknya, tak bertakwa akan mendatangkan kesulitan & bencana. Oleh karena itu, kita semuanya & seluruh muslimin sesungguhnya sangat butuh akan takwa. Allah SWT telah menyebutkan di dlm Al-Qur’an, ayat-ayat yang berkaitan dgn takwa & keutamaannya, begitu pula Rasulullah SAW di dlm hadits-haditsnya. Maka takwa merupakan wasiat Allah SWT & Rasul-Nya yang harus dipahami maksudnya & senantiasa dijaga serta dijalankan oleh setiap muslim. Bukan sekadar kalimat yang selalu didengar atau diucapkan namun tak diperhatikan & tak ada wujudnya.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Para ulama telah menjelaskan definisi takwa dgn berbagai ungkapan yang berbeda-beda namun semuanya kembali pada maksud yang sama. Yaitu agar seseorang membuat penghalang yang membentengi & menjaga dirinya dari terkena kemarahan & azab Allah l. Sesuatu yang akan menjadi penghalang serta menjaga seseorang dari terkena azab Allah l, tak lain adalah dgn menjalankan perintah-perintah-Nya & menjauhi segala larangan-Nya.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwasanya fondasi dari ketakwaan seseorang kepada Allah SWT adalah persaksiannya terhadap dua kalimat syahadat. Persaksian terhadap dua kalimat syahadat ini bukanlah sekadar diucapkan dgn lisan. Namun juga harus dipahami maknanya serta diamalkan kandungannya. Sehingga siapa saja yang telah bersaksi dgn dua kalimat syahadat ini, dia harus meninggalkan & berlepas diri serta meyakini batilnya segala bentuk peribadatan kepada selain Allah SWT & mengarahkan segala bentuk ibadahnya hanya kepada Allah SWT saja. Begitu pula dia harus mengimani bahwa Muhammad bin ‘Abdillah ibn ‘Abdul Muththalib n adalah hamba Allah SWT & utusan-Nya. Yaitu dia meyakini bahwa beliau adalah seorang hamba yang tak boleh diibadahi, sekaligus beliau seorang Rasul yang tak boleh didustai. Disamping itu, dia juga harus meyakini bahwa Nabi Muhammad n adalah penutup para nabi yang diutus oleh Allah SWT utk seluruh manusia & jin. Sehingga tak ada satu pun yang hidup setelah diutusnya beliau n kecuali harus membenarkan seluruh ajarannya & mengikuti agamanya. Nabi bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya –yakni demi Allah– tidaklah satu pun yang telah mendengar tentang aku dari umat ini baik dari kalangan Yahudi & tak pula dari kalangan Nasrani, kemudian dia meninggal dlm keadaan tak beriman dgn agama yang aku diutus dengannya, kecuali (dia) termasuk dari penghuni neraka.” (HR. Muslim)
Hadirin rahimakumullah,
Termasuk konsekuensi dari dua kalimat syahadat adalah harus mencintai Allah SWT & Rasul-Nya lebih dari cintanya kepada selain keduanya. Rasulullah SAW bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidaklah sempurna iman salah seseorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada (cintanya kepada) anaknya, orang tuanya, & manusia seluruhnya.” (HR. Muslim)
Disamping itu, dua kalimat syahadat juga mengharuskan orang yang mengucapkannya utk mencintai saudaranya sesama muslim yang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah l. Nabi bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga perkara, yang apabila seseorang itu memilikinya maka dia dgn sebab tiga perkara tersebut akan mendapatkan manisnya iman, (yaitu) seorang yang menjadikan Allah & Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya; & dia mencintai saudaranya yang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah; serta dia membenci utk kembali terjatuh kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia tak ingin dirinya dilempar ke api.” (HR. Muslim)
Seseorang yang masih mendahulukan keinginan dirinya dgn mengikuti hawa nafsunya daripada kecintaannya serta ketaatannya kepada Allah SWT & Rasul-Nya, maka hal itu menunjukkan kelemahan imannya & kurang sempurnanya dirinya dlm melaksanakan dua kalimat syahadat.
Hadirin rahimakumullah,
Disamping itu, ketakwaan seseorang juga tak akan terwujud kecuali dia harus menjalankan kewajiban yang paling besar setelah menjalankan dua kalimat syahadat yaitu menegakkan shalat lima waktu. Amalan ini merupakan tiang Islam, & merupakan barometer utk menimbang baik atau tidaknya amalan seseorang serta sebagai pembeda yang membedakan antara seorang muslim dgn orang kafir.
Hal ini disebutkan di dlm firman-Nya:
“Dan jika mereka mau bertaubat & menegakkan shalat serta menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara kalian seagama.” (At-Taubah: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tak mau menjalankan kewajiban shalat lima waktu bukanlah saudara kita seiman.
Hadirin rahimakumullah,
Namun perlu diketahui pula bahwasanya wajib bagi kaum laki-laki utk menjalankan kewajiban shalat lima waktu ini secara berjamaah. Yaitu dgn menjalankannya di masjid, bukan di rumah. Adapun apa yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin bahwa apabila di rumahnya ada satu orang laki-laki atau lebih bersamanya berarti dia bisa mengerjakan shalat berjama’ah di rumahnya adalah pemahaman yang salah. Kewajiban shalat berjamaah di masjid ini merupakan paling besarnya syiar Islam yang harus nampak. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjaga kewajiban yang sangat besar ini yaitu shalat berjamaah di masjid sebagai bukti ketakwaan kita kepada Allah SWT Marilah kita senantiasa berhati-hati dari segala hal yang akan menghalangi atau melalaikan kita dari shalat berjamaah, seperti mendatangi acara-acara hiburan yang diwarnai kemaksiatan atau menyaksikannya melalui layar televisi serta berbicara atau ngobrol yang tak menentu, & yang semisalnya.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Seseorang yang ingin bertakwa, dia harus mewujudkan persaksiannya terhadap dua kalimat syahadat. Yaitu dgn menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya yang diibadahi & meninggalkan seluruh jenis perbuatan syirik serta membencinya sebagaimana bencinya dirinya terkena api. Oleh karena itu, seseorang tak bisa disebut sebagai orang yang bertakwa apabila dia masih membenarkan atau membolehkan diarahkannya salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah l, meskipun dia menjalankan shalat, puasa, & ibadah lainnya. Maka utk mewujudkan takwa, seseorang harus membangun ibadahnya di atas fondasi ini serta harus menegakkan shalat lima waktu yang akan menjadi tiang dari ketakwaannya. Selanjutnya sebagai bentuk ketakwaan yang sebenar-benarnya, dia pun harus menjalankan perintah-perintah Allah SWT lainnya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu, marilah kita bertakwa kepada Allah SWT atas diri kita dgn tak melakukan kemaksiatan kepada Allah l. Disamping itu juga atas keluarga kita dgn menjalankan tanggung jawab kepada mereka & tak menyia-nyiakannya. Begitu pula, marilah kita bertakwa kepada Allah SWT terhadap kerabat kita dgn menjaga silaturahim & tak memutusnya, serta terhadap saudara-saudara kita seiman dgn tetap menjaga kehormatan mereka. Yang tak kalah pentingnya, marilah kita bertakwa kepada Allah SWT terhadap dakwah kita yaitu dgn senantiasa di atas hikmah dlm menjalankannya.
Hadirin rahimakumullah,
Termasuk bagian yang paling penting dari bentuk ketakwaan seseorang adalah at-tafaqquh fiddin, yaitu bersungguh-sungguh dlm mempelajari agama Allah l. Kewajiban menuntut ilmu ini sangat erat kaitannya dgn takwa. Dengan bersemangat dlm menuntut ilmu seseorang akan mengetahui perintah-perintah Allah SWT & larangan-larangan-Nya. Sehingga dgn demikian dia akan benar-benar tepat dlm menjalankan perintah-perintah Allah SWT & menjauhi larangan-larangan-Nya. Oleh karena itu, wajib bagi kita utk menuntut ilmu & bertanya kepada ahli ilmu tentang agama kita, agar kita bisa benar-benar mewujudkan ketakwaan kita kepada Allah l. Akhirnya, kita memohon kepada Allah SWT melalui nama-nama-Nya yang husna, agar kita semuanya diberi pertolongan & kemudahan utk mewujudkan takwa & istiqamah di atasnya sampai ajal mendatangi kita. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
KHUTBAH KEDUA:
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَاتِمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa mewujudkan takwa di dlm kehidupan kita & marilah kita senantiasa mengingat bahwa bertakwa kepada Allah SWT adalah sumber segala kebaikan & kunci utk memperoleh kebahagiaan serta bekal yang sangat berguna utk kehidupan dunia & akhirat. Allah SWT berfirman:
“Maka berbekallah kalian & sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa & bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (Al-Baqarah: 197)
Allah SWT juga menyebutkan dlm firman-Nya:
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Rabb mereka (disediakan) surga yang penuh dgn kenikmatan.” (Al-Qalam: 34)
Hadirin rahimakumullah,
Allah SWT telah menyebutkan di dlm ayat-ayat-Nya perihal keutamaan atau buah yang akan dipetik oleh orang yang bertakwa. Di antaranya adalah bahwa orang-orang yang bertakwa akan dicintai oleh Allah l. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 4)
Disamping itu, orang yang bertakwa juga akan dikaruniai rasa aman & kebahagiaan di saat sebagian orang ditimpa rasa takut & kesedihan. Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tak ada kekhawatiran terhadap mereka & tak (pula) mereka bersedih hati. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman & bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dlm kehidupan di dunia & (dalam kehidupan) di akhirat.” (Yunus: 62-64)
Termasuk buah dari bertakwa kepada Allah SWT adalah bahwa orang-orang yang bertakwa akan dikaruniai furqan, yaitu pertolongan dari Allah SWT baik berupa ilmu atau yang lainnya, sehingga dengannya seseorang akan mengetahui mana yang benar & mana yang salah, serta mana yang bermanfaat & mana yang berbahaya bagi dirinya. Disamping itu juga akan dibersihkan jiwanya dari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya dgn diberi kemudahan utk beramal shalih sehingga akan menghapus kesalahan-kesalahannya. Begitu pula akan diampuni dosa-dosanya dgn diberi taufiq utk senantiasa beristighfar & bertaubat dari dosa yang dilakukannya.
Hal ini sebagaimana disebutkan dlm firman-Nya:
“Wahai orang-orang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepada kalian furqan & Allah akan menghilangkan diri-diri kalian dari kesalahan-kesalahan kalian & mengampuni (dosa-dosa) kalian & Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal: 29)
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Orang yang bertakwa juga akan diselamatkan oleh Allah SWT dari berbagai bahaya & akan diberi jalan keluar dari setiap kesempitan yang menimpanya. Disamping itu juga akan dimudahkan berbagai urusannya serta diberi rezeki di luar dugaannya dari arah yang dia tak sangka-sangka.
Hal ini sebagaimana disebutkan dlm firman Allah l:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar & akan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Ath-Thalaq: 2-3)
Begitu pula dlm firman-Nya:
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dlm urusannya.” (Ath-Thalaq: 4)
Hadirin rahimakumullah,
Dari ayat-ayat tersebut, kita mengetahui betapa butuhnya kita akan takwa. Karena setiap orang tentu menginginkan jalan keluar dari masalah-masalah yang dihadapinya. Terlebih permasalahannya menyangkut agama atau akhiratnya, karena masalah ini akan berkaitan dgn selamat & tidaknya seseorang dari siksa kubur serta kejadian berikutnya saat berada di padang mahsyar sampai kemudian berujung pada selamat & tidaknya dirinya dari terkena pedihnya siksa api neraka. Maka setiap orang tentu membutuhkan ilmu utk mengetahui mana yang haq & mana yang batil, serta mana yang baik akibatnya & mana yang berbahaya. Begitu pula yang berkaitan dgn urusan dunia, setiap orang tentu membutuhkan rezeki & kemudahan dlm urusan-urusan yang dihadapinya. Baik yang berkaitan dgn istri, anak, & keluarga maupun dgn masyarakat di sekitarnya. Semua ini akan bisa diselesaikan & menjadi baik hasilnya apabila dihadapi dgn takwa. Mudah-mudahan Allah SWT menjadikan kita semua menjadi orang yang bertakwa dgn sebenar-benarnya .
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُوْرِنَا، وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 057

Under Category Uncategorized