Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Pengaruh dan Akibat Buruk Maksiat dan Dosa

Pengaruh dan Akibat Buruk Maksiat dan Dosa

Pengaruh dosa terhadap hati seperti bahayanya racun bagi tubuh. Dan tak ada suatu kejelekan di dunia & di akhirat kecuali sebabnya adalah dosa & maksiat.
Apakah yang menyebabkan Adam & Hawa dikeluarkan dari surga -tempat yang penuh kelezatan & kenikmatan- kepada negeri yang terdapat berbagai penderitaan (dunia)?!
Apa pula yang menyebabkan Iblis diusir dari kerajaan yang ada di langit serta mendapat kutukan Allah k?!

Dengan sebab apa kaum Nabi Nuh q yang kufur ditenggelamkan oleh banjir, kaum ‘Aad dibinasakan oleh angin, serta berbagai siksaan di dunia yang menimpa umat-umat terdahulu sehingga ada yang diubah tubuhnya menjadi kera & babi?!
Itu semua adalah akibat dari dosa yang mereka lakukan. Hendaklah peristiwa yang telah berlalu cukup menjadi pelajaran yang berharga bagi orang-orang yang setelahnya. Karena orang yang baik adalah yang mampu mengambil pelajaran dari orang lain & bukan menjadi pelajaran yang jelek bagi generasi setelahnya. Allah SWT berfirman:
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa sebab dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dlm bumi, & di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-‘Ankabut: 40)

Dosa menghalangi seorang dari memperoleh ilmu yang bermanfaat. Karena ilmu merupakan cahaya yang Allah SWT letakkan pada hati seseorang, sedangkan maksiat yang akan meredupkan cahaya tersebut. Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i t duduk di hadapan gurunya, Al-Imam Malik t, sang guru melihat kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i t. Maka ia berpesan kepadanya: “Sungguh, aku memandang Allah SWT telah meletakkan pada hatimu cahaya, maka janganlah kau padamkan dgn gelapnya kemaksiatan.”
q Maksiat menyebabkan seorang terhalang dari rizki, sebagaimana sebaliknya yaitu takwa kepada Allah SWT akan mendatangkan rizki.
q Adanya kegersangan pada hati orang yang berbuat maksiat & kesenjangan antara dia dgn Allah l.

q Disulitkan urusannya, sehingga tidaklah ia menuju kepada suatu perkara kecuali ia mendapatkannya tertutup.
q Kegelapan yang ia dapatkan pada hatinya. Ibnu ‘Abbas c berkata: “Sesungguhnya kebaikan mendatangkan sinar pada wajah, cahaya di hati, luasnya rizki, kuatnya badan, & dicintai oleh makhluk. Sedangkan kejelekan (kemaksiatan) akan menimbulkan hitamnya wajah, gelapnya hati, lemahnya badan, berkurangnya rizki, & kebencian hati para makhluk.
q Kemaksiatan melenyapkan barakah umur serta memendekkannya. Karena, sebagaimana kebaikan menambahkan umur, maka (sebaliknya) kedurhakaan memendekkan umur.

q Tabiat dari kemaksiatan adalah melahirkan kemaksiatan yang lainnya. Lihatlah hasad yang ada pada saudara-saudara Nabi Yusuf q yang menyeret mereka kepada tindakan memisahkan antara bapak & anaknya sehingga menimbulkan kesedihan pada orang lain, memutuskan hubungan kekerabatan, berucap dgn kedustaan, membodohi orang, & yang sejenisnya.
q Kemaksiatan menjadikan seorang hamba hina di mata Allah l. Al-Hasan Al-Bashri t berkata: “Mereka (pelaku maksiat) rendah di hadapan Allah SWT sehingga mereka bermaksiat kepada-Nya, karena seandainya mereka orang yang mulia di hadapan Allah SWT niscaya Allah k akan jaga mereka dari dosa. Allah SWT berfirman:
“Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tak seorangpun yang memuliakannya.” (Al-Hajj: 18)
q Kemaksiatan mengundang kehinaan, merusak akal. Dan jika dosa telah banyak maka pelakunya akan ditutup hatinya sehingga digolongkan sebagai orang–orang yang lalai.
q Dosa memunculkan berbagai kerusakan di muka bumi, pada air, udara, tanaman, buah-buahan, & tempat tinggal.
q Kemaksiatan menghilangkan sifat malu yang merupakan pokok segala kebaikan serta melemahkan hati pelakunya.
q Kemaksiatan menyebabkan hilangnya nikmat & mendatangkan adzab. Ali bin Abi Thalib z berkata: “Tidaklah turun suatu bencana kecuali karena dosa, & tidaklah dicegah suatu bencana kecuali dgn taubat. Allah SWT berfirman:
ﯽ  ﯾ  ﯿ  ﰀ   ﰁ   ﰂ  ﰃ  ﰄ  ﰅ  ﰆ          ﰇ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, & Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura: 30) [Lihat Al-Jawabul Kafi: 113-208, Taujihul Muslimin hal. 58-61]

Pelajaran & Nasihat
Tatkala Allah SWT menciptakan Adam q dgn Tangan-Nya, Ia memuliakannya di hadapan para malaikat dgn memerintahkan mereka sujud kepadanya. Allah SWT mengajarinya nama-nama segala sesuatu serta menempatkannya bersama istrinya Hawa di dlm surga, tempat berhuninya beragam nikmat. Allah SWT juga memperingatkan kepada keduanya dari bahaya godaan Iblis serta melarang keduanya dari memakan dari buah pohon di surga, sebagai ujian.
Tetapi Iblis yang terkutuk selalu menggoda dgn bujuk rayunya yang manis hingga Adam & Hawa memakan dari pohon yang terlarang tersebut. Keduanya pun bermaksiat kepada Allah l, maka dgn serta-merta lepaslah baju keduanya sehingga tampak auratnya. Kemudian keduanya dikeluarkan dari surga ke bumi, tempat yang penuh dgn kekeruhan & keletihan. Namun Allah SWT masih sayang kepada mereka berdua di mana keduanya sadar akan kesalahannya & bertaubat sehingga Allah SWT mengampuninya.
Perhatikan peristiwa yang menimpa Adam & Hawa! Tadinya menempati surga dgn keindahannya serta dihormati oleh malaikat. Namun dgn satu kemaksiatan, kemuliaan dicabut, bajupun menjadi lepas sehingga tersingkap auratnya, serta harus menjalani kehidupan yang sengsara di dunia setelah sebelumnya hidup sentosa di surga.
Demikian pula di saat perang Uhud pada tahun ke-3 Hijriah, Nabi menempatkan pasukan pemanah di atas bukit. Nabi berpesan kepada mereka utk tak meninggalkan posisi mereka baik muslimin kalah atau menang. Pada awalnya muslimin mampu memukul mundur pasukan musyrikin sehingga tiba saatnya mereka memunguti harta rampasan perang.
Para pemanah menyangka bahwa perang telah usai & mengira tak ada manfaatnya lagi mereka tetap di atas bukit. Sehingga sebagian mereka ingin turun, tetapi ditegur oleh sebagian yang lain dgn pesan dari Nabi utk tak turun. Namun sebagian nekad turun & bermaksiat pada perintah Nabi n. Ketika itulah sebagian musyrikin melihat benteng pertahanan muslimin di atas bukit telah bisa ditembus sehingga mereka menyerang dari belakang bukit sisa-sisa pasukan pemanah sehingga mereka terbunuh.
Mereka pun menyerang muslimin dari belakang dlm keadaan pedang-pedang telah dimasukkan ke dlm sarungnya. Lalu datang pula serangan dari depan hingga mereka terjepit. Gugurlah sekian sahabat Nabi sebagai syuhada & sebagian lagi terluka, sampai Nabi pun terluka & terperosok ke dlm lubang yang dibuat oleh musyrikin. Sehingga mereka pulang ke Madinah dgn kekalahan, kaki terseok-seok, serta tubuh yang penuh luka. Itu semua disebabkan kemaksiatan sebagian pasukan muslimin.
Cobalah perhatikan! Dengan satu kemaksiatan, kemenangan yang sudah di depan mata hilang. Dan pahitnya kekalahan dirasakan oleh seluruh pasukan, padahal di dalamnya ada Nabi & para sahabat yang mulia. Maka bisa dibayangkan bagaimana orang–orang yang setiap saat melanggar perintah Nabi n. Tidak takutkah mereka terhadap adzab yang akan ditimpakan?!

Tidak Mengentengkan Dosa
Terkadang seseorang menganggap enteng suatu dosa terlebih jika itu dosa kecil. Sehingga ia terus-menerus melakukannya & kurang memedulikannya. Nabi telah memperingatkan akan hal ini dgn sabdanya:
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بَطْنَ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُوْدٍ وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى حَمَلُوا مَا انْضَجُّوا بِهِ خُبْزَهُمْ وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ
“Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil. Karena perumpamaan dosa kecil seperti suatu kaum yang singgah pada suatu lembah lalu datang seorang dgn membawa satu dahan (kayu bakar) & yang lain (juga) membawa satu dahan hingga mereka telah mengumpulkan sesuatu yang bisa menjadikan roti mereka matang. Dan sesungguhnya dosa-dosa kecil, ketika pelakunya diadzab dengannya maka akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, Ath-Thabarani, & lain-lain dari jalan Sahl bin Sa’d z & dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dlm Shahih Al-Jami’ no. 2686)
Waspadalah dari dosa & jangan tertipu karena kecil atau sedikitnya. Lihatlah bagaimana dahulu Nabi  n memotong tangan seorang pencuri karena mencuri (hanya) 3 dirham seperti dlm Shahih Al-Bukhari (no. 6795).
Dan seorang wanita masuk neraka gara-gara kucing yang dikurungnya. Dia tak memberinya makan & tak melepasnya agar bisa memakan serangga bumi sehingga kurus & mati. (Lihat Shahih Muslim no. 2619)
Demikian pula dahulu di zaman Nabi ada seorang yang terbunuh di jalan Allah SWT sehingga para sahabat memberikan ucapan selamat kepadanya. Tetapi Nabi  n mengatakan: “Tidak. Sesungguhnya pakaian yang dia curi dari harta rampasan perang Khaibar yang belum dibagi-bagi akan menyala atasnya api neraka.” [Lihat Shahih Muslim no.115 Kitabul Iman]

Menjauhi Tempat Maksiat
Pelaku maksiat membawa kesialan bagi dirinya & orang lain. Sebab dikhawatirkan akan turun kepadanya adzab yang menyebar kepada yang lainnya, terkhusus bagi yang tak mengingkari kemaksiatannya. Sehingga menjauh dari pelaku maksiat adalah suatu keharusan. Karena, jika kejahatan telah merajalela maka manusia akan binasa secara umum.
Demikian pula tempat-tempat orang yang bermaksiat & tempat diadzabnya pelaku maksiat harus dijauhi karena dikhawatirkan turunnya adzab. Sebagaimana sabda Nabi kepada sahabatnya tatkala melewati daerah kaum Tsamud yang diadzab Allah SWT (yang artinya): “Janganlah kalian masuk kepada mereka-mereka yang diadzab kecuali dgn menangis, karena dikhawatirkan akan menimpa kalian apa yang telah menimpa mereka.” (HR. Ahmad, lihat Ash-Shahihah no. 19)
Demikian pula tatkala ada seorang dari Bani Israil yang telah membunuh seratus nyawa lalu ia ingin bertaubat & bertanya kepada seorang ‘alim, apakah masih ada taubat baginya? Dia menjawab: ”Ya.” Lalu dia menyarankan orang itu utk pergi dari kampungnya yang jahat ke kampung yang baik.
Dari sini jelas bahwa menjauhi tempat-tempat maksiat & pelaku maksiat termasuk perkara yang diperintahkan. Ibrahim bin Ad-ham t mengatakan: “Barangsiapa ingin taubat, hendaklah ia keluar dari tempat-tampat kedzaliman serta meninggalkan bergaul dgn orang yang dahulu ia bergaul dengannya (dalam maksiat). Jika hal ini tak dilakukan maka dia tak mendapatkan yang diharapkan.”
Waspadailah dosa karena dia suatu kesialan! Akibatnya sangat tercela, hukumannya pedih, hati yang menyukainya berpenyakit. Terbebas dari dosa suatu keberuntungan, selamat dari dosa tak ternilaikan, & terfitnah (diuji) dgn dosa terlebih setelah rambut beruban adalah musibah besar. (Lihat Qala Ibnu Rajab hal. 53-55)

Segera Kembali ke Jalan Allah k
Wahai orang yang tenggelam dlm dosa & perbuatan nista, kembalilah kepada Allah l! Sadarlah bahwa kamu akan menghadap Allah SWT utk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatanmu di dunia ini! Belumkah tiba saatnya engkau berhenti dari diperbudak setan yang ujungnya engkau menjadi temannya di neraka yang menyala-nyala?! Lepaskanlah belenggu setan yang melilit dirimu, & larilah menuju Ar-Rahman (Allah l) dgn bersimpuh di hadapan-Nya, niscaya kamu diberi jaminan keamanan & kebahagiaan. Lembaran hitam kelammu akan diganti dgn yang putih lagi bersih serta akan dibentangkan di hadapanmu jalan yang terang. Bersegeralah sebelum segala sesuatunya terlambat. Allah SWT berfirman:
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang–orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31)
Wallahu a’lam.

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 038

Under Category Uncategorized