Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Pelajaran dari Sepenggal Kisah Istri-istri Shalihah Istri Rasulullah

Pelajaran dari Sepenggal Kisah Istri-istri Shalihah Istri Rasulullah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)
 
Menghidupkan kembali karakter para wanita mulia dari kalangan shahabiyah di masa kini barangkali merupakan upaya yang sulit dilakukan, kalau tak bisa dikatakan tak mungkin. Segala sesuatunya memang telah demikian jauh berbeda. Namun tak ada salahnya kita senantiasa melakukan upaya perbaikan diri, di antaranya dgn mengetahui kemuliaan mereka & sebisa mungkin kita mencontohnya. Mudah-mudahan ini menjadi sebuah upaya positif di tengah kuatnya arus perusakan yang datang dari berbagai arah.
Seorang istri yang mengerti akan dien & mempunyai rasa takut kepada-Nya pasti berharap menjadi istri yang shalihah. Gambaran istri-istri Rasulullah r seperti Khadijah bintu Khuwailid, Aisyah bintu Abi Bakar & yang lainnya radhiallahu anhunna tersimpan di benaknya. Demikian pula kisah-kisah istri shalihah dari kalangan shahabiyah menjadi panduan baginya dlm menjalani hari-harinya sebagai istri, seperti kisah Ummu Sulaim bintu Milhan x, ibunya Anas bin Malik, Asma putri Abu Bakar Ash-Shiddiq c, & selain keduanya. Wanita-wanita shalihah itulah yang menjadi ikutannya, sama sekali tak terbetik di hatinya utk mengidolakan wanita-wanita fasik seperti artis, fotomodel, & semisalnya, walaupun mereka sangat terkenal, dikagumi & dielu-elukan mayoritas wanita.
Sepenggal kisah Khadijah x
Banyak teladan yang bisa dipetik dari kisah hidup wanita mulia bernama Khadijah, istri terkasih insan termulia Muhammad r ini. Namun di sini hanya satu kisah yang akan kita ingatkan kembali, satu kisah yang pernah lewat dlm lembar hidupnya yang sarat dgn kemuliaan. Awal turunnya wahyu merupakan satu peristiwa agung yang tak lepas dari sosok Khadijah. Karena dialah yang membantu, menghibur, memberikan dorongan moral & material kepada sang suami di hari-hari awal nan sangat mendebarkan.
Aisyah x berkisah: “Awal wahyu yang diterima Rasulullah r adalah berupa mimpi yang benar. Tidaklah beliau melihat suatu mimpi kecuali mimpi itu datang seperti cahaya subuh. Setelah itu beliau senang menyendiri di gua Hira utk bertahannuts (beribadah sesuai dgn apa yang beliau ketahui dari agama Nabi Ibrahim u, pen.) dlm beberapa malam dgn membawa bekal dari istrinya. Setelah habis bekalnya, beliau kembali kepada Khadijah, lalu disiapkan lagi bekal beliau, kemudian beliau pergi ke gua Hira & berdiam di sana selama beberapa malam. Demikian terus berlangsung hingga datang al-haq kepada beliau sementara beliau berada di gua Hira.” Aisyah pun menceritakan datangnya malaikat Jibril u kepada Muhammad r & diajarkannya surat Al-Alaq kepada beliau r. Peristiwa besar yang beliau r alami sungguh mendebarkan hatinya hingga ia pulang ke rumahnya menemui Khadijah, istrinya, “Selimuti aku, selimuti aku!”, pinta beliau. Khadijah pun dgn segera menyelimuti suaminya hingga hilang dari beliau rasa takut & cemas. Beliau pun berucap kepada Khadijah menceritakan apa yang dialaminya: “Sungguh aku khawatir & cemas akan diriku.” Khadijah menanggapi dgn ucapannya yang menghibur: “Sekali-kali tidak, demi Allah! Allah tak akan menghinakanmu & membuatmu sedih selama-lamanya. Engkau seorang yang menyambung silaturrahim, menanggung orang yang lemah, memenuhi kebutuhan fakir miskin, menjamu & memuliakan tamu, serta menolong al-haq.”
Khadijah lalu menemani suaminya menemui Waraqah bin Naufal, anak pamannya, seorang yang memeluk agama Nasrani & biasa menulis Injil dlm bahasa Ibrani. Waraqah ini telah buta lagi tua renta. “Wahai anak pamanku, dengarkanlah kisah yang akan dituturkan oleh anak saudaramu ini”, pinta Khadijah membuka pembicaraan. Diceritakanlah oleh Rasulullah r apa yang beliau lihat & beliau alami di gua Hira. “Itu adalah Namus (malaikat  Jibril) yang pernah Allah utus kepada Nabi Musa. Duhai kiranya ketika itu aku masih muda, duhai kiranya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu,” kata Waraqah. “Apakah mereka akan mengusirku?” tanya Rasulullah r dgn heran. “Iya, karena tak ada seorang pun menerima seperti apa yang engkau terima kecuali dia akan dimusuhi. Kalau aku sempat menemui harimu itu sungguh aku akan menolongmu dgn pertolongan yang kuat”, jawab Waraqah. Namun tak berapa lama setelah itu Waraqah meninggal dunia sementara wahyu pun terhenti. (HR. Al-Bukhari no. 3 & Muslim no. 160)
Sepenggal kisah Ummu Sulaim x
Banyak pula kisah yang telah lewat dlm hidup Rumaisha, ibunda Anas bin Malik yang lebih dikenal dgn kunyahnya, Ummu Sulaim. Namun hanya satu kisah yang akan kami tuturkan kembali, kisah yang menggambarkan ketabahan & muamalah-nya yang baik dgn suaminya, Abu Thalhah z.
Anas bin Malik zberkata: “Ummu Sulaim melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat dicintai oleh Abu Thalhah, suaminya. Namun suatu ketika anak kecil itu sakit parah hingga membuat duka sang ayah. Kebiasaan Abu Thalhah, keluar rumah di pagi buta utk shalat subuh bersama Rasulullah r & terus bersama beliau r hingga hampir tengah hari. Kemudian ia pulang ke rumah utk tidur siang & makan siang. Ketika datang waktu dhuhur iapun bersiap-siap shalat. Suatu hari ia keluar menemui Rasulullah r & ternyata saat itu datang ajal menjemput putranya terkasih. Ibu si anak (Ummu Sulaim) berkata kepada keluarganya: “Tidak boleh ada seorang pun yang memberitakan kepada Abu Thalhah tentang kematian anaknya sampai aku sendiri yang memberitakannya.” Ummu Sulaim pun menyelenggarakan jenazah putranya kemudian menguburkannya di sisi rumah. Datanglah Abu Thalhah bersama teman-temannya dari masjid & menanyakan keadaan anaknya. “Wahai Abu Thalhah, sejak anak itu sakit tak pernah ia setenang saat ini & aku berharap ia telah memperoleh kesenangan,” jawab Ummu Sulaim. Ummu Sulaim kemudian menyiapkan hidangan makan malam utk suami & tamu-tamunya. Setelah  mereka pulang, Abu Thalhah menuju ke tempat tidurnya & merebahkan kepalanya di pembaringan. Ummu Sulaim memakai wangi-wangian & berhias dgn dandanan yang paling bagus dari biasanya, kemudian ia mendatangi suaminya & tidur bersamanya. Mencium aroma sang istri yang demikian semerbak membangkitkan hasrat Abu Thalhah terhadapnya, maka terjadilah hubungan suami istri di antara keduanya. Setelah melayani suaminya & tiba akhir malam, berkatalah Ummu Sulaim: “Wahai Abu Thalhah, apa pendapatmu bila ada suatu kaum meminjamkan barang mereka kepada kaum yang lain. Lalu suatu ketika kaum tersebut meminta kembali barang mereka, apakah pihak yang meminjam diperkenankan utk menahan barang tersebut?”
“Tentunya tak boleh,” jawab Abu Thalhah.
“Allah U meminjamkan anakmu kepadamu, kemudian ia mengambil kembali apa yang dipinjamkan-Nya, karena itu harapkanlah pahala dari-Nya & bersabarlah!” kata Ummu Sulaim.
Mendengar penuturan istrinya Abu Thalhah marah seraya berkata: “Kamu biarkan aku bernikmat-nikmat hingga terjadi apa yang terjadi kemudian baru kamu sampaikan berita kematian anakku!”. Abu Thalhah pun mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un & memuji Allah. Pagi harinya ia mandi lalu bersegera menemui Rasulullah r, utk shalat subuh bersamanya & seusainya ia ceritakan apa yang telah menimpanya.
“Apakah kalian berdua melakukan hubungan tadi malam?” tanya Rasulullah r.
“Iya,” jawab Abu Thalhah.
“Ya  Allah berkahilah keduanya,” doa Rasulullah r.
Ummu Sulaim pun hamil dari hubungannya dgn suaminya pada malam itu.” (HR. Al-Bukhari no. 5470 & Muslim no. 2144 secara ringkas. Adapun tambahan yang tak ada dlm Ash-Shahihain disebutkan dlm riwayat Ath-Thayalisi, Al-Baihaqi, Ibnu Hibban, & Ahmad sebagaimana dikumpulkan & dibawakan riwayat hadits ini secara panjang lebar oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dlm Ahkamul Janaiz hal. 38)
Sepenggal kisah Asma bintu Abi Bakar Ash Shiddiq c
Asma’, putri Ash Shiddiq, khalifah Rasulullah r, berkisah tentang khidmatnya kepada sang suami, Az-Zubair ibnul Awwam z, salah seorang dari 10 shahabat yang diberi kabar gembira masuk surga dlm keadaan mereka masih hidup (Al ‘Asyrah Al Mubasysyirina bil Jannah): “Zubair menikahiku dlm keadaan ia tak memiliki budak & tak pula harta, kecuali hanya seekor unta & seekor kuda. Akulah yang memberi makan & minum kudanya. Aku yang menimbakan air untuknya & mengadon tepung utk membuat kue. Karena aku tak pandai membuat kue, maka tetangga-tetanggaku dari kalangan Anshar-lah yang membuatkannya, mereka adalah wanita-wanita yang jujur. Aku yang memikul biji-bijian di atas kepalaku dari tanah milik Az-Zubair yang diberikan Rasulullah r sebagai bagiannya, sementara jarak tempat tinggalku dgn tanah tersebut sekitar 2/3 farsakh1.” (HR. Al-Bukhari no. 5224 & Muslim no. 2182)
Pelajaran dari sepenggal kisah-kisah mereka
Dari kisah tiga istri shalihah yang di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil para istri yang tujuan hidupnya semata mengharapkan keridhaan Allah & perjumpaan dengan-Nya kelak di hari akhir:
Pertama: Lihatlah bagaimana kelapangan hati Khadijah x, pengertian & kerelaannya, ketika suaminya Muhammad r sering meninggalkannya dlm banyak malam utk bertahannuts di gua Hira. Ia siapkan perbekalan suaminya & segala yang dibutuhkannya. Setiap kali bekal suaminya habis, ia siapkan lagi, demikian seterusnya sampai Jibril u turun menemui suaminya utk menyampaikan wahyu Ilahi. Ketika suaminya gundah, takut, khawatir, & cemas, perhatikanlah bagaimana yang diperbuat Khadijah. Dia menghibur suaminya, membesarkan hatinya, & memberikan dorongan agar tumbuh optimisme pada dirinya. Dan tak cukup sampai di situ, dia menemani suaminya utk menemui orang yang punya pengetahuan dlm masalah itu agar suaminya mendapatkan keterangan tentang apa yang dia alami. Tidaklah dia menambah kecemasan suaminya dgn ikut risau & mengucapkan perkataan yang menambah beban. Tidak pula dia menahan suaminya agar terus bersamanya menemani malam-malamnya sementara suaminya ingin melakukan perkara yang disenanginya. Demikianlah seharusnya sikap seorang istri shalihah terhadap suaminya, ia membantu suaminya sekuat kemampuannya dgn tiada memberatkan & menyusahkan. Bila ia tahu suatu perkara menyenangkan suaminya maka ia siapkan apa saja yang dapat mendukung kesenangan suaminya (selama tak melanggar batas syariat). Dan ketika suaminya memiliki masalah, ia memberi dukungan moril kepada suaminya & berusaha membantu mencari pemecahannya atau paling tak memberikan usulan & saran yang positif. Dengan demikian istri shalihah tak pernah membiarkan suaminya bermuram durja sendirian sementara ia bersikap acuh tak acuh atau malah ia bersuka di atas duka sang suami, atau malah sebaliknya berduka di atas suka cita suaminya.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani t berkata: “Dalam kisah (Khadijah) ini ada faedah yaitu disenanginya menghibur orang yang sedang dirundung kesedihan dgn menyebutkan hal-hal yang dapat meringankan bebannya & disenangi bagi orang yang ditimpa suatu masalah utk menceritakan apa yang dialaminya kepada orang yang dipercayai utk mendapatkan nasehat & pandangan yang tepat.” (Fathul Bari, 1/32)
Kedua: Lihatlah bagaimana ketabahan Ummu Sulaim menghadapi musibah yang jarang wanita bisa sabar menghadapinya yakni kematian anak yang sangat dicintainya. Bersamaan dgn itu ia berhias utk suaminya sehingga memancingnya utk jima‘, suatu hal di mana bagi orang yang ditimpa musibah umumnya tak berhasrat utk melakukannya. Padahal sebenarnya dgn musibah yang menimpanya, dia diperkenankan utk bersedih2 -selama tak melakukan niyahah (meratap) & murka (tidak terima) dgn takdir Allah I-. Karena Allah tidaklah mengadzab seorang hamba dgn tetesan air matanya & kesedihan hatinya.
Sebagaimana Anas bin Malik z berkisah: “Nabi r masuk menemui putranya, Ibrahim, yang sedang menghadapi sakaratul maut, maka mengalirlah air mata beliau r. Abdurrahman bin Auf z mempertanyakan hal itu kepada beliau dgn heran. Beliau r menjawab: “Wahai Ibnu Auf, ini adalah air mata rahmah (kasih sayang).”
Beliau r berkata ketika Ibrahim wafat:
“Sesungguhnya mata ini menangis & hati ini bersedih, namun kita tak berucap kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Perpisahan denganmu wahai Ibrahim, sungguh menyedihkan kami.” (HR. Al-Bukhari no. 1303 & Muslim no. 2315)
Kembali pada kisah Ummu Sulaim x. Lihatlah di tengah kesedihan hatinya, ia menyambut sang suami dgn baik & mengucapkan kata-kata yang menenangkan suaminya. Tidaklah dia terburu-buru menyampaikan berita duka tersebut kepada suaminya yang sedang penat & letih karena aktivitas di luar rumah. Dijamu suami & tamu-tamunya & dibiarkannya suaminya berisitirahat sejenak. Kemudian dia melakukan suatu sebab yang bisa mengikat kecintaan suami kepada istrinya, yaitu berhias & menyiapkan diri utk suami.
Demikianlah seharusnya ketabahan seorang istri & pergaulannya yang baik dgn suaminya. Jangan ia menambah keletihan suaminya dgn berita-berita yang merisaukannya. Suami baru muncul di ambang pintu sekembalinya dari bepergian, belum sempat membuka pakaiannya, belum duduk utk sejenak menghilangkan penatnya & belum meneguk setetes air pun utk menghilangkan dahaganya, ia mencecar dgn setumpuk laporan yang menyesakkan dada. Tidak jarang hal seperti ini memancing emosi suaminya & membuatnya sumpek (tidak nyaman) bila berada di dlm rumah karena yang ada hanya keluhan demi keluhan.
Ketiga: Lihatlah bagaimana khidmat (pelayanan) Asma bintu Ash Shiddiq x terhadap suaminya & kesabarannya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dibebankan padanya, tiada dia mengeluh & menuntut suaminya. Semua pekerjaan yang mampu dia lakukan maka dia lakukan dgn senang hati & meniatkan hal itu sebagai ibadah kepada Allah SWT
Faktor pendukung seorang wanita meraih sifat-sifat istri shalihah
Pelajaran dari kisah shahabiyah telah kita petik, namun tersisa pertanyaan di benak apa gerangan faktor yang dapat membantu seorang wanita utk memiliki sifat sebagaimana sifat-sifat istri shalihah? Beberapa faktor tersebut di antaranya dapat kita rinci berikut ini:
1.    Mengenal Allah I & sifat-sifat-Nya yang mulia, di mana hal ini akan mendorongnya utk taat kepada Allah I & tunduk di bawah seluruh ketetapan-Nya. Di antara yang ditetapkan Allah adalah keharusan seorang istri memperhatikan & memenuhi hak-hak suami yang sedemikian besar terhadapnya, sampai-sampai Rasulullah r bersabda:
“Tidaklah layak bagi manusia utk sujud kepada manusia. Sekiranya layak seorang manusia sujud kepada manusia yang lain, niscaya aku perintahkan istri utk sujud kepada suaminya karena besarnya hak suami terhadapnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya pada kaki suami sampai belahan rambutnya ada luka yang membusuk kemudian dia (istri) menghadap ke luka tersebut lalu menjilatinya, maka belumlah dia memenuhi hak suaminya.” (HR. Ahmad & selainnya.  Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 8602)
2.    Berilmu sebelum beramal. Sepantasnya seorang wanita yang hendak melangkah ke gerbang pernikahan mempersiapkan ilmu yang cukup mengenai kehidupan berkeluarga. Karena persiapan nikah itu tak sebatas membeli baju, kosmetik, pernak-pernik kecantikan, kursus masak, & semisalnya. Namun yang justru paling utama disiapkan adalah ilmu syar‘i termasuk ilmu yang diajarkan syariat tentang berumah tangga seperti pengetahuan tentang hak & kewajiban istri, hak & kewajiban suami, cara mendidik anak, & semisalnya. Dengan bekal ilmu ini, seorang wanita akan mengetahui apa yang dimaukan syariat yang mesti ditunaikan olehnya dlm rumah tangganya.
3.    Bersemangat utk meraih surga yang sarat dgn kenikmatan yang belum pernah dipandang mata, tak pernah terdengar telinga & tak pernah pula terlintas di benak manusia. Karena berhias dgn sifat-sifat istri shalihah agar mengantarkan seorang wanita kepada surganya Allah SWT
Sebagaimana sabda Rasulullah r:
“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya & taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya:  Masuklah engkau ke dlm surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad 1/191, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dlm Shahihul Jami’, no. 660-661)
Dan sabda beliau r tentang wanita ahlul jannah (penghuni surga):
“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga? Yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya & meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dlm Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah, Asy-Syaikh Al-Albani t, no. 287)
4.    Takut terhadap adzab Allah I yang pedih & murka-Nya bagi pelaku maksiat. Sementara melanggar hak suami dgn sengaja & durhaka kepadanya termasuk perbuatan maksiat yang diancam dgn siksa. Rasulullah r bersabda: “Ada tiga golongan manusia yang tak akan ditanya tentang mereka3 yaitu seseorang yang memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin & bermaksiat kepada pemimpinnya lalu ia meninggal dlm keadaan bermaksiat maka kamu jangan tanyakan tentang dia. (Kedua) budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri dari tuannya. Dan (ketiga) istri yang suaminya pergi & telah dicukupi kebutuhan dunianya kemudian ia memamerkan perhiasan & kecantikannya (tabarruj) & bermaksiat sepeninggal suaminya. Maka mereka ini tak akan ditanya.” (HR. Al-Bukhari dlm Al-Adabul Mufrad no. 590, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dlm takhrijnya terhadap Al-Adabul Mufrad hal. 202 & dlm Ash-Shahihah 542)
Demikian pula bila seorang istri tak pandai bersyukur kepada suaminya malah mengkufuri kebaikannya, maka an-nar (neraka)-lah yang dijanjikan baginya, sebagaimana sabda Nabi r: “Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur”. Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?”. Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami & mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tak pernah melihat kebaikan sama sekali pada dirimu.” (HR. Al-Bukhari no. 29 & Muslim no. 907)
5.    Berteman dgn wanita-wanita yang shalihah, duduk bersama mereka, mendengarkan pembicaraan mereka & mencontoh perilaku serta akhlak mereka yang mulia. Sebaliknya menjauhi teman-teman yang fasik, tak bergaul dgn mereka & berpaling dari perilaku mereka yang buruk. Karena keberadaan seorang teman akan mempengaruhi seseorang, bila ia berteman dgn orang yang baik, ia akan terdorong utk berbuat baik pula. Sebaliknya, bila ia berteman dgn orang yang jelek & rusak akhlaknya, sedikit banyak ia akan terpengaruh & terasa berat baginya berbuat kebaikan. Rasulullah r bersabda:
“Perumpamaan teman duduk yang baik & teman duduk yang jelek seperti penjual parfum dgn pandai besi. Tidak terlepas bagimu dari penjual parfum itu (bila engkau duduk dengannya) (dua perkara yaitu) bisa jadi engkau membeli parfumnya ataupun (bila engkau tak membelinya) engkau mendapatkan darinya wangi yang semerbak. Sementara (duduk dengan) pandai besi bisa jadi (api yang ditiupnya) akan membakar rumahmu atau pakaianmu atau engkau dapatkan darinya bau yang busuk.” (HR. Al-Bukhari no. 2101 & Muslim no. 2628)
6.    Memilih suami yang shalih & berakhlak mulia. Langkah ini jelas dilakukan sebelum seorang wanita memutuskan utk menerima pinangan seorang lelaki. Hendaklah ia memperhatikan siapa lelaki yang datang meminangnya, apakah lelaki yang shalih atau lelaki yang thalih (tidak shalih). Bila lelaki itu shalih & berkenan di hatinya, maka sepantasnya ia menerimanya. Karena dgn bersuamikan lelaki yang shalih akan membantunya utk meraih kebaikan yang banyak. Suami shalihlah yang mengerti apa yang harus dilakukannya dlm rumah tangganya & mengerti tentang tanggung jawab & kewajibannya. Dia akan mendidik istrinya dgn pendidikan yang baik & menuntun istrinya menuju kebahagiaan yang hakiki & berupaya menjauhkannya dari siksa yang pedih di alam sana. Hanya suami yang shalihlah yang mengerti & menjalankan firman Allah I:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah (jagalah) diri-diri kalian & keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia & batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka & mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim: 6)
Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

2 Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Apabila seorang wanita tak berihdad (tidak berhias & tak memakai wangi-wangian karena berkabung, pen.) karena kematian keluarganya (selain suaminya) dlm rangka mencari keridhaan suaminya & menunaikan hajat suaminya kepadanya, maka hal itu lebih utama baginya. Dan diharapkan di balik itu ada banyak kebaikan bagi keduanya sebagaimana yang terjadi pada Ummu Sulaim & Abu Thalhah suaminya c. (Ahkamul Janaiz, hal. 35)
3 Hal ini sebagai ancaman bagi mereka dikarenakan besarnya pelanggaran yang mereka lakukan.

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 013

Under Category Uncategorized