Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Nabi Muhammad Telah Wafat Abu Dawud

Nabi Muhammad Telah Wafat Abu Dawud

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)
Dari Abu Hurairah z, Rasulullah SAW bersabda:
لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا وَلاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا وَصلُّوْا عَلَيَّ
فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِيْ حَيْثُ كُنْتُمْ
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, jangan pula kalian menjadikan kuburku sebagai ied, & bershalawatlah kalian untukku. Karena sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada.”
Takhrij hadits
Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Imam Abu Dawud t di dlm As-Sunan melalui jalan Ahmad bin Shalih dari Abdullah bin Nafi’ dari Ibnu Abi Dzi’b dari Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairah z.
Syaikhul Islam t berkata, “Dan sanad hadits ini hasan, seluruh perawinya tsiqah masyhur. Hanya saja Abdullah bin Nafi’ Ash-Shaigh Al-Faqih Al-Madani Shahib Malik, pada beliau ada liin (semacam sisi kelemahan) yang tak membuat cacat haditsnya. Yahya bin Ma’in mengatakan: ‘Dia orang yang tsiqah (terpercaya)’, & cukup bagimu Yahya bin Ma’in sebagai orang yang menyatakannya tsiqah. Abu Zur’ah mengatakan: ‘La ba’sa bihi (tidak mengapa dengannya)’.”
Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Dia bukan seorang yang hafizh. Dia layyin, haditsnya dikenal & diingkari.”
Sesungguhnya pernyataan-pernyataan dari ulama di atas menurunkan derajat haditsnya dari shahih menjadi hasan karena tak ada khilaf tentang ‘adalah & fiqihnya. Secara umum dia dhabth (hafal) namun kadang-kadang salah. Kemudian hadits ini pun termasuk yang dikenal dari riwayatnya & tak diingkari karena yang dia riwayatkan adalah haditsnya orang-orang Madinah & dia pun membutuhkannya utk fiqih. Dan hadits semacam ini tentunya dihafal oleh seorang ahli fiqih. Lagipula, hadits ini pun masih ada penguatnya dari jalan lain.” (Iqtidha’ Ash-Shiraat, 355-356)
Ibnul Qayyim t berkata tentang hadits ini, “Dan sanad hadits ini hasan, seluruh perawinya tsiqah masyhur.” (Ighatsatul Lahafan hal. 180)
Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dlm Shahih Sunan Abi Dawud (2/218).
Makna hadits
لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan…”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Maknanya janganlah kalian mengosongkan rumah dari shalat & berdoa serta bacaan Al-Qur’an agar tak sama dgn kuburan. Rasulullah SAW di dlm hadits ini memerintahkan utk menjaga ibadah di rumah-rumah serta melarang utk menjaga ibadah di kuburan. Hal ini berbeda dgn perbuatan yang dilakukan kaum musyrikin dari kalangan Nasrani serta orang-orang yang menyerupai mereka dari kalangan umat ini.” (Iqtidha’ Ash-Shirath, 357)
Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin t menjelaskan bahwa larangan Rasulullah SAW dlm hadits ini menunjukkan dua kemungkinan. Yang pertama, adalah larangan menjadikan rumah sebagai kuburan sehingga tak diperkenankan seseorang dikuburkan di dlm rumahnya. Adapun makna yang kedua, adalah larangan menjadikan rumah seperti kuburan sehingga rumah dikosongkan dari shalat ataupun bacaan Al-Qur’an. Dan menurut beliau kedua makna ini benar seluruhnya.
Barangkali ada pertanyaan yang melintas di benak kita, mengapa Rasulullah SAW justru dikuburkan di dlm rumah beliau? Ada dua alasan, yang pertama karena ada kekhawatiran kubur beliau akan dijadikan masjid (tempat ibadah) & diagung-agungkan sebagaimana riwayat Muslim dari Aisyah x. Alasan kedua karena adanya beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa para Nabi dimakamkan di tempat meninggalnya. (Al-Qaulul Mufid, hal. 459-460)
وَلاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا
“…Jangan pula kalian menjadikan kuburku sebagai ied…”
Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin t menjelaskan bahwa ada dua kemungkinan makna “ied” di dlm hadits ini. Yang pertama, adalah amalan atau aktivitas yang dilakukan secara rutin setiap tahun. Yang kedua adalah sering pulang pergi ke tempat tersebut & melakukan amalan. Kemudian beliau berkata, ”Zhahir hadits menunjukkan makna yang kedua. Maka makna hadits di atas adalah janganlah kalian pulang pergi ke kuburku & janganlah menjadikan hal tersebut sebagai kebiasaan kalian. Sama saja apakah hal itu dilakukan setiap tahun, tiap bulan, atau tiap pekan, karena Nabi Muhammad n telah melarangnya.”
Kemudian beliau melanjutkan, “Adapun yang dilakukan sebagian orang di Madinah setiap kali selesai shalat fajar mereka pergi ke kubur Nabi utk mengucapkan salam & hal ini menjadi kebiasaannya setiap selesai melaksanakan shalat fajar karena menyangka hal ini sama dgn mengunjungi beliau ketika masih hidup maka perbuatan ini adalah bentuk kebodohan darinya. Apakah mereka tak mengerti bahwa di manapun mereka mengucapkan salam kepada Nabi tentu akan sampai juga kepada beliau?” (Al-Qaulul Mufid hal. 461-462)
وَصَلُّوْا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِيْ حَيْثُ كُنْتُمْ
“Dan bershalawatlah kalian untukku. Karena sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada.”
Syaikhul Islam t berkata, ”Dengan hadits ini beliau hendak menyampaikan bahwa shalawat & salam dari kalian untukku akan sampai kepadaku, kalian dekat ataupun jauh dari kuburku. Sehingga tak perlu utk menjadikan kuburku sebagai ied.” (Iqtidha’ Ash-Shirath, hal. 357)
Ketika menjelaskan hadits ini, Asy-Syaikh Al-Utsaimin t mengajukan sebuah pertanyaan & beliau sendiri yang menjawabnya. Bagaimanakah cara sampainya shalawat kepada Rasulullah SAW?
Jawabannya, kami menyatakan bahwa apabila datang nash semacam ini -dan hal ini termasuk perkara ghaib- maka diwajibkan utk meyakini tentang al-kaif majhul (caranya tak diketahui). Kita tak mengetahui dgn cara seperti apakah shalawat itu sampai kepada Rasulullah SAW. Hanya saja terdapat sebuah riwayat dari Nabi bahwasanya Allah SWT memiliki para malaikat yang berjalan di atas muka bumi utk menyampaikan ucapan salam dari umat ini kepada Rasulullah SAW. Jika riwayat ini shahih, maka inilah kaifiyahnya. (Al-Qaulul Mufid, hal. 463)
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan hadits ini bahwa Allah SWT menugaskan para malaikat utk menyampaikan shalawat kepada Rasulullah SAW dlm keadaan Rasulullah SAW di kuburnya. Maka di manapun engkau bershalawat untuknya niscaya shalawat itu akan sampai kepadanya, meskipun engkau di timur atau di barat. Hal ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah l, yaitu shalawat sampai kepada Rasulullah SAW padahal beliau berada di dlm kuburnya. Perkara ini termasuk peristiwa alam barzakh, tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah l.
Beliau juga menjelaskan bahwa hadits ini sekaligus merupakan dalil bahwa tak ada keistimewaan secara tersendiri utk bershalawat di samping kubur Rasulullah SAW. (I’anatul Mustafid Syarah Kitab At-Tauhid)
Hal ini diperkuat dgn sikap seorang tabi’in yang berasal dari keluarga Rasulullah SAW sendiri. Diriwayatkan dari Ali bin Husain, bahwasanya beliau pernah melihat seseorang datang ke sebuah tempat kosong dekat kubur Nabi lalu orang tersebut masuk & berdoa. Maka Ali berkata, “Maukah engkau aku beritahu tentang sebuah hadits yang pernah aku dengar dari ayahku dari kakekku, yaitu Rasulullah SAW? Beliau bersabda, ‘Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai ied, jangan pula kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, & bershalawatlah kalian untukku, karena sesungguhnya shalawat & salam kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada’.”
Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah (2/375), Abu Ya’la (269), Al-Bukhari dlm Tarikh (2/186), & Adh-Dhiya’ dlm Mukhtarah (428) dgn sanad yang hasan lighairihi.
Setelah membawakan dua riwayat lain yang memperkuat, Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata, “Kedua riwayat mursal ini berasal dari dua jalur yang berbeda menunjukkan kebenaran hadits ini. Lebih-lebih lagi, perawi yang meriwayatkan secara mursal ini pun berhujjah dgn riwayatnya. Hal ini menunjukkan kebenaran hadits ini baginya.” (Ighatsatul Lahafan hal. 181)
Syaikul Islam t berkata, ”Maka perhatikanlah sunnah ini, bagaimanakah sunnah ini ditunjukkan dari penduduk kota Madinah & dari salah seorang Ahlul Bait, yaitu orang-orang yang memiliki kedekatan dgn Rasulullah SAW secara nasab & tempat tinggal. Disebabkan mereka lebih membutuhkan hal ini daripada orang lain, tentu mereka lebih kuat dlm hal ini.” (Iqtidha Ash-Shiraat 359)
Beberapa hal yang mesti diluruskan
Pembaca…
Sebuah buku telah ditulis oleh Tim Bahtsul Masail PCNU Jember dgn judul Membongkar Kebohongan buku Mantan Kiai NU menggugat Sholawat & Dzikir Syirik. Tujuan penulisan buku ini adalah utk membenarkan amalan syirik sebagian warga nahdhiyyin seperti bertawassul dgn Nabi setelah beliau wafat, shalawat-shalawat syirik & bid’ah, serta beberapa hal yang lain. Patut disayangkan sekali para penulis menyatakan bahwa dgn buku tersebut mereka telah membela Ahlus Sunnah wal Jamaah. Entah Ahlus Sunnah Wal Jamaah manakah yang mereka maksud? Yang jelas Ahlus Sunnah yang dimaksud mereka bukanlah Ahlus Sunnah yang dimaksud oleh Rasulullah SAW.
Kesalahan demi kesalahan dilakukan Tim Bahtsul Masail dlm buku tersebut. Berdalil dgn ayat atau hadits yang shahih namun tak tepat peletakannya atau salah di dlm memahaminya banyak didapatkan dlm buku itu. Sekian banyak riwayat lemah bahkan palsu pun mereka pakai utk membenarkan keyakinan mereka. Salah satu contohnya adalah menyebutkan kitab Ahkam Tamanni Al-Maut sebagai buah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Tim Bahtsul Masail banyak menukilkan riwayat-riwayat lemah bahkan palsu serta menyandarkannya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di dlm kitab Ahkam Tamanni Al-Maut.
Pembaca… Sebenarnya kitab ini bukanlah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Akan tetapi, kejadian yang sesungguhnya adalah Universitas Al-Imam mendapatkan transkrip kitab ini dari Leiden (Belanda). Lalu disimpan di Al-Maktabah As-Su’udiyyah Riyadh. Kitab ini diambil dari Leiden bukan karena kitab ini sebagai karya beliau tetapi karena menggunakan tulisan tangan beliau.
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t dahulu sering mengadakan rihlah (perjalanan), jika beliau menemukan sebuah kitab yang jarang diperjualbelikan maka beliau menyalinnya. Termasuk kitab Ahkam Tamanni Al-Maut, beliau menyalin dgn tulisan tangan beliau sendiri dgn maksud akan memeriksa & menelitinya. Maklum adanya bahwa para ulama ahlu hadits mereka menulis segala hal bahkan riwayat-riwayat palsu pun ditulis sehingga mereka dapat menjelaskan dgn lengkap tentang hukum & makna sebenarnya.
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah telah membantah keberadaan kitab ini sebagai karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t dgn menguraikan delapan argumen. Kitab ini berjudul Ibthaal Nisbati Kitaab Ahkaami Tamanni Al-Maut Ilaa Asy Syaikh Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab. Bahkan pentahqiqnya sendiri, Abdullah Al-Jibrin & Abdurrahman As-Sadhan, pun mengeluarkan surat pernyataan rujuk & mengakuinya sebagai kesalahan.
Alam barzakh berbeda dgn alam dunia
Saudara pembaca…
Keyakinan orang-orang Shufi bahwa orang yang telah meninggal masih hidup, dapat mendengarkan doa, & mampu menolong orang yang masih hidup adalah keyakinan yang salah. Hal ini terjadi karena mereka tak memahami perbedaan antara alam dunia & alam barzakh. Mereka ingin menyamakan antara kehidupan dunia dgn kehidupan barzakh padahal kehidupan dunia berbeda dgn kehdupan barzakh.
Seluruh dalil tentang adanya kehidupan setelah mati menunjukkan kehidupan barzakh & bukan kehidupan dunia. Allah SWT berfirman:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dgn mendapat rezeki.” (Ali Imran:169)
Al-Imam Asy Syinqithi t menafsirkan bahwa di dlm ayat ini Allah Tabaaraka wa Ta’ala melarang utk menyangka para syuhada’ telah mati. Dengan jelas, Allah SWT menerangkan bahwa mereka hidup di sisi Rabb dgn mendapat rezeki. Mereka pun berbahagia disebabkan karunia Allah SWT yang diberikan-Nya kepada mereka & mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka. Bahwa tak ada kekhawatiran terhadap mereka & tak (pula) mereka bersedih hati. Di dlm ayat ini Allah SWT tak menjelaskan apakah kehidupan mereka di alam barzakh dapat merasakan kehidupan penduduk alam dunia secara nyata ataukah tidak? Hanya saja Allah SWT telah menjelaskan di dlm surat Al-Baqarah bahwa mereka tak merasakan kehidupan alam dunia di dlm firman-Nya:
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tak menyadarinya.” (Al-Baqarah: 154)
Beliau menjelaskan di tempat yang lain, “Para syuhada mereka hidup di alam yang berbeda dgn alam kita & kita tak dapat merasakan kehidupan mereka karena alam kehidupan mereka bukanlah alam rasa yang dapat dirasakan dgn indera.” (Adhwa’ul Bayan)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata dlm tafsir ayat ini, “Allah SWT mengabarkan bahwa para syuhada hidup dgn mendapatkan rezeki di alam barzakh mereka.”
Rasulullah SAW telah wafat
Pembahasan di atas ini tidaklah bertentangan dgn ayat ataupun hadits yang menjelaskan tentang wafatnya Rasulullah SAW, seperti firman Allah SWT dlm Az-Zumar:
“Sesungguhnya kamu akan mati & sesungguhnya mereka akan mati (pula).” (Az-Zumar: 30)
Al-Imam Asy-Syinqithi t menjelaskan bahwa para syuhada merasakan mati dlm alam dunia sehingga harta mereka menjadi warisan & istri mereka pun dapat dinikahi oleh orang lain sesuai ijma’ kaum muslimin. Kematian jenis inilah yang dirasakan oleh Rasulullah SAW sebagaimana kabar dari Allah l.
Di dlm kitab Ash-Shahih disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW wafat maka Abu Bakr Ash-Shiddiq z pun berkata, “Ayah ibuku sebagai jaminan, demi Allah, Allah SWT tak akan mengumpulkan dua kematian untukmu (wahai Rasulullah SAW). Adapun kematian yang telah ditetapkan Allah SWT untukmu telah engkau lewati.”
Demikian juga Abu Bakr z berkata, ”Barangsiapa menyembah Muhammad maka sesungguhnya Muhammad telah wafat.”
Hal ini diucapkan Abu Bakr karena berdalil dgn Al-Qur’an sehingga para sahabat pun mengikuti pernyataan Abu Bakr z tersebut.
Adapun jenis kehidupan yang dijanjikan Allah SWT utk para syuhada dlm Al-Qur’an, demikian juga jenis kehidupan yang diberikan kepada Rasulullah SAW setelah wafatnya, adalah jenis kehidupan di alam barzakh yang tak akan mungkin dapat dirasakan oleh penduduk alam dunia.
Kalau seandainya kehidupan Rasulullah SAW setelah wafatnya adalah kehidupan yang dapat dirasakan oleh penduduk alam dunia tentunya Abu Bakr Ash-Shiddiq z tak perlu menyampaikan bahwa Nabi Muhammad n telah meninggal dunia, tak perlu dimakamkan, tak boleh dipilih seorang khalifah sebagai pengganti beliau, Utsman ztidak akan terbunuh, para sahabatnya tak mungkin berselisih, & tak mungkin Aisyah x mengalami peristiwa pahit dlm sejarah karena Rasulullah SAW akan membimbing. Kalau memang kehidupan Rasulullah SAW dapat dirasakan oleh penduduk alam dunia tentunya pada saat-saat tersebut para sahabat akan bertanya kepada Nabi Muhammad n. (Daf’ul Iihaam 28-30)
Bagaimanakah sebenarnya?
Saudara pembaca…
Banyak sekali dalil yang digunakan orang-orang shufi utk membenarkan keyakinan mereka tentang kemampuan wali atau nabi yang telah meninggal utk menolong mereka. Sebagiannya shahih tetapi salah di dlm penempatan atau pemahaman. Yang lainnya adalah dalil-dalil yang lemah bahkan palsu. Berikut ini beberapa dalil yang sering digunakan oleh mereka (termasuk Tim Bahtsul Masail PCNU Jember).
Pertama
Dari Anas bin Malik z, Rasulullah SAW bersabda:
الأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِيْ قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ
“Para nabi itu hidup di alam kubur mereka & menunaikan shalat.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi & Al-Bazzar serta ulama lainnya.
Beberapa waktu lamanya Asy-Syaikh Al-Albani menilai hadits ini dhaif karena beliau menyangka Ibnu Qutaibah sendirian di dlm meriwayatkan hadits ini, sebagaimana pernyataan Al-Baihaqi, & beliau belum mendapatkan jalan dari Musnad Abu Ya’la & kitab Akhbar Asbahan. Namun, setelah beliau mendapatkan kedua jalan tersebut maka jelaslah bahwa sanadnya kuat & pernyataan Al-Baihaqi tak benar. Oleh karena itu, Asy-Syaikh Al-Albani segera mengeluarkan hadits ini di dlm Ash-Shahihah utk melaksanakan tanggung jawab & amanah ilmiah.
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata, “Kemudian ketahuilah bahwa kehidupan para nabi yang ditetapkan di dlm hadits ini adalah kehidupan alam barzakh & tak terkait sedikitpun dgn kehidupan alam dunia. Oleh karena itu, kehidupan alam barzakh wajib diimani tanpa membuat permisalan serta mencoba utk menyerupakan & menyamakannya dgn kehidupan dunia yang diketahui sekarang. Inilah sikap yang harus diambil oleh seorang mukmin di dlm masalah ini yaitu beriman dgn kandungan hadits ini tanpa menambahkan qiyas (kias/analogi) & pendapat sendiri-sendiri sebagaimana yang dilakukan ahlul bid’ah, yaitu orang-orang yang sebagian dari mereka sampai-sampai menganggap bahwa kehidupan Nabi Muhammad n di kuburnya adalah kehidupan hakiki. Ia menyatakan, ”Nabi pun makan, minum, & menggauli istri-istrinya!!!” Padahal kehidupan di sana hanyalah kehidupan alam barzakh, tak ada yang mengetahui hakikatnya kecuali Allah l.” (Silsilah Shahihah 2/187)
Kedua
مَا مِنْ عَبْدٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ رَجُلٍ كَانَ يَعْرِفُهُ فِي الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلاَّ عَرَفَهُ وَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ
“Tidak seorang pun yang lewat bertemu dgn kuburan saudaranya seiman –yang pernah mengenalnya-, lalu mengucapkan salam kepadanya, kecuali ia akan mengenalnya & membalas salamnya.”
Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Bakr Asy-Syafi’i dlm Majlisan (1/6), Ibnu Jami’ dlm Mu’jam (351), Abul Abbas Al-Asham dlm Ats-Tsani (2/143), Al-Khathib dlm Tarikh (6/137), Tamam dlm Al-Fawaid (1/19/2), Ibnu Asakir (2/209/3), Ad-Dailami (11/4), & Adz-Dzahabi dlm Siyar (12/590) dari sahabat Abu Hurairah z.
Al-Imam Ibnul Jauzi t berkata, “Hadits ini tak shahih. Sungguh mereka telah sepakat tentang dhaifnya Abdurrahman bin Zaid (salah seorang perawi hadits). Ibnu Hibban menyatakan, ‘Ia sering membolak-balikkan kabar dlm keadaan dia tak mengerti hingga hal ini banyak terjadi di dlm riwayatnya. Seperti merafa’kan hadits mursal & mengisnadkan hadits mauquf, maka orang ini berhak utk ditinggalkan’.” (Al-‘Ilal Al-Mutanahiyah, 2/911)
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: Dan sanad hadits ini lemah sekali. Abdurrahman bin Zaid matruk (haditsnya ditinggalkan, red.) sebagaimana telah dilewati berkali-kali. Adz-Dzahabi membawakan hadits ini dlm biografinya & termasuk riwayat yang diingkari darinya.
Ada juga jalan lain dari sahabat Ibnu Abbas c yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr c dlm Syarah Al-Muwaththa’. Namun sanad hadits ini gharib, Abu Abdillah Ubaid bin Muhammad serta Fathimah bintu Ar-Rayyan Al-Makhzumi Al-Mustamli termasuk perawi yang tak dikenal.
Al-Hafizh Ibnu Rajab dlm Ahwal Al-Qubur (2/83) berkata, “Beliau mengisyaratkan bahwa seluruh perawinya tsiqah, & memang demikian. Hanya saja hadits ini gharib bahkan mungkar.” (Adh-Dha’ifah 9/473)
Ketiga
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ عِنْدَ قَبْرِيْ سَمِعْتُهُ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ نَائِيًا وُكِّلَ بِهَا مَلَكٌ يُبَلِّغُنِيْ، وَكُفِيَ بِهَا أَمْرُ دُنْيَاهُ وَآخِرَتُهُ، وَكُنْتُ لَهُ شَهِيْدًا أَوْ شَفِيْعًا
“Barangsiapa bershalawat untukku di samping kuburku maka aku akan mendengarnya. Barangsiapa bershalawat untukku & ia jauh dariku niscaya akan diwakilkan malaikat yang menyampaikannya untukku. Dan dgn shalawat itu ia dicukupkan urusan dunia & akhiratnya. Aku akan menjadi saksi atau pemberi syafaat untuknya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sam’un dlm Al-Amali (2/193/2), Al-Khathib dlm Tarikh (3/291), & Ibnu Asakir (2/70/16)
Menurut Ibnul Jauzi t dlm Al-Maudhu’at (1/303) Muhammad bin Marwan adalah seorang perawi kadzaab (pendusta). Al-Uqaili berkata, “Hadits ini tak ada asalnya.” Ibnu Abdil Hadi t dlm Ash-Sharim Al-Munki (hal. 190) berkata, “Dia (Muhammad bin Marwan) matrukul hadits muttaham bilkadzib (haditsnya ditinggalkan & tertuduh dgn kedustaan).”
Syaikhul Islam t berkata tentang hadits ini dlm Majmu’ Fatawa (27/241), “Hadits ini maudhu’ (palsu), yang meriwayatkan dari Al-A’masy hanya Muhammad bin Marwan As-Suddi, & dia kadzdzab (pendusta) menurut kesepakatan (ahli hadits). Hadits ini dipalsukan atas Al-A’masy dgn kesepakatan mereka.”
Asy-Syaikh Al-Albani t berkata dlm Silsilah Adh-Dha’ifah (1/366), “Hadits ini maudhu’ (palsu) dgn lafadz ini secara keseluruhan.”
Penutup
Saudara pembaca…
Al-Imam Adz-Dzahabi t dlm Siyar A’lam An-Nubala’ (9/409) menyebutkan sebuah kisah singkat tentang Al-Imam Ali Al-Madini. Al-Imam Ali Al-Madini berkata, ”Suatu hari aku pernah menemui Ahmad bin Atha’ Al-Hujaimi. Ketika itu aku menjumpainya sedang membawa lembaran-lembaran kertas utk menyampaikan hadits. Aku pun bertanya kepadanya, ‘Engkau mendengar sendiri hadits-hadits ini?’
Ia menjawab, ‘Tidak, akan tetapi aku membeli catatan ini karena di dalamnya terdapat hadits-hadits yang bagus sehingga aku bisa menyampaikannya kepada orang lain.’
Aku pun berkata, ‘Apakah engkau tak takut kepada Allah l? Apakah engkau ingin mendekatkan manusia kepada Allah SWT dgn berdusta atas nama Rasulullah SAW?’.”
Kemudian Al-Imam Adz-Dzahabi t memberikan komentar, ”Orang tersebut tak mengerti tentang ilmu hadits. Ia hanyalah seorang hamba yang shalih & telah keliru dlm perkara Al-Qadar. Kita berlindung kepada Allah SWT dari kedustaan-kedustaan kaum shufiyah. Tidak ada kebaikan kecuali dgn ittiba’ (mengikuti Rasulullah SAW) & ittiba’ seseorang tak akan sempurna kecuali dgn mengetahui sunnah-sunnah beliau.” Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 055

Under Category Uncategorized