Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Menepati Janji Akhlak Yang Terpuji

Menepati Janji Akhlak Yang Terpuji

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.)
Janji memang ringan diucapkan namun berat utk ditunaikan. Betapa banyak orangtua yang mudah mengobral janji kepada anaknya tapi tak pernah menunaikannya. Betapa banyak orang yang dgn entengnya berjanji utk bertemu namun tak pernah menepatinya. Dan betapa banyak pula orang yang berhutang namun menyelisihi janjinya. Bahkan meminta udzur pun tidak. Padahal, Rasulullah telah banyak memberikan teladan dlm hal ini termasuk larangan keras menciderai janji dgn orang-orang kafir.

Manusia dlm hidup ini pasti ada keterikatan & pergaulan dgn orang lain. Maka setiap kali seorang itu mulia dlm hubungannya dgn manusia & terpercaya dlm pergaulannya bersama mereka, maka akan menjadi tinggi kedudukannya & akan meraih kebahagiaan dunia & akhirat. Sementara seseorang tak akan bisa meraih predikat orang yang baik & mulia pergaulannya, kecuali jika ia menghiasi dirinya dgn akhlak-akhlak yang terpuji. Dan di antara akhlak terpuji yang terdepan adalah menepati janji.
Sungguh Al-Qur`an telah memerhatikan permasalahan janji ini & memberi dorongan serta memerintahkan utk menepatinya. Allah SWT berfirman:
“Dan tepatilah perjanjian dgn Allah apabila kamu berjanji & janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….” (An-Nahl: 91)
Allah SWT juga berfirman:
“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 34)
Demikianlah perintah Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang beriman utk senantiasa menjaga, memelihara, & melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah l, janji hamba dgn hamba, & janji atas dirinya sendiri seperti nadzar. Masuk pula dlm hal ini apa yang telah dijadikan sebagai persyaratan dlm akad pernikahan, akad jual beli, perdamaian, gencatan senjata, & semisalnya.
Para Rasul Menepati Janji
Seperti yang telah dijelaskan bahwa menepati janji merupakan akhlak terpuji yang terdepan. Maka tak heran jika para rasul yang merupakan panutan umat & penyampai risalah Allah SWT kepada manusia, menghiasi diri mereka dgn akhlak yang mulia ini. Inilah Ibrahim q, bapak para nabi & imam ahlut tauhid. Allah SWT telah menyifatinya sebagai orang yang menepati janji. Allah SWT berfirman:
“Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji.” (An-Najm: 37)
Maksudnya bahwa Nabi Ibrahim q telah melaksanakan seluruh apa yang Allah SWT ujikan & perintahkan kepadanya dari syariat, pokok-pokok agama, serta cabang-cabangnya.
Dan Allah SWT berfirman tentang Nabi Ismail q:
“Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya” (Maryam: 54)
Yakni tidaklah ia menjanjikan sesuatu kecuali dia tepati. Hal ini mencakup janji yang ia ikrarkan kepada Allah SWT maupun kepada manusia. Oleh karena itu, tatkala ia berjanji atas dirinya utk sabar disembelih oleh bapaknya –karena perintah Allah l– ia pun menepatinya dgn menyerahkan dirinya kepada perintah Allah l. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 822 & 496)
Adapun Nabi Muhammad n, beliau memperoleh bagian yang besar dlm permasalahan ini. Sebelum diutus oleh Allah, beliau n telah dijuluki sebagai seorang yang jujur lagi terpercaya. Maka tatkala beliau n diangkat menjadi rasul, tidaklah perangai yang mulia ini kecuali semakin sempurna pada dirinya. Sehingga orang-orang kafir pun mengaguminya, terlebih mereka yang mengikuti & beriman kepadanya.
Adalah Nabi pada tahun keenam Hijriah berangkat dari Madinah menuju Makkah utk melaksanakan umrah beserta para sahabatnya. Waktu itu Makkah masih dikuasai musyrikin Quraisy. Ketika sampai di Al-Hudaibiyah, beliau n & kaum muslimin dihadang oleh kaum musyrikin. Terjadilah di sana perundingan antara Rasulullah SAW & kaum musyrikin. Disepakatilah butir-butir perjanjian yang di antaranya adalah gencatan senjata selama sepuluh tahun, tak boleh saling menyerang, bahwa kaum muslimin tak boleh umrah tahun ini tetapi tahun depan –di mana ini dirasakan sangat berat oleh kaum muslimin karena mereka harus membatalkan umrahnya–, & kalau ada orang Makkah masuk Islam lantas pergi ke Madinah, maka dari pihak muslimin harus memulangkannya ke Makkah.
Bertepatan dgn akan ditandatanganinya perjanjian tersebut, anak Suhail –juru runding orang Quraisy– masuk Islam & ingin ikut bersama sahabat Nabi ke Madinah. Suhail pun mengatakan kepada Nabi bahwa jika anaknya tak dipulangkan kembali, dia tak akan menandatangani kesepakatan. Rasulullah SAW akhirnya menandatangani perjanjian tersebut & menepati janjinya. Anak Suhail dikembalikan, & muslimin harus membatalkan umrahnya. Namun di balik peristiwa itu justru kebaikan bagi kaum muslimin, di mana dakwah tersebar & ada nafas utk menyusun kembali kekuatan. Namun belumlah lama perjanjian itu berjalan, orang-orang kafir lah yang justru mengkhianatinya. Akibat pengkhianatan tersebut, mereka harus menghadapi pasukan kaum muslimin pada peristiwa pembukaan kota Makkah (Fathu Makkah) sehingga mereka bertekuk lutut & menyerah kepada kaum muslimin. Dengan demikian, jatuhlah markas komando musyrikin ke tangan kaum muslimin. Manusia pun masuk Islam dgn berbondong-bondong. Demikianlah di antara buah menepati janji: datangnya pertolongan & kemenangan dari Allah l. (Zadul Ma’ad, 3/262)

Para Salaf dlm Menepati Janji
Dahulu ada seorang sahabat Nabi bernama Anas bin An-Nadhr z. Dia amat menyesal karena tak ikut perang Badr bersama Rasulullah SAW. Dia berjanji jika Allah SWT memperlihatkan kepadanya medan pertempuran bersama Rasulullah SAW, niscaya Allah SWT akan melihat pengorbanan yang dilakukannya.
Ketika berkobar perang Uhud, dia berangkat bersama Rasulullah SAW. Dalam perang ini kaum muslimin terpukul mundur & sebagian lari dari medan pertempuran. Di sinilah terbukti janji Anas. Dia terus maju menerobos barisan musuh sehingga terbunuh. Ketika perang telah usai & kaum muslimin mencari para syuhada Uhud, didapati pada tubuh Anas bin An-Nadhr ada 80 lebih tusukan pedang, tombak, & panah, sehingga tak ada yang bisa mengenalinya kecuali saudarinya. Lalu turunlah ayat Al-Qur`an:
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu & mereka sedikitpun tak mengubah (janjinya).” (Al-Ahzab: 23) [Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Ahzab, 3/484 & Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 3200]
Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i z, dia berkata: “Dahulu kami –berjumlah– tujuh atau delapan atau sembilan orang di sisi Nabi n. Maka beliau bersabda: “Tidakkah kalian berbai’at kepada Rasulullah?” Maka kami bentangkan tangan kami. Lantas ada yang berkata: “Kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah SAW, lalu atas apa kami membaiat anda?” Nabi bersabda:
“Kalian menyembah Allah & tak mempersekutukan-Nya sedikitpun, kalian menegakkan shalat lima waktu, mendengar & taat (kepada penguasa) –dan Nabi mengucapkan kalimat yang samar– (lalu berkata), & kalian tak meminta sesuatu pun kepada manusia.”
‘Auf bin Malik z berkata: “Sungguh aku melihat cambuk sebagian orang-orang itu jatuh namun mereka tak meminta kepada seorang pun utk mengambilkannya.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 2334)
Seperti itulah besarnya permasalahan menepati janji di mata generasi terbaik umat ini. Karena mereka yakin bahwa janji itu akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah l. Dan tiada kalimat yang terucap kecuali di sisinya ada malaikat pencatat. Intinya, keimanan yang benar itulah yang akan mewariskan segala tingkah laku & perangai terpuji.
Hal ini sangat berbeda dgn orang yang hanya bisa memberi janji-janji manis yang tak pernah ada kenyataannya. Tidakkah mereka takut kepada adzab Allah SWT karena ingkar janji? Tidakkah mereka tahu bahwa ingkar janji adalah akhlak Iblis & para munafikin? Ya. Seruan ini mungkin bisa didengar, tetapi bagaimana bisa mendengar orang yang telah mati hatinya & dikuasai oleh setannya.
Iblis Menebar Janji Manis
Semenjak Allah SWT menciptakan Adam q & memuliakannya di hadapan para malaikat, muncullah kedengkian & menyalalah api permusuhan pada diri Iblis. Terlebih lagi ketika Allah SWT mengutuknya & mengusirnya dari surga. Iblis berikrar akan menyesatkan manusia dgn mendatangi mereka dari berbagai arah sehingga dia mendapat teman yang banyak di neraka nanti. Berbagai cara licik dilakukan oleh Iblis. Di antaranya dgn membisikkan pada hati manusia janji-janji palsu & angan-angan yang hampa.
Pada waktu perang Badr, Iblis datang bersama para setan pasukannya dgn membawa bendera. Ia menjelma seperti seorang lelaki dari Bani Mudlaj dlm bentuk seseorang yang bernama Suraqah bin Malik bin Ju’syum. Ia berkata kepada kaum musyrikin: “Tidak ada seorang manusia pun yang bisa menang atas kalian pada hari ini. Dan aku ini sesungguhnya pelindung kalian.” Tatkala dua pasukan siap bertempur, Rasulullah SAW mengambil segenggam debu lalu menaburkannya pada wajah pasukan musyrikin sehingga mereka lari ke belakang. Kemudian malaikat Jibril mendatangi Iblis. Ketika Iblis melihat Jibril & waktu itu tangannya ada pada genggaman seorang lelaki, ia berusaha melepaskannya kemudian lari terbirit-birit beserta pasukannya. Lelaki tadi berkata: “Wahai Suraqah, bukankah kamu telah menyatakan pembelaan terhadap kami?” Iblis berkata: “Aku melihat apa yang tak kamu lihat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/330 & Ar-Rahiq Al-Makhtum hal. 304)
Allah SWT berfirman:
“Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka & mengatakan: ‘Tidak ada seorang manusia pun yang bisa menang atas kalian pada hari ini, & sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.’ Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling melihat (berhadapan), setan itu berbalik ke belakang seraya berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian; sesungguhnya aku melihat apa yang kalian tak melihatnya; sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (Al-Anfal: 48)
Tanda-tanda Kemunafikan
Menepati janji adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang tak menjaga perjanjiannya maka tak ada agama baginya. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda kemunafikan & bukti atas adanya makar yang jelek serta rusaknya hati.
“Tanda-tanda munafik ada tiga; apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, & apabila dipercaya khianat.” (HR. Muslim, Kitabul Iman, Bab Khishalul Munafiq no. 107 dari jalan Abu Hurairah z)
Seorang mukmin tampil beda dgn munafik. Apabila dia berbicara, jujur ucapannya. Bila telah berjanji ia menepatinya, & jika dipercaya utk menjaga ucapan, harta, & hak, maka ia menjaganya. Sesungguhnya menepati janji adalah barometer yang dengannya diketahui orang yang baik dari yang jelek, & orang yang mulia dari yang rendahan. (Lihat Khuthab Mukhtarah, hal. 382-383)
Menjaga Ikatan Perjanjian Walaupun Terhadap Orang Kafir
Orang yang membaca sirah (sejarah) Nabi & generasi Salafush Shalih akan mendapati bahwa menepati janji & ikatan perjanjian tak terbatas hanya sesama kaum muslimin. Bahkan terhadap lawan pun demikian. Sekian banyak perjanjian yang telah diikat antara Nabi & orang-orang kafir dari Ahlul Kitab & musyrikin, tetap beliau n jaga, sampai mereka sendiri yang memutus tali perjanjian itu. Allah SWT berfirman:
“Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) & mereka tak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu & tak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 4)
Dahulu antara Mu’awiyah bin Abi Sufyan c ada ikatan perjanjian (gencatan senjata) dgn bangsa Romawi. Suatu waktu Mu’awiyah bermaksud menyerang mereka di mana dia tergesa-gesa satu bulan (sebelum habis masa perjanjiannya). Tiba-tiba datang seorang lelaki mengendarai kudanya dari negeri Romawi seraya mengatakan: “Tepatilah janji & jangan berkhianat!” Ternyata dia adalah seorang sahabat Nabi yang bernama ‘Amr bin ‘Absah. Mu’awiyah lalu memanggilnya. Maka ‘Amr berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda (yang artinya): “Barangsiapa antara ia dgn suatu kaum ada perjanjian maka tak halal baginya utk melepas ikatannya sampai berlalu masanya atau mengembalikan perjanjian itu kepada mereka dgn cara yang jujur.” Akhirnya Mu’awiyah menarik diri beserta pasukannya. (Lihat Syu’abul Iman no. 4049-4050 & Ash-Shahihah 5/472 hadits no. 2357)
Kalau hal itu bisa dilakukan terhadap kaum musyrikin, tentu lebih-lebih lagi terhadap kaum muslimin, kecuali perjanjian yang maksiat, maka tak boleh dilaksanakan. Nabi bersabda:
“Dan kaum muslimin (harus menjaga) atas persyaratan/perjanjian mereka, kecuali persyaratan yang mengharamkan yang dihalalkan atau menghalalkan yang haram.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1352, lihat Irwa`ul Ghalil no. 1303)
Menunaikan Nadzar & Membayar Hutang
Di antara bentuk menunaikan janji adalah membayar hutang apabila jatuh temponya & tiba waktu yang telah ditentukan. Nabi bersabda:
“Barangsiapa yang mengambil harta manusia dlm keadaan ingin menunaikannya niscaya Allah akan (memudahkan untuk) menunaikannya. Dan barangsiapa mengambilnya dlm keadaan ingin merusaknya, niscaya Allah akan melenyapkannya.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari & Ibnu Majah dari Abu Hurairah z, lihat Faidhul Qadir, 6/54)
Adapun menunaikan nadzar, maka Allah SWT berfirman:
“Mereka menunaikan nadzar & takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana.” (Al-Insan: 7)
Janji yang Paling Berhak Untuk Dipenuhi
Nabi bersabda:
“Syarat/janji yang paling berhak utk ditepati adalah syarat yang kalian halalkan dengannya kemaluan.” (HR. Al-Bukhari no. 2721)
Yakni syarat/janji yang paling berhak utk dipenuhi adalah yang berkaitan dgn akad nikah seperti mahar & sesuatu yang tak melanggar aturan agama. Jika persyaratan tadi bertentangan dgn syariat maka tak boleh dilakukan, seperti seorang wanita yang mau dinikahi dgn syarat ia (laki-lakinya) menceraikan isterinya terlebih dahulu. (Lihat Fathul Bari, 9/218)
Larangan Ingkar Janji terhadap Anak Kecil
Sikap mengingkari janji terhadap siapapun tak dibenarkan agama Islam, meskipun terhadap anak kecil. Jika ini yang terjadi, disadari atau tidak, kita telah mengajarkan kejelekan & menanamkan pada diri mereka perangai yang tercela.
Al-Imam Abu Dawud t telah meriwayatkan hadits dari sahabat Abdullah bin ‘Amir c dia berkata: “Pada suatu hari ketika Rasulullah SAW duduk di tengah-tengah kami, (tiba-tiba) ibuku memanggilku dgn mengatakan: ‘Hai kemari, aku akan beri kamu sesuatu!’ Rasulullah SAW mengatakan kepada ibuku: ‘Apa yang akan kamu berikan kepadanya?’ Ibuku menjawab: ‘Kurma.’ Lalu Rasulullah SAW bersabda:
أَمَا إِنَّكِ لَوْ لـَمْ تُعْطِهِ شَيْئًا كُتِبَتْ عَلَيْكِ كِذْبَةٌ
“Ketahuilah, seandainya kamu tak memberinya sesuatu maka ditulis bagimu kedustaan.” (HR. Abu Dawud bab At-Tasydid fil Kadzib no. 498, lihat Ash-Shahihah no. 748)
Di dlm hadits ini ada faedah bahwa apa yang biasa diucapkan oleh manusia utk anak-anak kecil ketika menangis seperti kalimat janji yang tak ditepati atau menakut-nakuti dgn sesuatu yang tak ada adalah diharamkan. (‘Aunul Ma’bud, 13/ 229)
Abdullah bin Mas’ud z berkata:
لَا يَصْلُحُ الْكَذِبُ فِي جِدٍّ وَلَا هَزْلٍ، وَلَا أَنْ يَعِدَ أَحَدُكُمْ وَلَدَهُ شَيْئًا ثُمَّ لَا يُنْجِزُ لَهُ
“Kedustaan tak dibolehkan baik serius atau main-main, & tak boleh salah seorang kalian menjanjikan anaknya dgn sesuatu lalu tak menepatinya.” (Shahih Al-Adabul Mufrad no. 300)
Larangan Menunaikan Janji Yang Maksiat
Menunaikan janji ada pada perkara yang baik & maslahat, serta sesuatu yang sifatnya mubah/boleh menurut syariat. Adapun jika seorang memberikan janji dgn suatu kemaksiatan atau kemudaratan, atau mengikat perjanjian yang mengandung bentuk kejelekan & permusuhan, maka menepati janji pada perkara-perkara ini bukanlah sifat orang-orang yang beriman, & wajib utk tak menunaikannya. Nabi bersabda:
لَا وَفَاءَ لِنَذْرٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ
“Tidak boleh menepati nadzar dlm maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad dari sahabat Jabir z, lihat Shahihul Jami’ no. 7574)
Surga Firdaus bagi yang Menepati Janji
Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang beriman lagi bersih. Dan surga bertingkat-tingkat keutamaannya, sedangkan yang tertinggi adalah Firdaus. Darinya memancar sungai-sungai yang ada dlm surga & di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rahman. Tempat kemuliaan yang besar ini diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang baik, di antaranya adalah menepati janji. Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) & janjinya.” (Al-Mu`minun:
Nabi bersabda (yang artinya): “Jagalah enam perkara dari kalian niscaya aku jamin bagi kalian surga; jujurlah bila berbicara, tepatilah jika berjanji, tunaikanlah apabila kalian diberi amanah, jagalah kemaluan, tundukkanlah pandangan & tahanlah tangan-tangan kalian (dari sesuatu yang dilarang).” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim & Al-Baihaqi dlm Syu’abul Iman, lihat Ash-Shahihah no. 1470)
Ingkar Janji Mendatangkan Kutukan & Menjerumuskan ke dlm Siksa
Siapapun orangnya yang masih sehat fitrahnya tak akan suka kepada orang yang ingkar janji. Karenanya, dia akan dijauhi di tengah-tengah masyarakat & tak ada nilainya di mata mereka.
Namun anehnya ternyata masih banyak orang yang jika berjanji hanya sekedar igauan belaka. Dia tak peduli dgn kehinaan yang disandangnya, karena orang yang punya mental suka dgn kerendahan tak akan risih dgn kotoran yang menyelimuti dirinya. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka itu tak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, & mereka tak takut (akibat-akibatnya).” (Al-Anfal: 55-56)
Nabi bersabda:
لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ عِنْدَ إِسْتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Bagi setiap pengkhianat (akan ditancapkan) bendera pada pantatnya di hari kiamat.” (HR. Muslim bab Tahrimul Ghadr no. 1738 dari Abu Sa’id Al-Khudri z)

Khatimah
Demikianlah indahnya wajah Islam yang menjunjung tinggi etika & adab pergaulan. Ini sangat berbeda dgn apa yang disaksikan oleh dunia saat ini berupa kecongkakan Yahudi, Nasrani, & musyrikin serta pengkhianatan mereka terhadap kaum muslimin.
Saat menapaki sejarah, kita bisa menyaksikan, para pengkhianat perjanjian akan berakhir dgn kemalangan. Tentunya tak lupa dari ingatan kita tentang nasib tiga kelompok Yahudi Madinah, yaitu Bani Quraizhah, Bani An-Nadhir, & Bani Qainuqa’ yang berkhianat setelah mengikat tali perjanjian dgn Rasulullah SAW yang berujung dgn kehinaan. Di antara mereka ada yang dibunuh, diusir, & ditawan.
Mungkin watak tercela itu sangat melekat pada diri mereka karena tak adanya keimanan yang benar. Tetapi bagi orang-orang yang mendambakan kebahagiaan hakiki & ditolong atas musuh-musuhnya, mereka menjadikan etika yang mulia sebagai salah satu modal dari sekian modal demi tegaknya kalimat Allah SWT & terwujudnya harapan. Yakinlah, Islam akan senantiasa tinggi, & tiada yang lebih tinggi darinya. Wallahu a’lam.

 

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 034

Under Category Uncategorized