Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Memukul Anak Sifat Rasulullah

Memukul Anak Sifat Rasulullah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)
Anak tak selamanya harus disikapi lembut. Terkadang kita perlu menghukumnya karena kenakalan atau kesalahan mereka. Tentunya semua itu dlm bingkai pendidikan. Sehingga tak bertindak berlebihan yang justru mempengaruhi kejiwaan si anak.
Anak, bagaimanapun juga tak terlepas dari berbagai macam tingkah & polahnya. Beragam perilaku dapat kita saksikan pada diri mereka. Masing-masing anak dlm satu keluarga pun seringkali berbeda perangainya. Terkadang di antara mereka ada yang nampak amat patuh & sangat mudah diatur. Sedangkan yang lain, demikian bandel atau sering melakukan berbagai pelanggaran.
Yang demikian ini tentu tak boleh dibiarkan. Mau tak mau, orang tua harus mengetahui seluk-beluk mengarahkan anak. Haruskah segala keadaan dihadapi dgn kelemahlembutan & penuh toleransi? Atau sebaliknya, selalu diatasi dgn hardikan & wajah yang garang?
Selayaknya orang tua mengetahui sisi-sisi yang perlu dipertimbangkan ketika hendak menghukum anak, karena setiap keadaan menuntut sikap yang berbeda. Orang tua perlu meninjau, apakah permasalahan yang terjadi merupakan sesuatu yang betul-betul tercela atau tidak? Apakah si anak yang melakukannya mengetahui akan kejelekan & bahaya hal tersebut, ataukah dia dlm keadaan tak mengerti tentang hal itu maupun hukumnya?
Pada dasarnya, orang tua perlu menyertakan kelemahlembutan dlm mengarahkan anak-anaknya. Demikianlah contoh yang dapat ditemukan dari sosok Rasulullah SAW dlm mengarahkan & membimbing umat beliau. Bahkan demikianlah sifat Rasulullah SAW yang disebutkan dlm Kitabullah:
“Maka karena rahmat Allah-lah engkau bersikap lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kaku & keras hati, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran: 159)
Al-Hasan Al-Bashri t mengatakan: “Ini adalah akhlak Muhammad n yang Allah I utus dgn membawa akhlak ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/106)
Bukankah termasuk kewajiban terbesar & perkara terpenting bagi seseorang utk meneladani akhlak beliau yang mulia ini? Serta bergaul dgn manusia sebagaimana beliau bergaul, dgn sikap lembut, akhlak yang baik & melunakkan hati mereka, dlm rangka menunaikan perintah Allah I & memikat hati hamba-hamba Allah I  utk mengikuti agama-Nya? (Taisirul Karimir Rahman, hal. 154)
Begitu banyak anjuran Rasulullah SAW utk bersikap lemah lembut. Di antaranya disampaikan oleh istri beliau, ‘Aisyah x, ketika beliau bersabda:
“Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut & menyukai kelembutan. Allah memberikan pada kelembutan apa yang tak Dia berikan pada kekerasan & apa yang tak Dia berikan pada yang lainnya.” (HR. Muslim no. 2593)
Maknanya, Allah I memberikan pahala atas kelembutan yang tak Dia berikan pada yang lainnya. Al-Qadhi mengatakan bahwa maknanya, dgn kelembutan itu akan dapat meraih berbagai tujuan & mudah mencapai apa yang diharapkan, yang tak dapat diraih dgn selainnya. (Syarh Shahih Muslim, 16/144)
Demikian pula ‘Aisyah x mengisahkan bahwa Rasulullah r pernah memerintahkan kepadanya:
“Hendaklah engkau bersikap lembut. Karena tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, kecuali pasti memperindahnya. Dan tidaklah kelembutan itu tercabut dari sesuatu, kecuali pasti memperjeleknya.” (HR. Muslim no. 2594)
Maksudnya, hendaklah engkau bersikap lembut dgn berlemah lembut kepada siapa pun yang ada di sekitarmu, sederhana dlm segala sesuatu & menghukum dgn bentuk yang paling ringan & paling baik. (Faidhul Qadir, 4/334)
Dalam riwayat dari Jarir bin Abdillah z, Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang terhalang dari kelembutan, dia akan terhalang dari kebaikan.” (HR. Muslim no. 2592)
Oleh karena itu, apabila orang tua ingin memperbaiki keadaan anaknya, hendaknya menggunakan kata-kata yang lembut & berbagai bentuk anjuran. Apabila tak memungkinkan menggunakan kata-kata yang baik, maka dapat digunakan ucapan yang mengandung hardikan, juga ancaman sesuai dgn kesalahan & perbuatan dosa yang dilakukan. Apabila hal itu tak dapat dilakukan & tak memberi manfaat, maka saat itulah dibutuhkan pukulan.
Namun bagaimanapun, keadaan setiap anak berbeda. Demikian pula tabiat mereka. Di antara mereka ada yang cukup dgn pandangan mata utk mendidik & memarahinya, & hal itu sudah memberikan pengaruh yang cukup mendalam serta membuatnya berhenti dari kesalahan yang dilakukannya. Ada anak yang bisa mengerti & memahami maksud orang tua ketika orang tua memalingkan wajahnya sehingga dia berhenti dari kesalahannya. Ada yang cukup diberi pengarahan dgn kata-kata yang baik. Ada pula anak yang tak dapat diperbaiki kecuali dgn pukulan. Tidak ada yang memberi manfaat padanya kecuali sikap yang keras. Saat itulah dibutuhkan pukulan & sikap keras sekedar utk memperbaiki keadaan si anak dgn tak melampaui batas. Ibarat seorang dokter yang memberikan suntikan kepada seorang pasien. Suntikan itu memang akan terasa sakit bagi si pasien, namun itu hanya diberikan sesuai kadar penyakitnya. Sehingga boleh seseorang bersikap keras terhadap anak-anaknya manakala melihat mereka lalai atau mendapati kesalahan pada diri mereka. (Fiqh Tarbiyatil Abna`, hal. 170-171)
Rasulullah r memerintahkan orang tua utk memukul anaknya apabila mereka enggan menunaikan shalat ketika telah berusia 10 tahun. Demikian yang disampaikan Abdul Malik bin Ar-Rabi’ bin Sabrah dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah r bersabda:
“Perintahkanlah anak utk shalat ketika telah mencapai usia tujuh tahun. Dan bila telah berusia sepuluh tahun, pukullah dia bila enggan menunaikannya.” (HR. Abu Dawud no. 494, & dikatakan Asy-Syaikh Al-Albani dlm Shahih Sunan Abi Dawud: hasan shahih)
Banyak contoh yang dapat dilihat dari para pendahulu kita yang shalih. Di antaranya dikisahkan oleh Nafi’ t, maula (bekas budak) Abdullah bin ‘Umar c:
“Bahwasanya Abdullah bin ‘Umar z apabila mendapati salah seorang anggota keluarganya bermain dadu, beliau memukulnya & memecahkan dadu itu.” (HR. Al-Bukhari dlm Al-Adabul Mufrad no. 1273. Asy-Syaikh Al-Albani t berkata dlm Shahih Al-Adabul Mufrad: shahihul isnad mauquf)
Begitu pula Ummul Mukminin ‘Aisyah x, sebagaimana penuturan Syumaisah Al-’Atakiyyah:
“Pernah disebutkan tentang pendidikan bagi anak yatim di sisi ‘Aisyah x, maka beliau pun berkata, ‘Sungguh, aku pernah memukul anak yatim yang ada dlm asuhanku hingga dia telungkup menangis di tanah.” (HR. Al-Bukhari dlm Al-Adabul Mufrad no. 142, & dikatakan Asy-Syaikh Al-Albani t dlm Shahih Al-Adabul Mufrad: shahihul isnad)
Akan tetapi, ada yang perlu diperhatikan dlm hal ini. Orang tua tak diperkenankan memukul wajah. Hal ini secara umum dilarang Rasulullah r, sebagaimana dlm hadits Abi Hurairah z:
“Apabila salah seorang di antara kalian memukul, hendaknya menghindari wajah.” (HR. Al-Bukhari no. 2559 & Muslim no. 2612)
Para ulama mengatakan bahwa ini adalah larangan memukul wajah secara tegas. Karena wajah merupakan sesuatu yang lembut yang terkumpul padanya seluruh keindahan. Anggota-anggota tubuh yang ada di wajah demikian berharga, & sebagian besar penginderaan seseorang diperoleh dgn anggota tubuh tersebut. Sehingga terkadang pukulan di wajah bisa menghilangkan atau mengurangi fungsi anggota tubuh itu, terkadang pula menjadikan wajah cacat. Sementara cacat di wajah itu sendiri demikian buruk karena nampak jelas & tak mungkin ditutupi. Dan pada umumnya pukulan di wajah itu tak lepas dari kemungkinan timbulnya cacat. Termasuk pula dlm larangan ini seseorang yang memukul istri, anak, ataupun budaknya dlm rangka mendidik, hendaknya dia hindari wajah. (Syarh Shahih Muslim, 16/164)
Hal lain yang perlu diperhatikan pula, pukulan pada si anak adalah semata-mata dlm rangka mendidik. Yang dimaksud dgn pukulan yang mendidik adalah pukulan yang tak membahayakan. Sehingga tak diperkenankan seorang ayah memukul anaknya dgn pukulan yang melukai, tak boleh pula pukulan yang bertubi-tubi tanpa ada keperluan. Namun bila dibutuhkan, misalnya sang anak tak mau menunaikan shalat kecuali dgn pukulan, maka sang ayah boleh memukulnya dgn pukulan yang membuat jera, namun tak melukai. Karena Rasulullah r memerintahkan orang tua utk memukul bukan utk menyakiti si anak, melainkan utk mendidik & meluruskan mereka. (Syarh Riyadhish Shalihin, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 2/123-124)
Semua ini perlulah kiranya utk diketahui oleh orang tua yang hendak mengarahkan anak-anak mereka, mengingat tanggung jawab yang dibebankan ke pundak mereka, manakala Rasulullah r bersabda:
“Ketahuilah, setiap kalian adalah penanggung jawab & akan ditanyai tentang tanggung jawabnya. Seorang pemimpin yang memimpin manusia adalah penanggung jawab & kelak akan ditanya tentang mereka. Seorang laki-laki adalah penanggung jawab atas keluarganya & kelak dia akan ditanya tentang mereka. Seorang istri adalah penanggung jawab rumah tangga & anak-anak suaminya, & kelak akan ditanya. Seorang hamba sahaya adalah penanggung jawab harta tuannya & kelak dia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah penanggung jawab & kelak akan ditanyai tentang tanggung jawabnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5188 & Muslim no. 1829)
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 024

Under Category Uncategorized