Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Makna dan Kandungan Lailahaillallah

Makna dan Kandungan Lailahaillallah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.)
 
KHUTBAH PERTAMA
 
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَه وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,
Segala puji kita panjatkan kepada Allah l, Rabb yang mencipta, menguasai & mengatur alam semesta. Kita senantiasa memuji Allah SWT karena keagungan & kesempurnaan-Nya, serta karena keadilan hukum-hukum-Nya & hikmah yang ada di balik ketentuan-ketentuan-Nya.
 
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita sentiasa menjaga diri kita dari adzab api neraka. Yaitu dgn menjalankan perintah-perintah Allah SWT & menjauhi larangan-larangan-Nya. Terlebih perintah yang paling besar yaitu tauhid, & larangan yang paling besar yaitu berbuat syirik. Karena pentingnya hal ini, Allah SWT menjadikan tauhid sebagi perintah yang pertama di dlm Al-Qur`an. Yaitu di dlm firman-Nya:
“Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu & orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 21)
Kemudian Allah SWT mengiringkan perintah tauhid ini dgn larangan yang pertama di dlm Al-Qur`an, yaitu perbuatan syirik. Hal ini sebagaimana dlm firman-Nya:
“Maka, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 22)
 
Hadirin jamaah jum’ah rahimakumullah,
Sungguh merupakan pemandangan yang sangat memprihatinkan, ketika kita dapati ternyata banyak di antara kaum muslimin yang masih melakukan perbuatan syirik ini. Di antara perbuatan syirik yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin adalah menjadikan orang-orang yang sudah meninggal dunia sebagai perantara dlm meminta kepada Allah l, sehingga iapun meminta & berdoa kepadanya. Sebagian mereka menganggap bahwa perbuatan yang mereka lakukan bukanlah syirik. Karena mereka menyangka bahwa syirik adalah beribadah kepada patung. Sementara mereka berdoa kepada orang yang dianggap shalih yang telah meninggal dunia, & itupun hanya sebatas menjadikan mereka sebagai perantara. Tidak meyakini bahwa orang shalih yang telah meninggal tersebut bisa menghilangkan kesulitan atau mengabulkan apa yang mereka butuhkan. Bahkan mereka meyakini bahwa Allah SWT sajalah satu-satunya pencipta, penguasa & pengatur alam semesta.
 
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwa orang-orang kafir di zaman Nabi bukanlah orang-orang yang mengingkari bahwa Allah SWT adalah satu-satunya pencipta, penguasa, & pengatur alam semesta ini. Allah SWT menyebutkan tentang mereka dlm firman-Nya:
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit & bumi?’ Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah’.” (Luqman: 25)
Orang-orang musyrikin dahulu, juga bukan orang-orang yang hanya beribadah pada patung saja. Mereka juga beribadah kepada kuburan orang-orang yang dianggap shalih. Bahkan perbuatan syirik yang pertama kali terjadi di muka bumi ini adalah berupa peribadatan kepada orang shalih yang telah meninggal dunia, sebagaimana yang tersebut dlm firman Allah SWT :
“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan yang kalian ibadahi & jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (sesembahan) Wadd, & jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, & Nasr’.” (Nuh: 23)
Disebutkan dlm Shahih Al-Bukhari bahwa sahabat Abdullah ibnu ‘Abbas c menerangkan berkaitan dgn ayat tersebut: “Nama-nama yang disebutkan di dlm ayat tersebut adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh q. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaum Nabi Nuh q utk meletakkan pada majelis-majelis mereka patung/prasasti utk mengenang orang shalih tersebut. Dan (setan membisikkan) agar mereka memberi nama patung-patung tersebut dgn nama-nama orang shalih (yang telah meninggal) tadi. Merekapun mengikuti bisikan setan tersebut. Pada awalnya patung-patung tersebut tak mereka ibadahi. Namun ketika datang generasi setelah mereka & juga setelah ilmu dilupakan, akhirnya patung/prasasti tersebut diibadahi.”
Adapun keyakinan mereka bahwa orang shalih yang telah meninggal dunia tersebut sekadar dijadikan perantara, tanpa meyakini bahwa mereka bisa menghilangkan musibah & yang lainnya, adalah keyakinan yang tak berbeda dgn keyakinan orang-orang musyrikin di zaman dahulu. Allah SWT menyebutkan tentang mereka di dlm firman-Nya:
“Dan mereka beribadah kepada selain Allah apa yang tak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka & tak (pula) kemanfaatan, & mereka berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada Kami di sisi Allah’.” (Yunus: 18)
 
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,
Dari ayat-ayat tersebut kita mengetahui bahwa perbuatan menjadikan orang yang telah meninggal dunia sebagai perantara dlm meminta kepada Allah SWT adalah agama orang-orang musyrikin. Bukan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Bahkan itu adalah agama Abu Jahl & Abu Lahab serta orang-orang musyrikin dahulu. Bahkan bisa jadi, orang-orang musyrikin zaman sekarang lebih jelek dibandingkan orang-orang musyrikin di zaman dahulu. Karena mereka meminta pertolongan kepada orang yang meninggal dunia tersebut bukan hanya ketika dlm keadaan tenang saja. Bahkan ketika ditimpa musibahpun mereka masih melakukan hal itu. Sementara orang-orang musyrikin di zaman dahulu, ketika ditimpa bencana mereka meninggalkan segala yang diibadahi selain Allah l. Meskipun ketika diselamatkan oleh Allah SWT dari bencana, mereka kembali berpaling dari Allah SWT & beribadah kepada selain-Nya. Allah SWT menyebutkan di dlm firman-Nya:
“Dan apabila menimpa kalian (orang-orang kafir) suatu bahaya di lautan, niscaya hilanglah seluruh yang kalian ibadahi kecuali Allah, maka tatkala Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kalian pun berpaling. Dan manusia itu adalah banyak mengingkari nikmat Allah.” (Al-Isra`: 67)
 
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,
Yang sangat mengherankan adalah bahwa perbuatan syirik ini justru dilakukan oleh orang-orang yang dianggap sebagai tokoh Islam. Akibat dari perbuatan mereka ini, syirik atau hal-hal yang akan menyeret kepada perbuatan syirikpun menjadi lebih tersebar di kalangan masyarakat. Masjid-masjid yang dibangun kuburan di dalamnya tersebar di mana-mana. Begitu pula kuburan-kuburan yang dikeramatkan dibangun sedemikian rupa sehingga menyerupai rumah atau bahkan masjid. Hal ini adalah perkara yang tak diajarkan oleh Islam, bahkan akan menyeret pada perbuatan syirik.
Rasulullah SAW sebagaimana tersebut dlm hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari & Muslim, telah mengingatkan dlm sabdanya:
لَعْنَةُ اللهِ عَلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ؛ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوْا
“Semoga Allah SWT melaknat Yahudi & Nashara, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat beribadah.” Beliau n mengingatkan (umatnya) dari apa yang mereka lakukan. (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Beliau n & para sahabatnya juga memerintahkan agar setiap kuburan yang tingginya melebihi satu jengkal utk diratakan, sehingga tingginya tak lebih dari satu jengkal. Sebagaimana tersebut dlm hadits:
أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ n؟ أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ
“Maukah engkau aku utus dgn sesuatu yang aku diutus dengannya oleh Rasulullah SAW? Jangan engkau biarkan patung (makhluk yang bernyawa) kecuali engkau harus menghilangkannya, & (jangan engkau biarkan) kuburan yang tinggi kecuali engkau ratakan (menjadi satu jengkal).” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, wajib bagi kita utk hati-hati & waspada terhadap orang-orang yang menyampaikan agama ini tanpa ilmu. Janganlah kita tertipu dgn mereka yang berdalih dlm rangka mencintai orang shalih. Padahal yang mereka lakukan adalah perkara yang dilarang dlm Islam, yaitu berlebih-lebihan terhadap orang shalih yang akan menyeret pada perbuatan syirik. Mudah-mudahan ini bisa menjadi peringatan bagi kita semua. Wallahu a’lam bish-shawab.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِه أَجْمَعِيْنَ
KHUTBAH KEDUA
 
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah l,
Marilah kita berusaha utk senantiasa mempelajari agama Allah SWT & mengamalkannya. Karena ilmu adalah cahaya. Barangsiapa mencarinya maka Allah SWT akan mudahkan jalannya menuju surga. Sedangkan kebodohan adalah kegelapan yang akan menyeret seseorang ke dlm kesesatan di dunia & kesengsaraan di akhirat.
 
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,
Ketahuilah, bahwa seseorang tidaklah dikatakan beriman kepada Allah SWT kecuali dgn mentauhidkan-Nya. Sementara itu tidaklah seseorang dikatakan bertauhid kecuali dgn berlepas diri dari syirik. Sehingga apabila seseorang belum meninggalkan syirik, maka ibadah & kebaikan sebanyak apapun yang dilakukannya tak akan ada nilainya di sisi Allah l. Hal ini sebagaimana yang disebutkan di dlm firman-Nya:
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan (yaitu amalan orang-orang yang tak beriman), lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23)
 
Hadirin yang mudah-mudahan dirahmati Allah l,
Ketahuilah bahwa tauhid adalah makna yang terkandung dlm dalam kalimat Laa ilaaha illallah yang senantiasa kita ucapkan. Sehingga orang yang telah menyatakan dirinya bersaksi dgn kalimat ini, harus mentauhidkan Allah l. Yaitu dgn mengarahkan seluruh bentuk ibadahnya hanya kepada Allah SWT & harus meninggalkan segala peribadatan kepada selain-Nya. Karena kalau dia berbuat syirik, maka seluruh ibadah yang dilakukan baik berupa shalat, puasa, zakat, haji, shadaqah, membaca Al-Qur`an & yang lainnya, akan gugur & tak ada manfaatnya. Hal ini sebagaimana terekam dlm firman Allah l:
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 88)
 
Saudara-saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah,
Tauhid inilah yang tak diterima oleh orang-orang kafir Quraisy ketika Rasulullah SAW dahulu diutus kepada mereka. Allah SWT menyebutkan jawaban mereka ketika diperintah utk mengucapkannya di dlm firman-Nya:
“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shad: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir Quraisy tak mau mengucapkannya karena mereka mengetahui makna kalimat ini. Yaitu, mereka harus meninggalkan segala yang diibadahi selain Allah k. Hal inilah yang tak mau mereka terima.
 
Hadirin yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah l,
Maka sungguh sangat memprihatinkan, ketika ada seorang muslim yang tak mengetahui makna Laa ilaaha illallah. Apa kelebihannya dari kafir Quraisy, apabila dia mengucapkan kalimat yang agung ini namun tak mengetahui maknanya? Maka dari itu, wajib bagi kita semuanya utk memahami & mengamalkan kandungan kalimat Laa ilaaha illallah ini. Janganlah kita menyangka bahwa kalimat ini cukup & sudah bermanfaat dgn hanya diucapkan saja & tak perlu dipahami maknanya. Bukankah dahulu orang-orang munafiq juga mengucapkannya di hadapan Rasulullah SAW? Namun di mana akhir keberadaan mereka? Allah SWT menyebutkan bahwa mereka nantinya akan dimasukkan ke dasar api neraka. Nas`alullah as-salamah (Kita memohon keselamatan kepada Allah SWT dari terkena api neraka).
 
Jamaah jum’ah rahimakumullah,
Akhirnya, marilah kita menjauhi & berlepas diri dari perbuatan syirik, sebagai bentuk pengamalan kita dari kalimat yang agung ini. Begitu pula, marilah kita berusaha menjalankan perintah-perintah Allah SWT yang lainnya & menjauhi seluruh larangan-Nya sehingga kita akan semakin sempurna dlm menjalankan kalimat tauhid ini.
Mudah-mudahan Allah SWT memberikan pertolongan kepada kita semua agar dijadikan sebagai hamba-hamba-Nya yang bertakwa utk kemudian mendapatkan kenikmatan surga yang dijanjikan-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.
وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 040

Under Category Uncategorized