Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Makan Ala Islam Tata Cara Makan

Makan Ala Islam Tata Cara Makan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi)
Makan tak lagi sekedar rutinitas. Namun juga telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Cara & posisi makan, tata hidang berikut alatnya, hingga busana yang dikenakan juga menganut ‘ideologi’ tertentu. Repotnya, model yang dianut (lagi-lagi) adalah tata cara Barat. Bagaimana agama Islam nan sempurna ini mengatur tata cara makan? Simak bahasannya!
Islam adalah dien rahmat bagi alam semesta. Dien yang menjelaskan segala bentuk kemaslahatan manusia, mulai dari masalah yang paling kecil dan ringan hingga masalah yang paling besar & berat. Islam sebagai rahmat telah memberikan arahan kepada pemeluknya utk tak mendekati perkara-perkara yang akan memudharatkan dirinya. Demikianlah kesempurnaan Islam yang hujjahnya sangat jelas & terang, malamnya bagaikan siang. Sehingga tak ada satupun permasalahan yang tersisa melainkan telah dijelaskan di dalamnya.
Namun dlm menerima kesempurnaan ini, sebagian umat Islam ada yang tak puas sehingga:
1.    Melakukan tindak kriminal dlm agama yaitu dgn menambah syariat Rasulullah SAW, lalu dijadikan sebagai jalan menuju ridha Allah. Dari tindak kriminal ini lahirlah konsep akal bahwa jalan menuju Allah itu banyak & bukan satu. Ada yang cepat menyampaikan ke tujuan & ada yang lambat. Kiasnya seperti perjalanan yang ada di dunia. Berangkat dari pemahaman ini, maka semua jamaah & semua aliran yang muncul di dlm Islam -sekalipun mengajak kepada kekufuran- tak bisa disalahkan. Sehingga ketika ada yang tampil menjelaskan kebatilan sebagian atau semua aliran tadi, justru dituding sebagai tindakan ghibah atas saudaranya seiman, sementara ghibah itu haram.
Tindak kriminal lainnya adalah mengentengkan syariat Allah & Rasul-Nya n sehingga menghilangkan kecemburuan terhadap agama. Tindakan ini mengajak masyarakat utk bersikap permisif, membiarkan kemungkaran eksis & tumbuh di dlm lingkungannya. “Yang alim silahkan alim. Yang berjudi, berzina, mencuri, & yang mabuk silahkan. Yang penting tak saling usik & mengganggu. Biarkan berjalan pada jalannya masing-masing & jika berselisih, kita saling memaafkan.” Kedua bentuk kriminal telah melahirkan setan-setan yang bisu, jelas hal ini bertentangan dgn dien islam.
2.    Melakukan studi perbandingan & pendekatan agama sehingga lahir dari konsep ini menghomogenkan agama agar menjadi lebih sempurna.
3.    Melakukan perombakan kiblat dgn melakukan penggalian kemajuan-kemajuan Barat utk disinkronkan dgn kemajuan yang telah dicapai oleh Rasulullah SAW & para shahabat beliau.
Jika penjelasan Allah & Rasul-Nya tentang kesempurnaan dien Islam ini masih belum memuaskan mereka, lalu dgn keterangan siapa lagi mereka bisa yakin & puas?
“Agar binasa orang-orang yang binasa di atas keterangan & agar hidup orang-orang yang hidup di atas keterangan.” (Al-Anfal: 42)
Kesempurnaan Islam
Makan & minum merupakan kebutuhan jasmani setiap orang & akan bernilai rohani bila diniatkan utk beribadah kepada Allah. Tidak ada satupun dari makhluk di muka bumi, yang melata sekalipun, yang tak butuh makan & minum. Allah telah banyak mengingatkan tentang kebutuhan ini di dlm firman-firman-Nya:
“Hai sekalian bani Adam, ambillah perhiasan-perhiasan kalian setiap kalian memasuki masjid, makan & minumlah & jangan kalian berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)
“Hai sekalian manusia makanlah apa-apa yang ada di muka bumi dari (rizki) yang baik & halal.” (Al-Baqarah: 168)
“Hai sekalian para rasul, makanlah dari (rizki) yang baik & beramal shalihlah kalian!” (Al-Mukminun: 51)
“Hai orang-orang yang beriman makanlah dari yang baik dari apa-apa yang kami rizkikan.” (Al-Baqarah: 172)
Dan masih banyak dalil-dalil yang menjelaskan hal itu. Semua dalil di atas memang tak menunjukkan wajib namun hanya sebatas bimbingan, akan tetapi menjadi wajib bila meninggalkannya akan memudharatkan diri sendiri. Allah I berfirman:
“Dan janganlah kalian melemparkan diri kalian ke dlm kebinasaan.” (Al-Baqarah: 196)
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak boleh berbuat mudharat bagi dirimu & memudharatkan orang lain.”
Kaitannya dgn makan sebagai kebutuhan jasmani, Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan perhatian yang sempurna dgn mengatur, mengarahkan & menjelaskan tentang zat makanan & minuman serta tatacara menikmatinya. Semuanya bertujuan agar tak timbul kemudharatan bagi setiap hamba. Allah telah menjelaskan di dlm firman-Nya:
“Pada hari ini aku telah menyempurnakan agama kalian & telah mencukupkan nikmat-Ku atas kalian & Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah: 5)
Bagi orang yang berjalan di atas kesempurnaan dien ini dgn menerima & tunduk padanya, niscaya dia akan menemukan keindahan Islam & kemudahan di dlm beragama ini. Dari Abdullah bin ‘Abbas c berkata:
Nabi ditanya: Agama yang paling dicintai oleh Allah? Rasulullah bersabda: “Agama yang lurus & mudah.”1
Sebagai agama yang mudah:
1.    Islam telah menjelaskan kepada kita segala jalan yang menyampaikan kepada Allah. Dan kita tak dibiarkan membuat jalan selain jalan-Nya.
2.    Islam tak meninggalkan satupun dari sendi-sendi Islam kecuali telah memberikan arahan & bimbingan kepada yang lebih maslahat. Dan dlm hal ini Islam menyelisihi/membedakan diri dari agama lainnya. Sampai-sampai salah seorang dari Yahudi mengatakan: ‘Sungguh nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai-sampai tatacara buang air.”2 Dan di antara mereka ada yang mengatakan: “Orang ini (Rasulullah SAW) tak membiarkan sedikitpun dari urusan kita melainkan mesti dia menyelisihinya.”3
Makan Dan Minum Serta Adab-adabnya
Sebagai bentuk kesempurnaan syariat & hikmah Allah di dlm menentukan urusan-urusan-Nya, Islam telah menjelaskan tatacara & adab di dlm memenuhi kebutuhan jasmani setiap orang beriman agar mereka mendapatkan nilai yang besar di sisi Allah & bernilai ibadah ketika melaksanakan hal itu.
a.    Keadaan Bejana
Dianjurkan bagi setiap muslim utk memperhatikan bejana yang dipakai, baik ketika memasak ataupun menghidangkannya. Tidak diperbolehkan bagi mereka utk menggunakan bejana orang kafir. Dan bila tak ada bejana lainnya, maka diperbolehkan dgn syarat bejana tersebut harus disucikan dari kotoran & najis, bila bejana tersebut tadinya dipakai utk memasak babi & minum khamr. Dan bila bejana tersebut tak dipakai utk hal-hal kotor & najis, hal itu diperbolehkan secara mutlak, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dlm riwayat Jabir bin ‘Abdillah z:
“Di saat kami berperang bersama Rasulullah, kami mendapatkan bejana-bejana kaum musyrikin & kendi-kendi minum mereka. Kemudian kami memanfaatkannya & beliau tak mencelanya.”4
Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani z, bahwa beliau bertanya kepada Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya kami berada di tengah ahli kitab & mereka memasak babi di panci-panci mereka & meminum khamr di bejana-bejana mereka. Rasulullah bersabda : ‘Kalau kalian menjumpai yang lain, maka makan & minumlah padanya. Dan jika kalian tak menjumpai bejana lainnya, maka cucilah dgn air lalu makan & minumlah (padanya)’.”5
Selain larangan memakai bejana orang kafir ketika makan & minum, Rasulullah SAW juga melarang kita utk makan & minum dgn bejana emas & perak, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Janganlah kalian minum memakai bejana emas & perak…  karena sesungguhnya (bejana emas & perak tersebut) bagi mereka (orang kafir) di dunia & bagi kalian di akhirat.”6
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang minum dgn bejana perak, maka sesungguhnya akan dituangkan api jahannam dlm perutnya .”7
Bila hal ini dilakukan oleh seorang mukmin di dunia, & dia belum bertaubat Rasulullah SAW menyatakan:
“Dia tak akan minum dengannya di akhirat nanti.”8
Berdoa Sebelum Makan
Permasalahan yang sungguh sangat ringan, namun sering terlalaikan oleh sebagian kaum muslimin, yaitu berdoa sebelum makan. Padahal lebih ringan daripada mengangkat sesuap nasi ke mulut & lebih ringan daripada menahan lapar. Yaitu membaca:
“Dengan nama Allah.”
Dan bila lupa membacanya kemudian ingat, kita diperintahkan utk membaca pula yaitu:
“Dengan nama Allah, di awalnya & di akhirnya.”
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah:
“Apabila salah seorang kalian makan suatu makanan, maka hendaklah dia mengucapkan ‘bismillah’ & bila dia lupa di awalnya hendaklah dia mengucapkan ‘bismillah fii awwalihi wa akhirihi’.”9
Di dlm hadits yang lain dari shahabat yang membantu Rasulullah SAW selama 18 tahun, dia bercerita bahwa: “Dia selalu mendengar Rasulullah apabila mendekati makanan mengucapkan bismillah.”10
Hukum Membaca Bismillah Ketika Makan
Berdasarkan dalil yang shahih & sharih (tegas) di atas bahwa membaca bismillah ketika makan adalah wajib & berdosa jika meninggalkannya. Rasulullah SAW bersabda kepada ‘Umar bin Abu Salamah & saat itu dia masih kecil:
“Hai nak, sebutlah nama Allah & makanlah kamu dgn tangan kanan.”11
Ibnul Qayyim berkata: “Yang benar adalah wajib membaca bismillah ketika makan. Dan hadits-hadits yang memerintahkan demikian adalah shahih & sharih. Dan tak ada yang menyelisihinya serta tak ada satupun ijma’ yang membolehkan utk menyelisihinya & mengeluarkan dari makna lahirnya. Orang yang meninggalkannya akan ditemani setan dlm makan & minumnya.” (Lihat Zadul Ma’ad 2/396)
Bolehkah Ditambah dgn ‘Arrahmanirrahim’?
Ada satu kaidah yang harus kita ketahui yakni berhenti di atas bimbingan Rasulullah SAW merupakan satu kewajiban. Dan sungguh betapa banyak yang tersesat jalan di dlm beragama karena mengentengkan permasalahan ini. Seseorang akan bisa menjadi salah satu musuh Islam yang paling berbahaya karena tak mengikuti bimbingan Rasulullah SAW. Memang berjalan dgn tepat di atas petunjuk Rasulullah SAW utk masa sekarang ini adalah hal yang berat bagi orang-orang yang tak mendapatkan petunjuk Allah. Oleh karena itu bermunculanlah istihsanat-istihsanat (anggapan baik terhadap sesuatu yang bukan dari agama) di dlm agama. Padahal, kaidah menyatakan: sesuatu itu baik apabila agama menganggapnya baik & jelek apabila dianggap jelek oleh agama. Orang dgn mudah mengatakan ‘Hal ini termasuk agama’ padahal tak termasuk agama sedikitpun. Dan orang dgn mudah mengada-adakan dlm urusan agama padahal tak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Demikianlah akibat kejahilan terhadap agama, orang akan membeo tanpa ada rasa takut sedikitpun kepada Allah & tanpa merasa salah di hadapan agama-Nya. Salah satu contoh adalah menambah doa makan dari “bismillah” menjadi “bismillahirrahmanirrahim”.
Asy-Syaikh Al-Albani t dlm kitab beliau Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1/152) mengatakan: “Membaca tasmiyah di permulaan makan adalah ‘Bismillah’ & tak ada tambahan padanya. Dan semua hadits-hadits yang shahih dlm masalah ini tak ada tambahannya sedikitpun. Dan saya tak mengetahui satu haditspun yang di dalamnya ada tambahan (bismillahirrahmanirrahim, pent.). Hal ini termasuk bid’ah di sisi ulama fuqaha.”
Kenapa kita dilarang, bukankah itu lebih sempurna & lebih baik?
Jawabannya:
1.    Kesempurnaan di dlm agama adalah kesempurnaan dlm mengikuti segala tuntunan Rasulullah SAW, tak menambah & tak pula menguranginya.
2.    Jika hal ini lebih baik, niscaya Rasulullah SAW akan mengajarkan kepada kita, & akan dinukilkan oleh para shahabat beliau, & merekalah yang pertama kali akan melakukannya.
3.    Di dlm perbuatan ini ada unsur pembebanan diri dgn beban yang tak datang dari syariat.
4.    Perbuatan ini tergolong keluar dari bimbingan Rasulullah SAW , sementara kita meyakini bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah SAW. Kalau keluar dari jalan beliau dgn membuat jalan tersendiri atau menambah syariat yang tak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW berarti:
a.    Menentang apa yang telah difirmankan oleh Allah tentang kesempurnaan Islam.
b.    Mengangkat diri setara dgn Allah dlm pembuatan  syariat.
c.    Menuduh beliau n berkhianat dlm menyampaikan risalah sehingga perlu ditambah atau dikurangi.
d.    Menuduh para shahabat Nabi g yang menukilkan kesempurnaan syariat tersebut berkhianat kepadanya.
Keempat hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dlm sabda beliau:
“Barangsiapa melakukan sebuah amalan yang tak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.”12
Hati-hati Ditemani Setan
Setan akan ikut nimbrung bila engkau tak berdoa ketika hendak makan & minum. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dlm sabda beliau & hikmah membaca bismillah ketika memulai makan adalah utk melemahkan kekuatan setan. Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila seseorang masuk ke dlm rumahnya, lalu dia menyebut nama Allah ketika masuk & ketika makan, maka setan berkata (kepada teman-temannya): ‘Kalian tak mendapatkan kesempatan bermalam (bersamanya) & makan malam.’ Dan bila dia masuk rumah & tak menyebut Allah ketika masuknya, setan berkata (kepada teman-temannya): ‘Kalian akan mendapatkan kesempatan bermalam (bersamanya)’. Dan bila dia tak menyebut nama Allah ketika makannya maka setan berkata (kepada-teman-temannya): ‘Kalian mendapatkan kesempatan bermalam & makan malam (bersamanya).”13
Rasulullah SAW bersabda dlm riwayat Al-Imam Muslim no. 2017 dari shahabat Hudzaifah, beliau berkata: “Apabila kami makan suatu makanan bersama Rasulullah SAW, kami tak meletakkan tangan kami di makanan tersebut, sampai Rasulullah meletakkan kedua tangannya, beliau (mulai). Pada suatu hari kami makan bersama Rasulullah SAW, datanglah seorang budak wanita seakan-akan dia terdorong lalu bergegas meletakkan tangannya ke makanan tersebut. Rasulullah SAW mengambil tangannya, & datang pula seorang A’rabi (orang dusun) seakan-akan dia terdorong (dan bergegas meletakkan tangannya pada makanan tersebut). Lalu Rasulullah SAW mengambil tangannya & bersabda: “Sesungguhnya setan ikut menyertai dlm makanan bila tak disebut nama Allah padanya. Sesungguhnya setan datang bersama budak perempuan ini lalu aku mengambil tangannya, & dia datang bersama A’rabi ini lalu aku mengambil tangannya. Dan sesungguhnya tanganku memegang tangan setan bersama tangan budak tersebut.”
(bersambung insya Allah)

1 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dlm kitab Al-Adabul Mufrad no. 287 & Asy-Syaikh Al-Albani di dlm Shahih Al-Adabil Mufrad no. 220 & Silsilah Ash-Shahihah no. 881, beliau mengatakan haditsnya hasan lighairihi.
2 Dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim no. 605 dari shahabat Salman Al-Farisi z.
3 Dikeluarkan oleh Al-Imam Muslim no. 692
4 Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud no. 3838 & dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dlm Shahih Sunan Abu Dawud 2/727, no. 3251 & di dlm Al-Irwa`, 1/72
5 Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud no. 3839 & dishahihkan oleh Al-Albani di dlm kitab Shahih Sunan Abu Dawud 2/726, no. 3240 & di dlm Al-Irwa`, 1/74.
6 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 5633
7 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 5634
8 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 5358
9 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 1936 & dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dlm kitab Shahih Sunan At-Tirmidzi 2/167, no. 1513 dari shahabat ‘Aisyah x.
10 Diriwayatkan oleh Ahmad (4/5062/375) & Abu Asy-Syaikh di dlm kitab Akhlaq An-Nabi hal. 238 & dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dlm kitab Silsilah Ahadits Shahihah 1/152 no. 71
11 Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari no. 5376
12 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim
13 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 2018

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 016

Under Category Uncategorized