Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Kisah Nabi Dawud dan Sulaiman Kisah Nabi Sulaiman

Kisah Nabi Dawud dan Sulaiman Kisah Nabi Sulaiman

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)
Pernahkah kita berpikir, hewan-hewan yang ada di sekitar kita mengenal Allah U & suka memuji kepada-Nya? Dari kisah Nabi Sulaiman e ini, kita ketahui bahwa ternyata hewan juga mengenal Allah U sebagai Rabbnya & mereka suka bertasbih kepada-Nya. Yaitu dari kejadian burung Hud Hud yang melihat peribadatan Ratu Saba` & rakyatnya, yang bukan ditujukan kepada Allah U tetapi mereka justru menyembah matahari.
Nabi Dawud & Nabi Sulaiman e adalah nabi-nabi utama dari kalangan Bani Israil. Allah U himpunkan bagi keduanya nubuwwah (kenabian) & hikmah serta kerajaan yang besar & kuat.
Nabi Dawud u sebelumnya adalah seorang prajurit dlm pasukan Thalut yang telah dipilih oleh salah seorang Nabi dari Bani Israil sebagai raja mereka. Thalut dipilih karena keberanian, kekuatan serta luasnya ilmu pengetahuan tentang pemerintahan & siasat perang. Hal ini sebagaimana Allah I firmankan:
“Dan Allah menganugerahinya ilmu yang luas & tubuh yang perkasa.” (Al-Baqarah 247)
Ketika mereka berhadapan dgn Jalut serta tentaranya, pasukan Thalut bersabar & memohon pertolongan kepada Allah SWT Dawud u ternyata melampaui keberanian mereka. Segera dia menghadapi Jalut & membunuhnya, sehingga sisa pasukannya menderita kekalahan. Dan Allah I menolong Bani Israil.
Kemudian Allah I mengangkat Dawud menjadi Nabi & memberinya hikmah serta kerajaan yang kuat. Allah I berfirman:
“Dan Kami kuatkan kerajaannya & Kami berikan kepadanya hikmah & kebijaksanaan dlm menyelesaikan masalah.” (Shad: 20)
Allah I telah memberinya kekuatan dlm beribadah & ilmu pengetahuan. Bahkan mensifatkannya dgn dua sifat ini, yang merupakan ciri kesempurnaan seseorang. Allah I berfirman:
“Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; & ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia seorang yang awwab.” (Shad: 17)
Di sini Allah I sifati beliau sebagai seorang yang memiliki kekuatan besar dlm melaksanakan perintah Allah SWT Dan beliau adalah seorang yang awwab karena begitu sempurna pengetahuannya tentang Allah SWT
Allah I telah menundukkan burung-burung & gunung-gunung agar bertasbih bersamanya. Beliau telah pula diberi anugerah oleh Allah berupa suara yang merdu yang belum pernah diterima oleh manusia sebelumnya.
Nabi Dawud u biasa tidur di pertengahan malam & bangun pada sepertiganya, lalu tidur lagi pada seperenamnya. Beliau biasa berpuasa sehari & sehari berbuka. Apabila bertemu dgn musuh, maka siapapun akan melihat keperkasaan beliau yang menakjubkan. Allah I telah pula melunakkan besi baginya & mengajarinya bagaimana membuat baju besi, perisai & alat-alat perang lainnya. Beliaulah orang pertama membuat semua alat tersebut.
Allah I pernah menegur beliau dgn mengutus dua orang malaikat sebagai dua orang yang sedang bersengketa. Kedua malaikat itu menemui Nabi Dawud di mihrab, sehingga beliau merasa terkejut, karena mereka masuk pada waktu yang tak diizinkan seorangpun masuk ketika itu dgn cara memanjat dinding mihrab.
Allah I berfirman menceritakan hal ini:
“Jangan takut. Kami dua orang yang berselisih. Salah seorang dari kami berbuat dzalim terhadap yang lain. Maka berilah keputusan di antara kami dgn adil & janganlah kamu menyimpang dari kebenaran & tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” (Shad: 22)
Kemudian salah seorang menerangkan keadaan mereka, katanya:”Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing –yang dimaksudkannya adalah wanita (isteri)– sedangkan saya hanya mempunyai satu ekor. Lalu dia (saudaraku ini) berkata: ‘Serahkanlah kambingmu kepadaku,’ & dia mengalahkan saya dlm perdebatan. Artinya, alasan dia lebih kuat sehingga mengalahkan pendapat saya.”
Lalu Dawud u berkata, sebagaimana diceritakan oleh Allah I:
“Sesungguhnya dia telah berbuat dzalim kepadamu dgn meminta kambingmu itu utk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat dzalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman & beramal shalih & amat sedikitlah mereka itu.” (Shad: 24)
Akhirnya Nabi Dawud u mengetahui bahwa dialah yang dimaksud dlm kasus tersebut, beliaupun tersadar. Allah I berfirman:
“Dan Dawud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka diapun meminta ampun kepada Rabbnya, menyungkur sujud & bertaubat. Maka Kami ampuni kesalahannya & sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat di sisi Kami & tempat kembali yang baik.” (Shad: 24-25)
Akhirnya Allah I menghapus dosa beliau & keadaannya jauh lebih baik daripada sebelum kejadian itu. Beliau mendapat tempat yang sangat dekat di sisi Allah I & kesudahan yang baik.
Allah I berfirman:
“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi. Maka berilah keputusan dgn adil di antara manusia. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu. Karena hawa nafsu itu akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Shad: 26)
Sedangkan kepada Nabi Sulaiman bin Dawud u, Allah I telah memberinya nubuwah (kenabian), mewarisi ilmu, nubuwah & kerajaan ayahnya. Bahkan Allah I memberikan tambahan baginya kerajaan yang besar yang belum pernah dimiliki siapapun sebelum ataupun sesudahnya.
Allah I menundukkan kepadanya angin yang berhembus menurut ke mana saja beliau kehendaki, yang perjalanannya di waktu pagi sama dgn perjalanan sebulan & di waktu sore juga sama dgn perjalanan sebulan. Juga para jin & syaithan serta Ifrit, yang mengerjakan untuknya pekerjaan besar menurut keinginannya. Mereka membuat utk Nabi Sulaiman u gedung-gedung tinggi, patung-patung & piring-piring yang (besarnya) seperti kolam & periuk-periuk yang (tetap di atas tungku). Mereka datang & pergi kemanapun sesuai kehendaknya.
Allah I juga menundukkan kepadanya pasukan dari manusia, jin & burung-burung lalu mereka diatur dgn tata tertib yang mengagumkan. Allah I mengajarkan kepada beliau pengertian tentang suara burung & seluruh hewan yang ada. Dan mereka kadang mengajak beliau berbicara & beliau pun memahami pembicaraan mereka. Oleh sebab itu beliau dapat berdialog dgn Hud Hud & menanyainya, juga mengerti ucapan seekor semut ketika mengingatkan semut-semut lainnya. Allah I berfirman:
“Hai semut-semut, masuklah ke dlm sarang-sarangmu, agar kamu tak diinjak oleh Sulaiman & tentaranya, sedangkan mereka tak menyadarinya.” (An-Naml: 19)
Semut itu memperingatkan & memerintahkan supaya para semut itu melindungi diri mereka dari Sulaiman & pasukannya. Nabi Sulaiman tersenyum & tertawa mendengar kata-kata semut itu, lalu berkata:
“Wahai Rabbku, berilah aku ilham utk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku & kepada kedua ibu bapakku. Dan agar aku mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai & masukkanlah aku dgn rahmat-Mu ke dlm golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (An-Naml: 19)
Salah satu bentuk kebaikan & ketelitian pengaturan beliau adalah beliau sendiri yang langsung turun tangan memeriksa pasukannya. Padahal sudah ada masing-masing yang menjadi pengawas mereka. Juga karena firman Allah I yang berbunyi “Mereka diatur dgn tertib dlm barisan,” menunjukkan hal itu. Sehingga beliau sendiri mencari burung-burung agar mengetahui apakah dia berada di markasnya atau tidak. Allah I menceritakan hal ini dlm Al Qur`an ketika Nabi Sulaiman tak melihat burung Hud Hud, beliau berkata:
“Mengapa aku tak melihat Hud Hud, apakah dia temasuk yang tak hadir?” (An-Naml: 20)
Dan bukan seperti komentar sebagian mufassir bahwa beliau mencari Hud Hud adalah agar mencarikan daerah yang banyak airnya seberapa jauh dari tempat mereka saat itu. Karena sesungguhnya tanggapan tersebut berbeda jauh dgn susunan kalimat Al Qur‘an. Allah tak mengatakan bahwa beliau mencari Hud Hud, tapi justeru mengatakan dlm ayat itu  “Dan dia memeriksa burung-burung”.
Kemudian Nabi Sulaiman mengancamnya karena telah menyelisihi perintahnya. Namun karena kerajaannya ditegakkan di atas keadilan, beliau menyebutkan pengecualian. Allah I berfirman menceritakan hal ini:
“Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dgn adzab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika dia benar-benar datang kepadaku dgn alasan yang jelas. Maka tak lama kemudian datanglah Hud Hud, lalu ia berkata:”Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya, & kubawa kepadamu dari negeri Saba` suatu berita yang penting diyakini, Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, & dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia & kaumnya menyembah matahari, selain Allah. Dan syaithan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah, sehingga mereka tak mendapat petunjuk. Mengapakah mereka tak sujud (menyembah) kepada Allah Yang Mengeluarkan apa yang tersembunyi di langit & bumi.
Dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan & apa yang kamu tampakkan. Allah, tak ada ilah kecuali Dia, Rabb yang Mempunyai ‘arsy yang besar.” (An-Naml: 21-26)
Dalam kesempatan yang demikian singkat ini, Hud Hud datang membawa berita besar ini. Disampaikannya kepada Nabi Sulaiman tentang penguasa negeri Yaman, seorang ratu. Dan ratu itu dianugeahi segala yang dibutuhkan oleh seorang penguasa, bahkan mempunyai singgasana yang besar. Hud Hud ternyata bukan hanya memahami kerajaan & kekuatan mereka, tetapi juga mengerti apa yang menjadi keyakinan rakyat Saba`. Mereka adalah orang-orang yang musyrik, menyembah matahari. Hud Hud dgn tegas mengingkari kesyirikan yang mereka lakukan.
Hal ini menunjukkan bahwa hewan-hewan itu sesungguhnya mengenal Rabb (Yang menciptakan, memberi & mengatur rizki) mereka, di mana mereka juga bertasbih memuji & mentauhidkan-Nya. Mereka mempunyai rasa cinta kepada orang-orang yang beriman & mereka juga taat kepada Rabbnya. Bahkan mereka juga membenci orang-orang kafir & orang yang mendustakan ajaran Allah & Rasul-Nya. Mereka tunduk kepada Allah dgn sikap ini.
(Bersambung, insya Allah)

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 015

Under Category Uncategorized