Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Hukum, Tata Cara dan Syarat Menyembelih Hewan Qurban

Hukum, Tata Cara dan Syarat Menyembelih Hewan Qurban

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdullah Muhammad Afifuddin)

Berikut ini akan disebutkan beberapa hukum & adab seputar penyembelihan hewan, baik itu qurban ataupun yang lain.
I. Hewan sembelihan dinyatakan sah & halal dimakan bila terpenuhi syarat-syarat berikut:
a. Membaca basmalah tatkala hendak menyembelih hewan. Dan ini merupakan syarat yang tak bisa gugur baik karena sengaja, lupa, ataupun jahil (tidak tahu). Bila dia sengaja atau lupa atau tak tahu sehingga tak membaca basmalah ketika menyembelih, maka dianggap tak sah & hewan tersebut haram dimakan. Ini adalah pendapat yang rajih dari perbedaan pendapat yang ada. Dasarnya adalah keumuman firman Allah l:
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.” (Al-An’am: 121)
Syarat ini juga berlaku pada penyembelihan hewan qurban. Dasarnya adalah hadits Anas z riwayat Al-Bukhari (no. 5565) & Muslim (no. 1966), bahwa Nabi berqurban dgn dua kambing kibasy yang berwarna putih bercampur hitam lagi bertanduk:
وَيُسَمِّي وَيُكَبِّرُ
“Beliau membaca basmalah & bertakbir.”
b. Yang menyembelih adalah orang yang berakal. Adapun orang gila tak sah sembelihannya walaupun membaca basmalah, sebab tak ada niat & kehendak pada dirinya, & dia termasuk yang diangkat pena takdir darinya.
c. Yang menyembelih harus muslim atau ahli kitab (Yahudi atau Nasrani). Untuk muslim, permasalahannya sudah jelas. Adapun ahli kitab, dasarnya adalah firman Allah l:
“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu.” (Al-Ma`idah: 5)
Dan yang dimaksud ‘makanan’ ahli kitab dlm ayat ini adalah sembelihan mereka, sebagaimana penafsiran sebagian salaf.
Pendapat yang rajih menurut mayoritas ulama, sembelihan ahli kitab dipersyaratkan harus sesuai dgn tata cara Islam.
Sebagian ulama menyatakan, terkhusus hewan qurban, tak boleh disembelih oleh ahli kitab atau diwakilkan kepada ahli kitab. Sebab qurban adalah amalan ibadah utk taqarrub kepada Allah l, maka tak sah kecuali dilakukan oleh seorang muslim. Wallahu a’lam.
d. Terpancarnya darah
Dan ini akan terwujud dgn dua ketentuan:
1. Alatnya tajam, terbuat dari besi atau batu tajam. Tidak boleh dari kuku, tulang, atau gigi. Disyariatkan utk mengasahnya terlebih dahulu sebelum menyembelih. Diriwayatkan dari Rafi’ bin Khadij z, dari Nabi n, beliau bersabda:
مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلْ، لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفْرَ، أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفْرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ
“Segala sesuatu yang memancarkan darah & disebut nama Allah padanya maka makanlah. Tidak boleh dari gigi & kuku. Adapun gigi, itu adalah tulang. Adapun kuku adalah pisau (alat menyembelih) orang Habasyah.” (HR. Al-Bukhari no. 5498 & Muslim no. 1968)
Juga perintah Rasulullah SAW kepada Aisyah x ketika hendak menyembelih hewan qurban:
يَا عَائِشَةُ، هَلُمِّي الْمُدْيَةَ. ثُمَّ قَالَ: اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ
“Wahai Aisyah, ambilkanlah alat sembelih.” Kemudian beliau berkata lagi: “Asahlah alat itu dgn batu.” (HR. Muslim no. 1967)
2. Dengan memutus al-wadjan, yaitu dua urat tebal yang meliputi tenggorokan. Inilah persyaratan & batas minimal yang harus disembelih menurut pendapat yang rajih. Sebab, dgn terputusnya kedua urat tersebut, darah akan terpancar deras & mempercepat kematian hewan tersebut.

Faedah
Pada bagian leher hewan ada 4 hal:
1-2. Al-Wadjan, yaitu dua urat tebal yang meliputi tenggorokan
3. Al-Hulqum yaitu tempat pernafasan.
4. Al-Mari`, yaitu tempat makanan & minuman.
Rincian hukumnya terkait dgn penyembelihan adalah:
- Bila terputus semua maka itu lebih afdhal.
- Bila terputus al-wadjan & al-hulqum maka sah.
- Bila terputus al-wadjan & al-mari` maka sah.
- Bila terputus al-wadjan saja maka sah.
- Bila terputus al-hulqum & al-mari`, terjadi perbedaan pendapat. Yang rajih adalah tak sah.
- Bila terputus al-hulqum saja maka tak sah.
- Bila terputus al-mari` saja maka tak sah.
- Bila terputus salah satu dari al-wadjan saja, maka tak sah. (Syarh Bulugh, 6/52-53)
II. Merebahkan hewan tersebut & meletakkan kaki pada rusuk lehernya, agar hewan tersebut tak meronta hebat & juga lebih menenangkannya, serta mempermudah penyembelihan.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik z, tentang tata cara penyembelihan yang dicontohkan Rasulullah SAW:
وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلىَ صِفَاحِهِمَا
“Dan beliau meletakkan kakinya pada rusuk kedua kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5565 & Muslim no. 1966)
Juga hadits Aisyah x:
فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ
“Lalu beliau rebahkan kambing tersebut kemudian menyembelihnya.”
III. Disunnahkan bertakbir ketika hendak menyembelih qurban, sebagaimana disebutkan dlm hadits Anas z di atas, & diucapkan setelah basmalah.
IV. Bila dia mengucapkan:
بِسْمِكَ اللَّهُمَّ أَذْبَحُ
“Dengan nama-Mu ya Allah, aku menyembelih”, maka sah, karena sama dgn basmalah.
V. Bila dia menyebut nama-nama Allah SWT selain Allah, maka hukumnya dirinci.
a. Bila nama tersebut khusus bagi Allah SWT & tak boleh utk makhluk, seperti Ar-Rahman, Al-Hayyul Qayyum, Al-Khaliq, Ar-Razzaq, maka sah.
b. Bila nama tersebut juga bisa dipakai oleh makhluk, seperti Al-‘Aziz, Ar-Rahim, Ar-Ra`uf, maka tak sah.
VI. Tidak disyariatkan bershalawat kepada Nabi ketika menyembelih, sebab tak ada perintah & contohnya dari beliau n maupun para sahabatnya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/408)
VII. Berwudhu sebelum menyembelih qurban adalah kebid’ahan, sebab tak ada contohnya dari Rasulullah SAW & salaf.
Namun bila hal tersebut terjadi, maka sembelihannya sah & halal dimakan, selama terpenuhi ketentuan-ketentuan di atas.
VIII. Diperbolehkan berdoa kepada Allah SWT agar sembelihannya diterima oleh-Nya. Sebagaimana tindakan Rasulullah SAW, beliau berdoa:
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ
“Ya Allah, terimalah (sembelihan ini) dari Muhammad, keluarga Muhammad, & umat Muhammad.” (HR. Muslim no. 1967, dari Aisyah x)
IX. Tidak diperbolehkan melafadzkan niat, sebab tempatnya di dlm hati menurut kesepakatan ulama. Namun dia boleh mengucapkan:
اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ فُلَانِ
“Ya Allah, sembelihan ini dari Fulan.”
Dan ucapan tersebut tak termasuk melafadzkan niat.
X. Yang afdhal adalah men-dzabh (menyembelih) sapi & kambing. Adapun unta maka yang afdhal adalah dgn nahr, yaitu disembelih dlm keadaan berdiri & terikat tangan unta yang sebelah kiri, lalu ditusuk di bagian wahdah antara pangkal leher & dada.
Diriwayatkan dari Ziyad bin Jubair, dia berkata: Saya pernah melihat Ibnu ‘Umar c mendatangi seseorang yang menambatkan untanya utk disembelih dlm keadaan menderum. Beliau c berkata:
ابْعَثْهَا قِيَامًا مُقَيَّدَةً، سُنَّةُ مُحَمَّدٍ n
“Bangkitkan untamu dlm keadaan berdiri & terikat, (ini) adalah Sunnah Muhammad n.” (HR. Al-Bukhari no. 1713 & Muslim no. 1320/358)
Bila terjadi sebaliknya, yakni me-nahr kambing & sapi serta men-dzabh unta, maka sah & halal dimakan menurut pendapat jumhur. Sebab tak keluar dari tempat penyembelihannya.
XI. Tidak disyaratkan menghadapkan hewan ke kiblat, sebab haditsnya mengandung kelemahan.
Dalam sanadnya ada perawi yang bernama Abu ‘Ayyasy Al-Mu’afiri, dia majhul. Haditsnya diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2795) & Ibnu Majah (no. 3121).
XII. Termasuk kebid’ahan adalah melumuri jidat dgn darah hewan qurban setelah selesai penyembelihan, karena tak ada contohnya dari Nabi & para salaf. (Fatwa Al-Lajnah, 11/432-433, no. fatwa 6667)

Hukum-hukum Seputar Qurban
Berikut ini akan disebutkan beberapa hukum secara umum yang terkait dgn hewan qurban, utk melengkapi pembahasan sebelumnya:
1) Menurut pendapat yang rajih, hewan qurban dinyatakan resmi (ta’yin) sebagai أُضْحِيَّةٌ dgn dua hal:
a. dgn ucapan: هَذِهِ أُضْحِيَّةٌ (Hewan ini adalah hewan qurban)
b. dgn tindakan, & ini dgn dua cara:
1. Taqlid yaitu diikatnya sandal/sepatu hewan, potongan-potongan qirbah (tempat air yang menggantung), pakaian lusuh & yang semisalnya pada leher hewan. Ini berlaku utk unta, sapi & kambing.
2. Isy’ar yaitu disobeknya punuk unta/sapi sehingga darahnya mengalir pada rambutnya. Ini hanya berlaku utk unta & sapi saja.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah x, dia berkata:
فَتَلْتُ قَلَائِدَ بُدْنِ رَسُولِ اللهِ n بِيَدَيَّ ثُمَّ أَشْعَرَهَا وَقَلَّدَهَا
“Aku memintal ikatan-ikatan unta-unta Rasulullah dgn kedua tanganku. Lalu beliau isy’ar & men-taqlid-nya.” (HR. Al-Bukhari no. 1699 & Muslim no. 1321/362)
Kedua tindakan ini khusus pada hewan hadyu, sedangkan qurban cukup dgn ucapan. Adapun semata-mata membelinya atau hanya meniatkan tanpa adanya lafadz, maka belum dinyatakan (ta’yin) sebagai hewan qurban. Berikut ini akan disebutkan beberapa hukum bila hewan tersebut telah di-ta’yin sebagai hewan qurban:
2) Diperbolehkan menunggangi hewan tersebut bila diperlukan atau tanpa keperluan, selama tak memudaratkannya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah z, dia berkata: Rasulullah SAW melihat seseorang menuntun unta (qurban/hadyu) maka beliau bersabda:
ارْكَبْهَا
“Tunggangi unta itu.” (HR. Al-Bukhari no. 1689 & Muslim no. 1322/3717)
Juga datang dari Anas bin Malik z (Al-Bukhari no. 1690 & Muslim no. 1323) & Jabir bin Abdillah c (HR. Muslim no. 1324). Lafadz hadits Jabir z sebagai berikut:
ارْكَبْهَا بِالْـمَعْرُوفِ إِذَا أُلْـجِئْتَ إِلَيْهَا حَتَّى تَجِدَ ظَهْرًا
“Naikilah unta itu dgn cara yang baik bila engkau membutuhkannya hingga engkau mendapatkan tunggangan (lain).”
3) Diperbolehkan mengambil kemanfaatan dari hewan tersebut sebelum/setelah disembelih selain menungganginya, seperti:
a. mencukur bulu hewan tersebut, bila hal tersebut lebih bermanfaat bagi sang hewan. Misal: bulunya terlalu tebal atau di badannya ada luka.
b. Meminum susunya, dgn ketentuan tak memudaratkan hewan tersebut & susu itu kelebihan dari kebutuhan anak sang hewan.
c. Memanfaatkan segala sesuatu yang ada di badan sang hewan, seperti tali kekang & pelana.
d. Memanfaatkan kulitnya utk alas duduk atau alas shalat setelah disamak.
Dan berbagai sisi kemanfaatan yang lainnya. Dasarnya adalah keumuman firman Allah l:
“Dan telah Kami jadikan utk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (Al-Hajj: 36)
4) Tidak diperbolehkan menjual hewan tersebut atau menghibahkannya kecuali bila ingin menggantinya dgn hewan yang lebih baik. Begitu pula tak boleh menyedekahkannya kecuali setelah disembelih pada waktunya, lalu menyedekahkan dagingnya.
5) Tidak diperbolehkan menjual kulit hewan tersebut atau apapun yang ada padanya, namun utk dishadaqahkan atau dimanfaatkan.
6) Tidak diperbolehkan memberikan upah dari hewan tersebut apapun bentuknya kepada tukang sembelih. Namun bila diberi dlm bentuk uang atau sebagian dari hewan tersebut sebagai shadaqah atau hadiah bukan sebagai upah, maka diperbolehkan.
Dalil dari beberapa perkara di atas adalah hadits Ali bin Abi Tahlib z, dia berkata:
أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ n أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أُقَسِّمَ لُـحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلَالـَهَا عَلَى الْـمَسَاكِينِ وَلَا أُعْطِي فِي جَزَارَتِهَا شَيْئًا مِنْهَا
“Nabi memerintahkan aku utk menangani (penyembelihan) unta-untanya, membagikan dagingnya, kulit, & perangkatnya kepada orang-orang miskin & tak memberikan sesuatu pun darinya sebagai (upah) penyembelihannya.” (HR. Al-Bukhari no. 1717 & 1317)
7) Bila terjadi cacat pada hewan tersebut setelah di-ta’yin (diresmikan sebagai hewan qurban) maka dirinci:
- Bila cacatnya membuat hewan tersebut tak sah, maka disembelih sebagai shadaqah bukan sebagai qurban yang syar’i.
- Bila cacatnya ringan maka tak ada masalah.
- Bila cacatnya terjadi akibat (perbuatan) sang pemilik maka dia harus mengganti yang semisal atau yang lebih baik
- Bila cacatnya bukan karena kesalahan sang pemilik, maka tak ada kewajiban mengganti, sebab hukum asal berqurban adalah sunnah.
Bila hewan tersebut hilang atau lari & tak ditemukan, atau dicuri, maka tak ada kewajiban apa-apa atas sang pemilik. Kecuali bila hal itu terjadi karena kesalahannya maka dia harus menggantinya.
9) Bila hewan yang lari atau yang hilang tersebut ditemukan, padahal sang pemilik sudah membeli gantinya & menyembelihnya, maka cukup bagi dia hewan ganti tersebut sebagi qurban. Sedangkan hewan yang ketemu tersebut tak boleh dijual namun disembelih, sebab hewan tersebut telah di-ta’yin.
10) Bila hewan tersebut mengandung janin, maka cukup bagi dia menyembelih ibunya utk menghalalkannya & janinnya. Namun bila hewan tersebut telah melahirkan sebelum disembelih, maka dia sembelih ibu & janinnya sebagai qurban. Dalilnya adalah hadits:
ذَكَاةُ الْجَنِينِ ذَكَاةُ أُمِّهِ
“Sembelihan janin (cukup) dgn sembelihan ibunya.”
Hadits ini datang dari banyak sahabat, lihat perinciannya dlm Irwa`ul Ghalil (8/172, no. 2539) & Asy-Syaikh Al-Albani t menshahihkannya.
11) Adapun bila hewan tersebut belum di-ta’yin maka diperbolehkan baginya utk menjualnya, menghibahkannya, menyedekahkannya, atau menyembelihnya utk diambil daging & lainnya, layaknya hewan biasa.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Hukum-hukum & Adab-adab Yang Terkait dgn Orang yang Berqurban
1. Syariat berqurban adalah umum, mencakup lelaki, wanita, yang telah berkeluarga, lajang dari kalangan kaum muslimin, karena dalil-dalil yang ada adalah umum.
2. Diperbolehkan berqurban dari harta anak yatim bila secara kebiasaan mereka menghendakinya. Artinya, bila tak disembelihkan qurban, mereka akan bersedih tak bisa makan daging qurban sebagaimana anak-anak sebayanya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/427)
3. Diperbolehkan bagi seseorang berhutang utk berqurban bila dia mampu utk membayarnya. Sebab berqurban adalah sunnah & upaya menghidupkan syi’ar Islam. (Syarh Bulugh, 6/84, bagian catatan kaki)
Al-Lajnah Ad-Da`imah juga mempunyai fatwa tentang diperbolehkannya menyembelih qurban walaupun belum dibayar harganya. (Fatawa Al-Lajnah, 11/411 no. fatwa 11698)
4. Dipersyaratkan hewan tersebut adalah miliknya dgn cara membeli atau yang lainnya. Adapun bila hewan tersebut hasil curian atau ghashab lalu dia sembelih sebagai qurbannya, maka tak sah.
إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu Dzat yang baik tak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim no. 1015 dari Abu Hurairah z)
Begitu pula bila dia menyembelih hewan orang lain utk dirinya, seperti hewan gadaian, maka tak sah.
5. Bila dia mati setelah men-ta’yin hewan qurbannya, maka hewan tersebut tak boleh dijual utk menutupi hutangnya. Namun hewan tersebut tetap disembelih oleh ahli warisnya.
6. Disunnahkan baginya utk menyembelih qurban dgn tangannya sendiri & diperbolehkan bagi dia utk mewakilkannya. Keduanya pernah dikerjakan Rasulullah SAW sebagaimana hadits:
ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ
“Rasulullah menyembelih kedua (kambing tersebut) dgn tangannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5565 & Muslim no. 1966)
Juga hadits ‘Ali bin Abi Thalib z yang telah lewat, di mana beliau diperintah oleh Rasulullah SAW utk menangani unta-untanya.
7. Disyariatkan bagi orang yang berqurban bila telah masuk bulan Dzulhijjah utk tak mengambil rambut & kukunya hingga hewan qurbannya disembelih.
Diriwayatkan dari Ummu Salamah x, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَأْخُذْ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّيَ
“Apabila telah masuk 10 hari pertama (Dzulhijjah) & salah seorang kalian hendak berqurban, maka janganlah dia mengambil rambut & kukunya sedikitpun hingga dia menyembelih qurbannya.” (HR. Muslim no. 1977)
Dalam lafadz lain:
وَلَا بَشَرَتِهِ
“Tidak pula kulitnya.”
Larangan dlm hadits ini ditujukan kepada pihak yang berqurban, bukan pada hewannya. Sebab mengambil bulu hewan tersebut utk kemanfaatannya diperbolehkan sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya.
Juga, dhamir (kata ganti) هِ pada hadits di atas kembali kepada orang yang hendak berqurban. Larangan dlm hadits ini ditujukan khusus utk orang yang berqurban. Adapun keluarganya atau pihak yang disertakan, tak mengapa mengambil kulit, rambut & kukunya. Sebab, yang disebut dlm hadits ini adalah yang berqurban saja.
- Bila dia mengambil kulit, kuku, atau rambutnya sebelum hewannya disembelih, maka qurbannya sah, namun berdosa bila dia lakukan dgn sengaja. Tetapi bila dia lupa atau tak sengaja maka tak mengapa.
- Bila dia baru mampu berqurban di pertengahan 10 hari pertama Dzulhijjah, maka keharaman ini berlaku saat dia niat & ta’yin qurbannya.
- Orang yang mewakili penyembelihan hewan qurban orang lain, tak terkena larangan di atas.
- Larangan di atas dikecualikan bila terjadi sesuatu yang mengharuskan dia mengambil kulit, kuku, atau rambutnya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
8. Disyariatkan utk memakan sebagian dari hewan qurban tersebut. Dalilnya adalah firman Allah l:
“Maka makanlah sebagian darinya.” (Al-Hajj: 28)
Juga tindakan Rasulullah SAW yang memakan sebagian dari hewan qurbannya.
9. Diperbolehkan menyimpan daging qurban tersebut walau lebih dari tiga hari. Beliau n bersabda:
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنِ ادِّخَارِ لُـحُومِ الْأَضَاحِي فَوْقَ ثَلَاثٍ، فَأَمْسِكُوا مَا بَدَا لَكُمْ
“Dahulu aku melarang kalian menyimpan daging qurban lebih dari 3 hari. (Sekarang) tahanlah (simpanlah) semau kalian.” (HR. Muslim no. 1977 dari Buraidah z)
10. Disyariatkan utk menyedekahkan sebagian dari hewan tersebut kepada fakir miskin. Allah SWT berfirman:
“Berikanlah utk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (Al-Hajj: 28)
Juga firman-Nya:
“Beri makanlah orang yang rela dgn apa yang ada padanya (yang tak meminta-minta) & orang yang meminta.” (Al-Hajj: 36)
Yang dimaksud dgn الْبَائِسَ الْفَقِيرَ adalah orang faqir yang menjaga kehormatan dirinya tak mengemis padahal dia sangat butuh. Demikian penjelasan Ikrimah & Mujahid.
Adapun yang dimaksud dgn الْقَانِعَ adalah orang yang meminta-minta daging qurban. Sedangkan الْـمُعْتَرَّ adalah orang yang tak meminta-minta daging, namun dia mengharapkannya. Demikian penjelasan Ibnu Jarir Ath-Thabari t.
11. Diperbolehkan memberikan sebagian dagingnya kepada orang kaya sebagai hadiah utk menumbuhkan rasa kasih sayang di kalangan muslimin.
12. Diperbolehkan memberikan sebagian dagingnya kepada orang kafir sebagai hadiah & upaya melembutkan hati. Sebab qurban adalah seperti shadaqah sunnah yang dapat diberikan kepada orang kafir. Adapun shadaqah wajib seperti zakat, maka tak boleh diberikan kepada orang kafir.
Dan yang dimaksud dgn kafir disini adalah selain kafir harbi. Al-Lajnah Ad-Da`imah mengeluarkan fatwa tentang hal ini (11/424-425, no. 1997).
13. Diperbolehkan membagikan daging qurban dlm keadaan mentah ataupun masak. Diperbolehkan pula mematahkan tulang hewan tersebut.
Demikian beberapa hukum & adab terkait dgn qurban yang dapat dipaparkan pada lembar majalah ini, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 036

Under Category Uncategorized