Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Hukum Suap-Menyuap dan Gratifikasi dalam Syariat Islam Muamalah

Hukum Suap-Menyuap dan Gratifikasi dalam Syariat Islam Muamalah

بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh: Al Ustadz Ibnu Dzulkifli As Samarindy

Kata suap-menyuap pada hari-hari ini ini begitu akrab di telinga dikarenakan seringnya media massa menukilnya, sampai-sampai kata suap-menyuap lebih sering digunakan melebihi makna yang sebenarnya , suap makna sebenarnya adalah memasukkan makanan dgn tangan ke dlm mulut (Kamus Besar bahasa Indonesia)Maka pada hari-hari ini, apabila seseorang mendengar kata suap , bukanlah yang tergambar di benaknya sesuatu yang terkait tangan, mulut & makanan tapi yang langsung terbayang adalah korupsi, sidang & KPK.

Suap sendiri dlm makna yang kedua ini tak ditemukan di dlm kamus bahasa Indonesia, yang ditemukan adalah yang sepadan dengannya yaitu sogok yang diartikan sebagai :  ”dana yang sangat besar yang digunakan utk menyogok para petugas” Sungguh pengertian yang kurang sempurna, karena apabila pengertiannya seperti ini maka tentunya dana-dana kecil tak termasuk sebagai kategori sogok atau suap.

Adapun dlm bahasa arab, suap atau sogok dikenal dgn riswah, yang diartikan sebagai “Apa-apa yang diberikan agar ditunaikan kepentingannya atau apa-apa yang diberikan utk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar “ (Mu’jamul Wasith) .

Dan dlm syariat islam, perkara suap-menyuap ini ini sangat ditentang & diancam dgn ancaman yang mengerikan, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam , beliau bersabda :

لعنة الله على الراشي والمرتشي

“Allah melaknat orang yang memberi suap, & yang menerima suap” (HR. Ahmad & selainnya dari Abdullah bin Amr’ Rhadiyallahu ‘anhuma , Dishohihkan Al-Albani dlm Shohihul Jami’ 5114 & dlm kitab-kitab beliau lainnya)”

Maka hadits ini bagi orang-orang beriman akan membuat mereka akan menjauhi perbuatan ini, & ditambah lagi para ulama mengatakan bahwa hadits-hadits yang semisal seperti ini, yaitu lafadz “Allah melaknat” menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah termasuk kategori dosa besar yang tak akan diampuni kecuali dia bertaubat, adapun ketika dia mati dlm keadaan belum bertaubat maka di bawah kehendak Allah apakah akan mengadzabnya atau tidak.

Akan tetapi manusia pengejar dunia akan selalu mendengar bisikan setan & hawa nafsunya, mereka akan mencari seribu satu cara pembenaran agar seakan-akan perbuatan mereka itu dapat dibenarkan. Begitu juga dgn riswah ini, mereka mempunyai seribu satu alasan utk membenarkan pemberian kepada mereka, diantara alasan mereka yang paling sering dinukil adalah :

Ini adalah uang lelah, uang tips atau hadiahTidak ada pihak yang dirugikan, semua pekerjaan telah diselesaikan sesuai aturan .Kami hanya diberi, kami tak pernah meminta.Maka pemberian inilah yang sekarang dikenal dgn istilah Gratifikasi , yaitu pemberian dlm arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, & fasilitas lainnya. (Wikipedia)

Maka sekarang kembali ke hukum syariatnya, benarkah pemberian kepada pagawai adalah sesuatu yang diperbolehkan utk diterima ??

Telah datang hadits dari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam yang diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim :

حَدِيْثُ أَبِيْ حُمَيْدِ السَّاعِدِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِسْتَعْمَلَ عَامِلاً فَجَاءَهُ الْعَامِلُ حِيْنَ فَرَغَ مِنْ عَمَلِهِ فَقَالَ: يَارَسُوْلَ اللهِ هـذَا لَكُمْ وهـذَا أُهْدِيَ لِيْ. فَقَالَ لَهُ: أَفَلاَ قَعَدْتَ فِى بَيْتِ أَبِيْكَ وَأُمِّكَ  فَنَظَرْتَ أَيُهْدَى لَكَ أَمْ لاَ ؟ ثُمَّ قَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشِيَّةً بَعْدَ الصَّلاَةِ فَتَشَهَّدَ وَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، ثُمَّ قَالَ: أَمَّا بَعْدُ، فَمَا بَالُ الْعَامِلِ نَسْتَعْمِلُهُ فَيَأْتِـيْنَا فَيَقُوْلُ: هـذَا مِنْ عَمَلِكُمْ وَهـذَا أُهْدِيَ لِيْ أَفَلاَ قَعَدَ فِيْ بَيْتِ أَبِيْهِ وَأُمِّهِ فَنَظَرَ هَلْ يُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ؟ فَوَ الَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَيَغُلُّ أَحَدُكُمْ مِنْهَا شَيْـأً إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى عُنُقِهِ إِنْ كَانَ بَعِيْرًا جَاءَ بِهِ لَهُ رُغَاءٌ وَإِنْ كَانَتْ بَقَرَةً جَاءَ بِهَا خُوْارٌ وَإِنْ كَانَتْ شَاةً جَاءَ بِهَا تَيْعَرُ فَقَدْ بَلَّغْتُ فَقَالَ أَبُوْ حُمَيْدٍ: ثُمَّ رَفَعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ حَتَّى إِنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى عُفْرَةِ إِبْطَيْهِ

 Abu Humaidi Assa’idy  Rhadiyallahu ‘anhu . berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassallam . mengangkat seorang pegawai utk menerima sedekah/zakat kemudian sesudah selesai, ia datang kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam . & berkata, “Ini untukmu & yang ini utk hadiah yang diberikan orang padaku.” Maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam . bersabda kepadanya, “Mengapakah engaku tak duduk saja di rumah ayah atau ibumu apakah di beri hadiah atau tak (oleh orang)?” Kemudian sesudah shalat, Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam . berdiri, setelah tasyahud & memuji Allah selayaknya, lalu bersabda. “Amma ba’du, mengapakah seorang pegawai yang diserahi amal, kemudian ia datang lalu berkata, “Ini hasil utk kamu & ini aku berikan hadiah, mengapa ia tak duduk saja di rumah ayah atau ibunya utk menunggu apakah ia diberi hadiah atau tidak?. Demi Allah yang jiwa Muhamad di tangan-Nya tiada seorang yang menyembunyikan sesuatu (korupsi), melainkan ia akan menghadap di hari kiamat memikul di atas lehernya. Jika berupa onta bersuara, atau lembu yang menguak atau kambing yang mengembik, maka sungguh aku telah menyampaikan.” Abu Humaidi berkata, “kemudian Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam ., mengangkat kedua tangannya sehingga aku dapat melihat putih kedua ketiaknya.”

Berkata Ibnu Utsaimin Rahimahullahu  tentang hadits ini :

“Dan dari hadits ini kita mengetahui besarnya kejelekkan riswah, & sesungguhnya hal tersebut termasuk dari perkara-perkara besar yang sampai menyebabkan nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam berdiri berkhutbah kepada manusia & memperingatkan dari perbuatan ini. Karena sesungguhnya apabila riswah merajalela di sebuah kaum maka mereka akan binasa & akan menjadikan setiap dari mereka tak mengatakan kebenaran, tak menghukumi dgn kebenaran & tak menegakkan keadilan kecuali jika diberi riswah, kita berlindung kepada Allah. Dan riswah , terlaknat yang mengambilnya & terlaknat pula yang memberi kecuali apabila dlm keadaan yang mengambil riswah menghalangi hak-hak manusia & tak akan memberikannya kecuali dgn riswah maka dlm keadaan seperti ini laknat jatuh terhadap yang mengambil & tak atas yang memberi karena sesungguhnya pemberi hanya menginginkan mengambil haknya, & tak ada jalan bagi dia utk itu kecuali dgn membayar riswah maka yang seperti ini mendapatkan udzur.  Sebagaimana ditemukan sekarang (kita berlindung kepada Allah) di sebagian pejabat di Negara-negara Islam yang  tak menunaikan hak-hak manusia kecuali dgn riswah ini (kita belindung kepada Allah) maka dia telah memakan harta dgn batil, dia telah menimpakan kepada dirinya sendiri dgn laknat. Kita memohon kepada Allah ampunan, & wajib bagi orang-orang Allah telah mempercayakan kepadanya pekerjaan utk melaksanakannya dgn keadilan & menegakkannya dgn perkara-perkara yang wajib ditegakkan di dalamnya sesuai kemampuannya.( Syarah Riyadhus Sholihin , 1/187)

Berkata Ibnu Baaz Rahimahullahu  :

“Dan hadits ini menunjukkan bahwa wajib atas pegawai di pekerjaaan apa saja utk Negara utk menunaikan apa-apa yang dipercayakan kepadanya & tak boleh bagi dia utk menerima hadiah yang terkait dgn pekerjaaanya. Dan apabila dia mengambilnya maka dia harus menaruhnya di Baitul Mal , & tak boleh bagi dia utk mengambil bagi dirinya sendiri berdasarkan hadits shohih ini karena sesungguhnya hal itu merupakan perantara kejelekkan & pelanggaran amanat.” (Fatawa Ulama Baladil Haram Hal. 655)

Mungkin sebagian orang akan mengatakan, bahwa ini adalah fatwa ulama-ulama masa kini, maka kita butuh ucapan ulama-ulama terdahulu. Maka perhatikanlah ucapan para imam-imam kita terdahulu :

Imam Bukhori membuat bab di dlm shohihnya yang mencantumkan hadits ini : “Bab Hadiah utk pegawai” & di tempat lain  beliau membuat bab : “Bab orang-orang yang tak menerima hadiah dikarenakan sebab”

Imam Nawawi membuat bab dlm Shohih Muslim : “Bab haramnya hadiah utk pegawai”

Maka sungguh benar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam , seandainya saja kira-kira kita duduk di rumah apakah akan ada yang datang orang yang tak dikenal memberi kita hadiah ??? seandainya kita tak di posisi sedang memegang urusan atau proyek apakah kita akan diberi hadiah?? apakah apabila kita tak sedang berada di loket-loket pelayanan masyarakat kita akan diberi hadiah sementara pegawai lain , pegawai biasa yang tak memegang urusan tak diberi hadiah ???

Umar bin Abdil aziz Rahimahullahu  , beliau berkata ” Hadiah pada zaman Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam adalah hadiah, adapun hari ini hadiah (hakikatnya) adalah sogokan” (Syarh Ibnu Bathol 7/111)

Lajnah Da’imah Lilbuhuts Wal Ifta’ ditanya tentang 3 bentuk pemberian dlm pekerjaaan :

Pertama,  Pemberian setelah ditunaikannya seluruh pekerjaan dgn baik, tanpa adanya penyia-nyiaan, penipuan, penambahan atau pengurangan & tanpa mengutamakan seseorang dibanding yang lainnya

Kedua ,  Dengan diminta , baik secara jelas ataupun dgn isyarat.

Ketiga, Uang pemberian orang sebagai tambahan jam kerja yang sudah habis,. Misalnya jam kerja sudah habis, tapi masyarakat atau rekanan masih minta dilayani & mereka siap membayar uang lembur kita.

Maka mereka menjawab :

Bentuk pertama adalah salah satu bentuk memakan harta manusia dgn cara yang batil

Bentuk kedua termasuk dlm hadits

لعنة الله على الراشي والمرتشي

“Allah melaknat orang yang memberi suap, & yang menerima suap”

Bentuk ketiga tetap tak boleh, karena kita berkerja pada pimpinan & Negara, kalau memang mereka ingin kita berkerja lebih maka mereka harus meminta kepada pimpinan kita secara resmi agar kita berkerja lebih & kemudian kita dibayar oleh Negara atau perusahaan bukan dari masyarakat atau rekanan.

(Sumber Fatwa No. 9374 dgn ringkasan & perubahan)

Dan sebagai tambahan utk penguat hati-hati yang masih ragu, sebuah hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassallam tentang hadiah bagi para pegawai, beliau Shalallahu ‘alaihi wassallam bersabda :

هدايا العمال غلول

“Hadiah utk pegawai adalah khianat”

(HR. Ahmad & Baihaqi dari Abu Humaidi Assa’idy  Rhadiyallahu ‘anhu , di shohihkan Al-Albani dlm Shohihul Jami’ No. 7021)

Maka bagi orang-orang yang beriman, hendaknya taat & tunduk dgn apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah & RasulNya, jangan lagi mencari pembenaran-pembenaran utk mengikuti hawa nafsunya.

Allah berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin & tak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah & Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. & Barangsiapa mendurhakai Allah & Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab : 36)

 Wallahu a’lam

Sumber: As Samarindy
sumber: www.mediasalaf.com tags: Karena Cinta, Majlis Rasulullah, Cinta Mereka, Allah Swt, Insya Allah, Kamus Bahasa Indonesia, Kamus Bahasa Indonesia Yang, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Syariat Islam, Al Albani, Dana Dana, Media Massa, Hari Ini, Bahasa Arab, Hari Hari,

Under Category Uncategorized