Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Harta dan Anak adalah Nikmat Dunia

Harta dan Anak adalah Nikmat Dunia

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah ‘Askari bin Jamal)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu & anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)

Penjelasan Mufradat Ayat
“Mengingat Allah.”

Ada beberapa pendapat yang menjelaskan makna dzikrullah dlm ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah seluruh amalan wajib, sebagaimana yang diriwayatkan dari Al-Hasan, & dikuatkan oleh Asy-Syaukani dlm Fathul Qadir. Adh-Dhahhak & ‘Atha` menerangkan: “Yang dimaksud adalah shalat wajib.” Al-Kalbi berkata: “Yang dimaksud adalah berjihad bersama Rasulullah .”

Ada lagi yang berpendapat: “Al-Qur`an.”
Yang shahih bahwa dzikrullah dlm ayat ini bersifat umum, mencakup semua yang mereka sebutkan, sebagaimana dikatakan Al-Alusi dlm tafsirnya.

Penjelasan Makna Ayat
Ketika menerangkan ayat ini, Al-Allamah As-Sa’di t mengatakan:
“(Allah) k memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin utk memperbanyak berdzikir kepada-Nya, karena hal itu akan mendatangkan keberuntungan, kemenangan, & kebaikan yang banyak. Allah SWT juga melarang mereka tersibukkan dgn harta & anak-anak mereka dari berdzikir kepada-Nya. Karena mencintai harta & anak-anak adalah sesuatu yang menjadi tabiat kebanyakan jiwa, sehingga akan menyebabkan lebih dia utamakan daripada kecintaan kepada Allah l. Dan hal itu akan mendatangkan kerugian yang besar. Oleh karenanya, Allah SWT berfirman ‘Barangsiapa yang melakukan itu’, yaitu harta & anak melalaikannya dari berdzikir kepada Allah l, ‘maka mereka itulah orang-orang yang merugi’ dari mendapatkan kebahagiaan yang abadi & kenikmatan yang kekal, karena mereka lebih mengutamakan kehidupan yang fana daripada kehidupan yang kekal.

Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya hartamu & anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 15) [Taisir Al-Karim Ar-Rahman]
Al-Alusi berkata: “Janganlah karena mementingkan pengurusan (anak-anak & harta) & memerhatikan kemaslahatannya serta bersenang-senang dengannya, menyebabkan kalian tersibukkan dari berdzikir kepada Allah k berupa shalat & ibadah-ibadah lainnya, yang akan mengingatkan kalian kepada sesembahan yang haq l.” (Tafsir Al-Alusi)
Asy-Syaukani t menyebutkan bahwa harta & anak-anak yang melalaikan dari berdzikir kepada Allah SWT merupakan salah satu akhlak kaum munafiqin. (Fathul Qadir)

Anak & Harta Sebagai Perhiasan Dunia
Ayat Allah k ini menjelaskan bahwa anak & harta merupakan sebuah kesenangan & perhiasan yang melengkapi kehidupan seseorang di dunia. Dengannya, dia merasakan kebahagiaan & ketentraman dlm hidupnya. Di dlm ayat lain Allah k berfirman:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak & sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia & di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Ali ‘Imran: 14-15)

Namun demikian, kebahagiaan dgn mendapatkan karunia berupa harta & anak tidaklah sempurna, jika tak dibarengi iman & amal shalih yang akan menunjang kehidupan & kebahagiaan dunia serta akhiratnya. Oleh karenanya, bagi seorang mukmin, kehidupan akhirat jauh lebih penting & lebih utama daripada kehidupan dunia. Sehingga kesenangan yang dia rasakan di dunia tak akan menjadi penyebab kelalaiannya utk mengejar kehidupan yang lebih kekal & kebahagiaan yang bersifat abadi di akhirat.

Allah k berfirman:
“Harta & anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik utk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)
Asy-Syinqithi t menerangkan: “Yang dimaksud ayat yang mulia ini adalah peringatan kepada manusia agar senantiasa beramal shalih, agar mereka tak tersibukkan dgn perhiasan kehidupan dunia berupa harta & anak-anak, dari sesuatu yang memberi manfaat kepada mereka di akhirat di sisi Allah SWT berupa amalan-amalan yang shalih.” (Adhwa`ul Bayan, 4/80, cetakan Darul Hadits, Kairo)

Sehingga pada hakikatnya, di balik kesenangan & kebahagiaan mendapatkan harta & anak, keduanya merupakan ujian yang apabila seorang hamba tak memanfaatkannya dgn baik maka dapat menyebabkan kebinasaan & kehancuran kehidupan dunia serta akhiratnya. Allah k berfirman:
“Sesungguhnya hartamu & anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), & di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 15)
Juga firman-Nya:
“(Yaitu) di hari harta & anak-anak laki-laki tak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dgn hati yang selamat.” (Asy-Syu’ara`: 88-89)
Demikian pula Rasulullah SAW. Beliau n senantiasa memperingatkan umatnya dari bahaya fitnah (cobaan) harta & anak. Di antaranya adalah yang diriwayatkan At-Tirmidzi dari Ka’b bin ‘Iyadh z bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya setiap umat mempunyai ujian, & ujian bagi umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi no. 2336, dishahihkan oleh Al-Albani t dlm Shahihul Jami’ no. 2148)
Demikian pula tentang anak, Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الْوَلَدَ مَبْخَلَةٌ مَجْبَنَةٌ
“Sesungguhnya anak itu penyebab kekikiran & ketakutan.” (HR. lbnu Majah no. 3666, Al-Hakim dlm Mustadrak, 3/179, Al-Baihaqi, 10/202, Ibnu Abi Syaibah 6/378, Ath-Thabarani, 3/32, dishahihkan Al-Albani t dlm Shahih Al-Jami’)
Al-Munawi berkata menjelaskan hadits ini: “Yaitu membawa kedua orangtuanya utk berbuat bakhil & mendorongnya utk bersifat demikian sehingga dia menjadi kikir harta karenanya, serta meninggalkan jihad karenanya.” Al-Mawardi berkata: “Hadits ini mengabarkan bahwa hendaknya seseorang berhati-hati terhadap anak, yang dapat menyebabkan munculnya sifat-sifat ini. Juga akan memunculkan akhlak yang demikian. Ada sebagian kaum yang membenci utk meminta dikaruniai anak karena khawatir keadaan yang tak mampu dia tolak dari dirinya, sebab menetapnya hal ini (pada diri manusia) secara alami & mesti terjadi.” (Faidhul Qadir, 2/403)

Masing-masing Ada Saatnya
Dalam Shahih Muslim (no. 2750), dari sahabat Hanzhalah Al-Usayyidi z ­–salah seorang juru tulis Rasulullah SAW– dia berkata: Abu Bakr z menemuiku lalu bertanya: “Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?”
Beliau berkata: Aku menjawab: “Hanzhalah telah munafik!”
Abu Bakr berkata: “Subhanallah, apa yang engkau katakan?”
Aku berkata: “Tatkala kami berada di samping Rasulullah SAW, beliau mengingatkan kami tentang neraka & surga, sehingga seakan-akan kami melihatnya dgn mata kepala. Namun di saat kami keluar dari sisi Rasulullah SAW, kami menyibukkan diri bersama istri, anak-anak & kehidupan, sehingga kami banyak lupa.”
Abu Bakr z pun berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kami juga merasakan hal seperti ini!”
Akupun berangkat bersama Abu Bakr z hingga kami masuk ke tempat Rasulullah SAW. Aku berkata: “Hanzhalah telah munafik, wahai Rasulullah.”
Maka Rasulullah SAW bertanya: “Ada apa?”
Aku berkata: “Wahai Rasulullah, kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami dgn neraka & surga sehingga seakan-akan kami melihatnya dgn mata kepala. Namun jika kami keluar dari sisimu maka kamipun sibuk bersama istri, anak-anak, & kehidupan sehingga kami banyak lupa.”
Maka Rasulullah SAW bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً -ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya kalian terus-menerus (memiliki keimanan) seperti di saat kalian berada di sisiku & selalu berdzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian di atas tempat-tempat tidur & di jalan-jalan (yang kalian lalui). Namun wahai Hanzhalah, masing-masing ada saatnya.” Beliau mengucapkannya tiga kali.
‘Ali Al-Qari berkata tatkala menjelaskan hadits ini: “Kesimpulan maknanya adalah: Wahai Hanzhalah, terus-menerus dlm keadaan yang disebutkan adalah satu kesulitan yang tak seorang pun mampu melakukannya, sehingga Allah SWT tidaklah membebani demikian. Namun yang sanggup dilakukan oleh kebanyakan adalah seseorang mempunyai waktu berada dlm keadaan seperti ini. Tidak ada dosa baginya menyibukkan dirinya utk bersenang-senang dgn apa yang disebutkan di waktu yang lain. Engkau dlm keadaan tetap berada di atas jalan yang lurus. Tidak terdapat kemunafikan pada dirimu sama sekali seperti yang engkau sangka. Maka berhentilah dari keyakinanmu itu, karena sesungguhnya itu termasuk celah bagi setan utk masuk kepada para ahli ibadah, yang akan mengubah mereka dari apa yang telah mereka amalkan. Sehingga mereka akan terus berusaha mengubahnya hingga mereka meninggalkan amalan tersebut.” (Mirqatul Mafatih, 5/150)
Hadits ini menunjukkan bahwa bukanlah satu hal yang tercela jika seseorang menyempatkan dirinya utk bersenda gurau bersama istri & anak-anaknya. Juga menyibukkan diri dgn usahanya dlm mencari nafkah. Asalkan perkara tersebut diberi porsi yang sesuai, tak menyebabkannya lalai dari beribadah kepada Allah l. Jangan pula sebaliknya, karena istri yang dapat menjadi penyebab fitnah, justru dijadikan alasan utk tak menikah. Atau anak dijadikan alasan penyebab fitnah, sehingga dia menelantarkan mereka & tak menyempatkan waktu bersamanya.

Atau harta yang dapat menjadi penyebab fitnah sehingga meninggalkan mencari nafkah & tak menafkahi orang-orang yang wajib dia nafkahi. Namun semestinya semua itu ditempatkan sesuai kedudukannya, sehingga bernilai ibadah di sisi Allah l.
Dalam sebuah hadits dari jalan ‘Aun bin Abi Juhaifah, dari ayahnya, dia berkata: Ketika Nabi mempersaudarakan antara Salman & Abud Darda`, Salman datang mengunjungi  kepada Abud Darda`. Beliau melihat Ummud Darda` dlm keadaan lusuh. Beliau bertanya kepadanya: “Ada apa denganmu?” Ia menjawab: “Saudaramu Abud Darda` tak punya kebutuhan terhadap dunia.” Lalu datanglah Abud Darda` & membuatkan makanan untuknya. Abud Darda` lalu berkata: “Makanlah, karena sesungguhnya aku berpuasa.” Salman berkata: “Saya tak akan makan hingga engkau makan.” “Maka diapun makan bersama Salman. Tatkala di malam hari Abud Darda` bangkit (untuk shalat), maka Salman berkata: “Tidurlah.” Lalu dia bangkit, lagi maka Salman berkata: “Tidurlah.” Sehingga tatkala di akhir malam Salman berkata: “Bangunlah sekarang.” Lalu keduanya pun shalat. Lalu Salman berkata kepadanya: “Sesungguhnya atas diri ada hak utk Rabb-mu, ada hak utk dirimu, & ada pula hak utk keluargamu. Berikanlah hak tersebut kepada setiap yang memiliki haknya.” Lalu Abud Darda` datang kepada Nabi & mengabarkan hal tersebut kepada beliau, maka Nabi bersabda: “Telah benar Salman.” (HR. Al-Bukhari, no. 1867)

Demikian pula yang diriwayatkan oleh Buraidah z, ia berkata: “Suatu ketika Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan kami. Tiba-tiba datang Hasan & Husain c yang keduanya sedang memakai gamis berwarna merah & keduanya terjatuh. Maka Rasulullah SAW turun dari mimbarnya & menggendong keduanya, lalu meletakkan keduanya di hadapannya. Lalu beliau berkata: “Maha benar Allah k ketika berfirman: ‘Sesungguhnya harta-harta & anak-anak kalian adalah fitnah (ujian)’. Aku melihat dua anak kecil ini berjalan & terjatuh, maka aku tak bersabar, sehingga aku memutus khutbahku & menggendong keduanya.” Kemudian beliau melanjutkan khutbahnya. (Diriwayatkan oleh Ashabus Sunan, Ahmad, Ibnu Hibban & yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dlm Shahih Al-Jami’)
Demikian pula yang diriwayatkan dari Al-Bara` bin ‘Azib z, dia berkata: “Aku melihat Nabi & Hasan bin ‘Ali c berada di atas pundaknya, lalu beliau bersabda: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya maka cintailah dia’.” (HR. Al-Bukhari no. 3749 & Muslim no. 2422)
Maka, rasa cinta kepada seorang anak & harta, seharusnya membawa dampak yang positif, yang semakin mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya. Dengan cara menginfakkannya di jalan Allah SWT jika itu berupa harta. Adapun anak adalah dgn mendidiknya & membiasakannya utk taat kepada Allah k semenjak kecil.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita & keluarga kita agar senantiasa menjadi hamba yang ikhlas, bersabar & istiqamah dlm melaksanakan perintah-perintah-Nya, & menjauhkan kita dari fitnah serta penyebab jauhnya hamba dari beribadah kepada-Nya.
“Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami & keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), & jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (Al-Furqan: 74)
Wallahu a’lam.
Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 043

Under Category Uncategorized