Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Uncategorized > Dampak Keimanan dalam Kehidupan Seorang Muslim Abu Hamzah

Dampak Keimanan dalam Kehidupan Seorang Muslim Abu Hamzah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari)
Mengenal lebih dlm iman & rukun-rukunnya menjadi keharusan. Karena buah dari memahami keimanan secara benar akan berdampak langsung bagi kehidupan seseorang.
Dalam kitab-Nya, Allah SWT telah menyebutkan banyak sekali hal tentang keimanan, antara lain definisinya yang Allah SWT firmankan:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
“Rasul telah beriman kepada Al-Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya. Demikian pula orang-orang yang beriman semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, & rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.’ Dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar & kami taat.’ (Mereka berdoa): ‘Ampunilah kami ya Rabb kami & kepada Engkaulah tempat kembali’.” (Al-Baqarah: 285)
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah & Rasul-Nya & kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya & hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (An-Nisa`: 136)
Kemudian Allah SWT juga menjelaskan bahwa keimanan adalah karunia yang Allah SWT berikan utk Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيْمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur`an) dgn perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur`an) & tak pula mengetahui apa iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur`an itu dgn cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)
Selanjutnya Allah SWT menerangkan balasan yang diperoleh orang-orang beriman di dunia maupun di akhirat. Adapun balasan di dunia, Allah SWT berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman & beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan ke dlm (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Maryam: 96)
Sedangkan balasan di akhirat, Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan orang-orang yang beriman & beramal shalih, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka & benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-‘Ankabut: 7)
Iman adalah agama. Nabi telah membagi agama menjadi tiga tingkatan. Dalam sebuah hadits, ‘Umar ibnul Khaththab z berkata: “Ketika kami duduk-duduk di samping Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih & berambut sangat hitam. Pada dirinya tak nampak bekas melakukan perjalanan jauh & tak seorangpun di antara kami mengenalnya. Ia pun duduk di hadapan Rasulullah SAW dgn menempelkan kedua lututnya ke kedua lutut beliau sambil meletakkan dua telapak tangannya pada kedua paha beliau n, lantas bertanya: ‘Hai Muhammad, beritahu aku tentang Islam.’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Islam adalah engkau bersaksi tak ada sembahan yang haq kecuali Allah & Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, & shaum Ramadhan serta haji ke Baitullah jika engkau punya kemampuan utk itu.’ Laki-laki itu berkata: ‘Engkau benar’.” (‘Umar berkata): “Kami merasa heran kepadanya, ia yang bertanya namun ia juga yang membenarkannya. Selanjutnya dia bertanya: ‘Beritahu aku tentang iman.’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya & beriman kepada hari akhir serta kepada takdir yang baik & yang buruknya.’ Laki-laki itupun kembali membenarkannya. Kemudian dia bertanya: ‘Beritahukan kepadaku tentang ihsan.’  Rasulullah SAW menjawab: “(Ihsan) adalah engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tak melihat-Nya, maka Dia melihatmu’.” (HR. Muslim no. 93)
Hadits ini menerangkan tentang hakikat keimanan, yaitu beriman terhadap rukun-rukunnya yang enam.
Agar kita dapat mengetahui apa dampak keimanan dlm kehidupan seorang muslim atau masyarakatnya, maka kita harus mengetahui makna-makna keimanan terhadap enam rukunnya ini.
Makna Beriman kepada Allah l
Beriman kepada Allah SWT adalah hubungan yang kuat antara manusia dgn Sang Penciptanya. Hubungan itu tertanam di dlm hati, sementara hati adalah sesuatu yang berharga yang dimiliki oleh manusia, sedangkan yang paling berharga dlm hati manusia adalah keimanan.
Oleh sebab itulah, hidayah iman merupakan nikmat yang paling besar. Allah SWT berfirman:
يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لاَ تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلاَمَكُمْ بَلِ اللهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيْمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dgn keislaman mereka. Katakanlah: ‘Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dgn keislamanmu. Sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dgn menunjuki kamu kepada keimanan, jika kamu adalah orang-orang yang benar’.” (Al-Hujurat: 17)
Allah SWT berfirman:
قَالَتِ اْلأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ لاَ يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka):  ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: ‘Kami telah tunduk.’ Karena iman itu belum masuk ke dlm hatimu, & jika kamu taat kepada Allah & Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Hujurat: 14)
Beriman kepada Allah SWT meliputi iman terhadap wujud-Nya. Secara pasti, fitrah maupun akal manusia mengakui eksistensi Allah SWT sebagai pencipta & tak mungkin segala sesuatu yang ada terjadi dgn sendirinya. Terlebih segala sesuatu yang ada ini, yang sudah tertata sedemikian rupa, pada asalnya dlm keadaan tak ada. Maka tak akan mungkin tercipta begitu saja dlm keadaan sudah sempurna. Ini semua memberikan ketentuan yang jelas akan wujud Allah SWT Rabb semesta alam.
Di dlm Al-Qur`an Allah SWT berfirman:
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ. أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَاْلأرْضَ بَل لاَ يُوقِنُونَ. أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُسَيْطِرُونَ
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit & bumi itu? Sebenarnya mereka tak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa?” (Ath-Thur: 35-37)
Kemudian iman kepada Allah SWT juga mencakup iman terhadap Rububiyah-Nya. Kata Rububiyyah adalah penisbatan kepada nama Allah ‘Ar-Rabb’ yang bermakna Pendidik, Penolong, Pemelihara, Yang Merajai, & lain sebagainya.
Iman kepada Rububiyyah Allah maknanya beriman bahwa Allah Maha Pencipta, Yang Menguasai & Mengatur segala urusan, Menghidupkan & Mematikan serta perbuatan-perbuatan Allah SWT lainnya. Maka keimanan dlm Rububiyyah ini mengandung beberapa hal, antara lain iman terhadap perbuatan-perbuatan Allah  l secara umum, iman terhadap qadha & qadar Allah SWT serta iman terhadap keesaan Dzat-Nya. (Al-Madkhal li Ad-Dirasatil ‘Aqidah Al-Islamiyyah hal. 87)
Allah SWT berfirman:
أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Ingatlah menciptakan & memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Rabb semesta alam.” (Al-A’raf: 54)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit & bumi?’ Niscaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’.” (Az-Zukhruf: 9)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka’, niscaya mereka menjawab: ‘Allah’, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah l)?” (Az-Zukhruf: 87)
Selanjutnya, yang termasuk bagian dari keimanan kepada Allah SWT adalah iman terhadap Uluhiyyah & Asma` wa Shifat-Nya. Iman terhadap uluhiyyah Allah SWT maknanya ialah meyakini bahwa Allah SWT sebagai satu-satunya sesembahan yang haq, tak ada sekutu bagi-Nya. Dengan kata lain, mengesakan Allah SWT dlm ibadah & ketaatan.
Allah SWT berfirman:
وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ
“Dan Ilah kalian adalah Ilah Yang Maha Esa, tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 163)
ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ
“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (sesembahan) Yang Haq, & sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah adalah yang batil, & sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Hajj: 62)
Adapun iman terhadap Asma` wa Shifat-Nya adalah meyakini & menetapkan apa yang terdapat dlm kitab Allah SWT & Sunnah Rasulullah berupa nama-nama-Nya yang paling baik & sifat-sifat-Nya yang paling tinggi. Allah SWT berfirman:
وَلِلهِ اْلأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Hanya milik Allah Asma`ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dgn menyebut Asma`ul Husna itu.” (Al-A’raf: 180)
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dgn Dia, & Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
Buah Keimanan kepada Allah l
Keimanan yang benar kepada Allah SWT akan menumbuhkan rasa cinta yang kuat kepada-Nya & mengagungkan-Nya. Juga akan nampak sekali dlm diri setiap manusia rasa khasy-yah & takut dari-Nya serta selalu berharap kepada-Nya, yang kemudian mendorongnya utk beribadah.
Sebagian salaf berkata: “Siapa yang menyembah Allah SWT karena rasa cinta semata, maka dia seorang zindiq. Dan siapa yang menyembah-Nya karena penuh harap (raja`) semata, maka dia seorang Murji`. Sedangkan yang menyembah-Nya karena rasa takut saja, maka dia Khariji. Adapun yang menyembah-Nya karena cinta, takut, & penuh harap, maka dia seorang mukmin ahli tauhid.” (Al-Madkhal li Ad-Dirasatil Aqidah Al-Islamiyyah hal. 120)
Makna Beriman kepada Para Malaikat
Kata malaikat adalah bentuk jamak dari malak. Asal katanya adalah ma`lak, dari kata Al-Alukah yang bermakna delegasi. (Shahih Al-Bukhari bi syarhil Imam Al-Kirmani, 1/194)
Iman kepada malaikat meliputi keimanan terhadap seluruh malaikat, baik yang diketahui nama & tugasnya ataupun tidak. Juga mengimani bahwasanya mereka adalah makhluk yang Allah SWT ciptakan dari cahaya dgn tujuan agar beribadah kepada-Nya & menjalankan perintah-Nya.
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ عِنْدَهُ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَ يَسْتَحْسِرُون. يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَ يَفْتُرُونَ
“Dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh utk menyembah-Nya & tiada pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam & siang tiada henti-hentinya.” (Al-Anbiya`: 19-20)
Buah Beriman kepada Malaikat
Ketika seorang muslim meyakini adanya makhluk yang disebut malaikat dgn keyakinan yang benar, maka akan tertanam dlm jiwanya pengetahuan terhadap keagungan Allah l, kekuatan & kekuasaan-Nya. Sebab kebesaran yang ada pada makhluk adalah gambaran akan kebesaran sang Khaliq. Selanjutnya akan muncul pula darinya rasa syukur karena perhatian Allah SWT atas segenap Bani Adam, di mana Allah SWT menugasi mereka utk menjaganya & mencatat amalannya serta kemaslahatan lainnya. Di samping itu, tumbuh pula kecintaan kepada para malaikat atas apa yang mereka lakukan berupa beribadah kepada Allah l. (Tsalatsatul Ushul bi Syarh Asy-Syaikh Ibni ‘Utsaimin hal. 92)
Makna Iman kepada Kitab Allah l
Iman kepada kitab-kitab Allah SWT meliputi keimanan akan beberapa hal. Di antaranya, beriman bahwa semuanya turun dari sisi Allah l, beriman kepada kitab-kitab-Nya yang telah diketahui namanya, seperti Al-Qur`an, Taurat, Injil, & Zabur, maupun yang tak diketahui namanya. Serta membenarkan berita-beritanya, seperti pemberitaan dlm Al-Qur`an & kitab-kitab sebelumnya yang tak diubah atau dipalingkan maknanya. Selanjutnya mengamalkan hukum-hukumnya yang tak dihapus (mansukh), ridha, & menerima sepenuhnya. (Tsalatsatul Ushul bi Syarh Ibni Utsaimin, hal. 94)
Kitab-kitab sebelum Al-Qur`an semuanya telah di-mansukh (dihapus) oleh Al-Qur`an. Karena itu tak boleh beramal dgn hukum yang ada pada kitab-kitab tersebut kecuali yang shahih darinya & diakui oleh Al-Qur`an.
Buah Iman kepada Kitab-Kitab Allah l
Seorang hamba akan semakin menyadari betapa besar perhatian Allah l, sehingga Dia menurunkan kitab yang menjadi petunjuk bagi setiap kaum. Inilah dampak terbesar dari keimanan kepada seluruh kitab-Nya, di samping hikmah yang nyata berupa syariat yang Allah SWT tetapkan utk setiap kaum yang mencocoki keadaan mereka. Allah SWT berfirman:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan & jalan yang terang.” (Al-Ma`idah: 48)
Makna Beriman kepada Rasul-Rasul Allah l
Para rasul Allah SWT adalah orang-orang pilihan yang diutus kepada kita utk menyampaikan syariat-Nya. Karena itu beriman kepada para rasul berarti mengimani bahwa risalah yang mereka bawa adalah haq dari Allah l, beriman kepada tiap-tiap dari mereka secara menyeluruh baik yang diketahui namanya maupun yang tidak, tanpa membeda-bedakannya, kemudian membenarkan seluruh berita yang shahih yang telah mereka sampaikan, serta mengamalkan syariat Rasul (Muhammad n) yang telah diutus ke tengah-tengah kita.
Buah Beriman kepada Rasul Allah l
Tanpa kehadiran seorang rasul, tak seorangpun di antara manusia yang mengetahui bagaimana cara menyembah Allah SWT & menuju jalan Allah SWT yang lurus. Padahal itu semua merupakan tugas yang harus dijalankan oleh segenap manusia. Keimanan kepada para rasul juga membuat seorang muslim menguatkan rasa syukurnya akan nikmat yang besar ini, karena ia mengetahui kasih sayang & perhatian Allah SWT kepadanya. Rasa cinta, pujian, & sanjungan yang pantaspun akan mengalir pada para rasul karena mereka adalah utusan Allah l, beribadah kepada-Nya, menyampaikan risalah-Nya, & penasihat bagi umatnya.
Makna Beriman kepada Hari Akhir
Beriman kepada hari akhir maknanya adalah keyakinan yang pasti bahwa hari akhir itu haq adanya, tiada keraguan tentangnya. Allah SWT berfirman:
اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لاَ رَيْبَ فِيهِ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ حَدِيثًا
“Allah, tak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?” (An-Nisa`: 87)
Keimanan ini mencakup iman terhadap hari kebangkitan setelah kematian serta iman kepada semua yang akan terjadi pada hari itu.
Buah Beriman kepada Hari Akhir
Adanya hari akhir & beriman kepadanya tentu saja menjadi motivasi tersendiri bagi seorang muslim utk semakin senang & bersemangat melakukan berbagai macam ketaatan, sebagai puncak harapan terhadap pahala yang disiapkan di hari itu. Adanya siksa & ancaman pada hari itu juga membuat seorang muslim takut & lari dari kemaksiatan di dunia. Kemudian akan muncul kebahagiaan dlm dirinya ketika mengingat hari akhir sebagai kenikmatan & perhiasan pengganti perhiasan dunia. (Taisirul Wushul hal. 81)
Makna Beriman kepada Takdir Baik & Buruk
Seseorang yang beriman kepada takdir, maknanya dia harus mengimani bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang global maupun yang terperinci, baik yang terkait dgn perbuatan-perbuatan-Nya atau perbuatan-perbuatan hamba-Nya, beriman bahwa Allah k telah menuliskan itu semua di Lauhul Mahfudz, beriman bahwa seluruh yang terjadi di alam ini dgn kehendak Allah SWT serta beriman bahwa semua yang ada di alam ini adalah makhluk bagi Allah k, baik dzatnya, sifatnya, & juga gerakan-gerakannya. Dalil-dalil tentang hal ini banyak Allah k sebutkan dlm kitab-Nya.
Buah Beriman kepada Takdir
Ketetapan Allah SWT atas makhluk-Nya pasti terjadi. Sehingga iman kepada takdir menuntut seorang muslim utk bersandar diri sepenuhnya kepada Allah SWT ketika melakukan suatu sebab & tak bersandar kepada sebab itu sendiri. Seorang muslim tak akan memiliki perasaan ujub tatkala mampu meraih apa yang diinginkan, karena pencapaiannya tersebut hanyalah semata-mata nikmat dari Allah l. Bahkan hatinya akan menjadi tenang & lega manakala takdir Allah SWT menimpanya. Tidak menjadi goyah keimanannya dikarenakan lenyapnya apa-apa yang dicintai & datangnya yang dibenci. Semuanya karena dia yakin bahwa itu terjadi dgn takdir Allah k.
Wallahu a’lam.

Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 031

Under Category Uncategorized