Akhlak Mulia

Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah, Menghindari Bid’ah

Home > Khutbah Jum'at, Syariat Islam > Dalil tentang Kewajiban Menuntut Ilmu

Dalil tentang Kewajiban Menuntut Ilmu

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي فَقَّهَ مَنْ أَرَادَ بِهِ خَيْرًا فِيْ الدِّيْنِ وَرَفَعَ مَنَ;ازِلَ الْعُلَمَاءِ فَوْقَ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهِدَ لِنَفْسِهِ بِالْوِحْدَانِيَّةِ وَشَهِدَ بِهَا مَلاَئِكَتُهُ وَالْعُلَمَاءُ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ هُدًى لِلْعَالَمِيْنَ وَقُدْوَةً لِلْعَامِلِيْنَ وَحُجَّةً عَلَى الْعِبَادِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَتَعَلَّمُوا الْعِلْمَ ما يَسْتَقِيْمُ بِهِ دِيْنُكُمْ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan ilmu di atas kejahilan & meninggikan derajat para ulama di atas hamba-hamba-Nya. Saya bersaksi bahwa tak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah SWT semata, tak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba & utusan-Nya. Shalawat & salam semoga senantiasa Allah SWT curahkan kepada Nabi kita Muhammad & keluarganya, serta para sahabatnya, juga seluruh kaum muslimin yang senantiasa mengikuti petunjuknya.
Marilah kita berupaya utk selalu bertakwa kepada Allah SWT & bersungguh-sungguh dlm memahami agama-Nya dgn menuntut ilmu yang bermanfaat. Karena ilmu adalah cahaya & petunjuk, sedangkan kebodohan adalah kegelapan & kesesatan. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah & kitab yang memberikan keterangan yang sangat jelas. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, & (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang-benderang dgn seizin-Nya & menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Maidah:15-16)
Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Dengan menuntut ilmulah, seseorang akan mengenal Rabb-nya & akan kokoh di atas agama yang mulia. Dengan menuntut ilmu, seseorang akan mengetahui bahwa Dialah Allah SWT satu-satunya sesembahan yang benar, sedangkan selain-Nya adalah sesembahan yang batil. Dengan demikian, Allah SWT akan selamatkan seseorang dgn sebab menuntut ilmu dari kegelapan syirik & kemaksiatan serta kesesatan bid’ah & kerancuan pemikiran. Begitu pula, Allah SWT akan menyelamatkannya dari kegelapan & kesulitan serta dijauhkan dari siksa-Nya di hari kebangkitan.
Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah l,
Menuntut ilmu adalah jalan utk mendapatkan keridhaan Allah SWT & jalan menuju surga-Nya yang penuh dgn kenikmatan. Nabi bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa berjalan dlm rangka menuntut ilmu maka akan dimudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa jalan yang pertama kali harus ditempuh utk mencapai jannah (surga) tak lain adalah dgn cara menuntut ilmu. Barangsiapa menempuh jalan lainnya, atau menyangka bahwa dirinya akan mendapatkan kenikmatan jannah meskipun tanpa menuntut ilmu, maka akan sia-sialah usahanya meskipun dgn susah-payah dia menjalaninya. Bahkan dia akan menjadi orang yang merugi karena sia-sia amalannya. Dirinya menyangka telah banyak beramal, padahal apa yang dilakukan adalah amalan bid’ah yang tak akan diterima oleh Allah l. Bahkan yang dilakukan adalah perbuatan syirik yang akan menjadi sebab gugurnya seluruh amal ibadah yang telah dilakukannya. Allah SWT berfirman:
Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia amalannya dlm kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. (Al-Kahfi: 103-104)
Hadirin jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Dengan demikian kita mengetahui bahwa kegiatan & kesibukan seseorang dlm menuntut ilmu memiliki keutamaan yang sangat besar, & orang yang melakukannya pada dasarnya sedang dlm perjalanan menuju jannah (surga). Oleh karena itu, para pendahulu kita dari kalangan salafush shalih adalah orang-orang yang sangat bersemangat dlm menuntut ilmu. Lihatlah bagaimana salah seorang sahabat, yaitu Abu Ayyub Al-Anshari z, yang hanya karena ingin mendapatkan satu hadits, beliau harus melakukan perjalanan dari kota Madinah menuju Mesir utk menemui sahabat lainnya yang meriwayatkan hadits dari Nabi yang dia belum memilikinya. Begitu pula sahabat Jabir ibn ‘Abdillah z, & para pendahulu kita yang lain. Mereka siap melakukan perjalanan yang jauh utk mendapatkan hadits Nabi n. Bahkan mereka pun tak merasa direndahkan meskipun harus mengambilnya dari orang yang ilmu & keutamaannya di bawah mereka.
Sesungguhnya cukup bagi seseorang utk mengambil pelajaran yang menunjukkan betapa pentingnya menuntut ilmu dari kisah Nabiyullah Musa q. Yaitu ketika beliau harus menempuh perjalanan yang jauh utk menemui Nabiyullah Khidhir q yang diberitakan oleh Allah SWT bahwa beliau memiliki ilmu yang tak dimiliki oleh Nabi Musa q. Allah SWT berfirman:
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (Al-Kahfi: 60)
Allah SWT kemudian menyebutkan ucapan Nabi Musa q ketika telah bertemu dengannya di dlm firman-Nya:
Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (Al-Kahfi: 66)
Hadirin rahimakumullah,
Maka cukuplah kisah tersebut memberikan pelajaran bagi kita utk bersemangat dlm menuntut ilmu karena sangat pentingnya & sangat besar kebutuhan kita akan ilmu. Kalaulah ada seseorang yang dibolehkan merasa cukup dari ilmu sehingga tak perlu utk mencarinya apalagi harus dgn menempuh perjalanan jauh, maka Nabi Musa q tentu yang paling pantas utk merasa cukup. Karena beliau adalah orang yang telah dikaruniai ilmu yang banyak oleh Allah l. Namun demikian, beliau tak merasa cukup dgn ilmu yang telah dimilikinya. Hal ini menunjukkan betapa tinggi & besarnya nilai sebuah ilmu.
Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah, bahwasanya disamping bersemangat, seseorang juga harus berhati-hati dlm menuntut ilmu. Karena ilmu itu tidaklah diambil kecuali dari ahlinya. Sehingga dikatakan oleh sebagian para ulama kita:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
Maka sudah semestinya bagi kaum muslimin utk mempelajari agamanya dari para ulama. Karena mereka adalah orang-orang yang menempati kedudukan para nabi dlm menyampaikan agama. Maka sungguh merupakan suatu anggapan yang salah ketika seseorang merasa mampu utk memahami agama ini tanpa bimbingan para ulama, & merasa cukup dgn mempelajari sendiri dari kitab-kitab yang dimilikinya. Begitu pula merupakan suatu kesalahan yang besar ketika seseorang menganggap yang penting kembali kepada Al-Qur’an & hadits (As-Sunnah) dgn mengambilnya sendiri & tak mengambilnya melalui para ulama.
Sungguh telah muncul orang-orang yang meremehkan kedudukan para ulama sehingga mengambil kesimpulan serta menetapkan hukum sendiri dari apa yang dia baca dari Al-Qur’an & hadits. Padahal cara membacanya saja masih banyak yang salah, apalagi memahami kandungannya serta mengambil hukum dari apa yang dia baca. Maka yang demikian ini sungguh sangat berbahaya. Karena utk melakukan itu dibutuhkan perangkat ilmu yang begitu banyak, & hanya para ulama yang benar-benar kokoh ilmunya yang bisa melakukannya. Oleh karena itu, marilah kita berupaya sekuat kemampuan kita utk senantiasa berhati-hati & mengembalikan urusan agama kita kepada ahlinya.
نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعِلْمَ النَّافِعَ وَالْعَمَلَ الصَّالِحَ وَالثَّبَاتَ عَلَى دِيْنِ الْإِسْلاَمِ
Khutbah kedua:
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الرَّبُّ الكَرِيْمُ الأَكْرَمُ، عَلَّمَ القُرْآنَ وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ وَأَعْطَى وَتَكَرَّمَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُرْشِدُ إِلَى السَّبِيْلِ الْأَقْوَمِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَبَارَكَ وَسَلَّمَ، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dgn berpegang teguh dlm menjalankan agama-Nya. Yaitu diawali dgn bersemangat di dlm mempelajari agama Allah SWT dgn mengambilnya dari ahlinya. Sungguh merupakan suatu amalan yang sangat besar ketika seseorang diberi kemudahan utk bisa menghadiri majelis para ulama & mengkhususkan waktunya utk mengambil faedah dari mereka. Bahkan satu majelis ilmu yang didatangi oleh seseorang & dia mendatanginya dgn ikhlas serta dlm rangka mencari kebenaran sehingga kemudian dia mengamalkannya serta mengajarkannya kepada yang lainnya, maka sungguh dia telah memperoleh kebaikan yang sangat besar. Karena dia akan mendapatkan pahala dari amalannya & pahala dari orang-orang yang mengamalkan apa yang dia ajarkan kepadanya. Maka seseorang yang mengkhususkan dirinya utk mempelajari agama Allah SWT tentu lebih banyak lagi keutamaan yang akan diperolehnya.
Namun ketahuilah, hadirin yang semoga dirahmati Allah l, bahwa ilmu yang diperintahkan kita utk mencarinya adalah ilmu syar’i. Begitu pula orang-orang yang dipuji karena memiliki ilmu & yang disebut sebagai ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu syar’i. Yaitu ilmu tentang syariat atau agama Allah SWT yang dibawa oleh utusan-Nya. Hal ini sebagaimana disebutkan dlm hadits Abud Darda z, bahwa Nabi bersabda:
وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dinar, tak pula mewariskan dirham. Akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mendapatkannya maka dia telah mendapatkan bagian yang sangat mencukupi.” (HR. Abu Dawud & yang lainnya, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t)
Adapun ilmu pengetahuan yang berkaitan dgn teknologi, kedokteran, & yang lainnya, meskipun hal itu memiliki manfaat, namun bukanlah ilmu yang disebutkan pujiannya di dlm Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Tanda yang menunjukkan bahwa seseorang diinginkan utk mendapatkan kebaikan dari Allah SWT dgn mendapatkan kenikmatan surga-Nya adalah pahamnya dia terhadap agama Allah l. Hal ini sebagaimana tersebut dlm hadits:
مَنْ يُرِِِِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah inginkan terhadapnya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia terhadap agamanya.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Sehingga ketidakpahaman seseorang terhadap agamanya menunjukkan bahwa dirinya bukan orang yang dikehendaki oleh Allah SWT utk mendapatkan kebaikan, meskipun dia ahli dlm masalah ekonomi, kesehatan, serta ilmu pengetahuan yang lainnya. Bahkan apabila ilmu pengetahuannya tentang dunia tersebut memalingkan dirinya dari mempelajari agama Allah SWT sehingga tak menerima ajaran yang ada di dalamnya, maka dirinya telah tertular sifat orang kafir yang disebutkan dlm firman Allah l:
“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dgn membawa keterangan-keterangan, mereka lebih membanggakan pengetahuan yang ada pada mereka. Maka mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.” (Al-Mu’min: 83)
Akhirnya, mudah-mudahan Allah SWT memberikan taufiq-Nya kepada kita semua sehingga menjadi orang-orang yang paham terhadap satu-satunya agama yang diridhai-Nya, yaitu agama Islam.
Sumber: www.asysyariah.com Majalah AsySyariah Edisi 059